Thursday, March 07, 2013

Nasgor/Mi Khas Kediri

Menyusuri Kampung Nasgor di Ngaglik, Dandangan

Sejak Kanak-Kanak Sudah Tertular Ilmu Kuliner Khasnya

Anda doyan menyantap nasi goreng (nasgor) atau mi goreng khas Kediri? Tahukah Anda dari mana ratusan pedagang nasgor yang memenuhi Jalan Dhoho dan jalan-jalan lain di sepanjang Kota Kediri itu kala malam hari? Cobalah tanya mereka, nanti akan bertemu satu kata kunci: Ngaglik.

Pukul 15.00. Matahari semakin condong ke arah barat. Ansori (38), Suratman (40) dan Fatkur (44) mulai sibuk menyiapkan dagangan. Daging ayam yang sudah direbus sejak pagi ditata rapi di gerobak dorong masing-masing. Ada kepala, sayap, paha dan dada. Juga sayuran berupa sawi hijau, kubis dan tomat. Tak lupa puluhan butir telur ayam. Barang-barang itu di-display di dalam rak kaca, di atas gerobak. Di bawahnya, ada ruang kecil untuk menyimpan nasi dan mi. Ada yang menempatkannya dalam bakul plastik besar, ada pula yang masih menggunakan bakul dari anyaman bambu.

BERANGKAT: Suratman alias Pak Ndut mendorong gerobak nasgornya keluar dari 'gang limas' di Ngaglik, Dandangan kemarin sore

Di bagian depan gerobak, mereka menata aneka bumbu. Ada minyak goreng yang sudah dicampur bawang tumbuk sebagai bumbu khas, garam, merica, penyedap, sambal dari cabai yang digiling atau ditumbuk, hingga kecap manis dan kecap asin.

Sementara, di sebelahnya, ada lubang untuk memasukkan dandang besar yang berisi kaldu dari rebusan daging ayam.

Bahan-bahan untuk memasak siap. Mereka lalu menata piring, sendok dan garpu di dalam laci di bagian bawah gerobak. Juga meja dan kursi untuk pembeli yang digantungkan bodi gerobak dan sebagian dinaikkan ke atap. Setelah mandi, sekitar pukul 16.30, satu per satu mulai keluar dari mulut gang kecil di dekat kompleks pabrik PT Gudang Garam (GG) tersebut.

Gang itu tanpa nama, tapi beberapa orang ada yang menyebutnya gang limas. Di sepanjang gang dengan rumah berimpitan itu, ada sekitar 30 pedagang nasgor dengan gerobak-gerobak dorong khasnya. Dan, gang tersebut bukan satu-satunya. Di banyak gang lain, bahkan pinggir jalan, banyak ditemukan gerobak-gerobak dorong serupa khas pedagang nasgor. Jumlahnya bisa mencapai ratusan.

“Ya kalau boleh dibilang, semua pedagang nasi goreng di Kota Kediri itu asalnya dari sini,” kata Fatkur yang mengaku sudah ikut berjualan nasgor sejak zaman pikulan pada 1977 saat ditemui wartawan koran ini, Sabtu (11/5).

Fatkur dan Suratman merupakan kakak-beradik. Keduanya adalah penerus ayah mereka, almarhum Abdul Manab alias Mbah Gerot. Di antara lima anak lelaki Mbah Gerot yang melanjutkan usahanya, tinggal mereka berdua yang masih bertahan hingga kini. “Dulu saya ikut kakak waktu masih zaman jualan keliling pakai pikulan,” kisah Fatkur.

Fatkur dan Suratman yang memiliki gerobak sendiri-sendiri memilih berjualan di sekitar Jl. S. Parman, Burengan. Ansori di Jl. Mayor Bismo, Semampir. Adapun teman-temannya di gang tersebut ada yang di Jl. Hayam Wuruk, Jl, Brawijaya, Jl. Dhoho, serta jalan-jalan lain di sekitarnya. “Semua menyebar,” imbuh Ansori yang sejak SD sudah sering ikut berjualan di Jl. Dhoho bersama tetangganya itu.

Khusus yang di Jl. Dhoho, para pedagang nasgor itu baru masuk di atas pukul 21.00 setelah toko-toko di sana tutup. Mereka itulah yang berdampingan dengan para pedagang lesehan nasi pecel dan tumpang. Sebelumnya, mereka berjualan menyebar di jalan-jalan kecil di sekitarnya.

Di gang limas yang tembus hingga Jl. Teuku Umar dan gang-gang lainnya, aktifitas pedagang nasgor sudah dimulai sejak pukul 06.00, bahkan lebih pagi. Padahal, mereka biasanya baru pulang berjualan di atas pukul 01.00 dini hari. Ini berarti, mereka hanya punya waktu beristirahat kurang dari lima jam sebelum beraktifitas lagi.

Para enterpreneur kaki lima itu memulainya dengan belanja kebutuhan dagangan di pasar. Terutama ayam dan sayuran berupa sawi hijau dan kubis. Untuk ayam, mereka biasanya membeli di Pasar Banjaran. “Harus ayam kampung,” kata Ansori.

Ayam itu kemudian dibawa pulang untuk disembelih dan dibersihkan bulunya. Karena banyak pedagang nasgor, ada salah seorang yang bekerja sebagai “tukang bubut” di gang tersebut. Dialah yang menerima order membersihkan ayam-ayam yang dibeli para penjual nasgor itu.

Bagi Ansori dkk, keberadaan tukang bubut itu cukup membantu. Memang, ada ongkos yang dibayar untuk setiap ekor. Tapi, itu sepadan dengan penghematan waktu yang bisa mereka dapat. Sebab, saat ayam dibersihkan, mereka bisa mengerjakan yang lain seperti membuat bumbu, membersihkan dan memotong sayuran, atau yang lain. “Kami terima sudah dalam bentuk daging,” terangnya.

Daging ayam itulah yang kemudian direbus. Biasanya dengan daun bawang agar aromanya lebih harum. Air rebusannya lantas menjadi kaldu yang digunakan untuk memasak mi atau sup. Adapun dagingnya yang telah matang ditiriskan, digunakan untuk campuran menu mereka, diiris tipis-tipis.

Ansori memperkirakan, ada sekitar 150 pedagang nasgor yang berasal dari Ngaglik. Sebagian di antaranya lantas pindah tempat tinggal. Terkadang karena menikah, terkadang karena tuntutan untuk mendekati lokasi jualannya. “Tapi, mereka tetap punya keterikatan dengan Ngaglik,” terangnya.

Keterampilan mereka memasak nasgor dan mi khas Kediri itu diperoleh secara otodidak. Ada yang dari orang tua, saudara, maupun tetangga-tetangganya. Seperti Fatkur yang merupakan keturunan Mbah Gerot. Dia justru tidak memperoleh pengetahuan mengolah nasi goreng dan mi goreng itu dari ayahnya langsung, melainkan dari kakaknya. Yaitu, dengan menjadi asistennya terlebih dulu saat masih berjualan keliling dengan pikulan. Setelah kakaknya tidak berjualan, dia yang melanjutkan.

Demikian pula Ansori, sebelum berjualan sendiri tujuh tahun terakhir, dia sempat menjadi asisten Edi Pramono, teman sekaligus tetangganya yang lebih dulu berkiprah sebagai PKL nasgor. Apalagi, sejak SD dia sudah sering ikut-ikutan membantu tetangganya berjualan hingga ke Jl. Dhoho. Sehingga, tanpa disadari, ilmu kuliner khas Kediri itu sudah meresap di buluh nadinya sejak masih kecil.

Padahal, sebelum itu, Ansori sempat bekerja di beberapa tempat. Mulai distributor makanan anak-anak hingga menjalankan armada angkutan milik keluarganya sendiri. Itu juga terjadi pada Suratman alias Pak Ndut yang sebelumnya sempat berjualan sandal.

Namun, Ngaglik sebagai kampung kuliner nasgor khas Kediri tampaknya memanggil alam bawah sadar mereka. Darah enterpreneur tangguh PKL nasgor mengalir deras di tubuhnya. Merekalah yang diakui atau tidak, ikut menggerakkan perekonomian riil Kota Kediri. Bahkan ikut membuat kota ini terkenal hingga ke luar karena kuliner nasgor dan mi goreng khasnya.

Resep Asli Kediri Berusia Seabad Lebih

Sejak kapan sebenarnya kuliner nasi goreng (nasgor) dan mi goreng khas Kediri itu muncul? Tak ada yang mengetahui pasti. Namun, sejumlah sumber di Ngaglik memperkirakan sudah ada sejak zaman penjajahan.

Sardjan (75), salah satu pedagang nasgor paling senior di Ngaglik yang masih aktif hingga kini, mengaku sudah berjualan sejak 1963. Tepatnya setelah menikah dengan Rusmi (65).

Dia mengawalinya dengan menjadi asisten orang lain, yaitu almarhum Mbah Mayar. “Yang membantu Pak Mayar banyak, salah satunya saya,” kisahnya saat ditemui Radar Kediri di rumahnya, Sabtu (11/5) lalu.
Mbah Mayar adalah salah satu tokoh pedagang nasgor khas Kediri. Yang seangkatan dengannya dan namanya masih menjadi trade mark hingga kini adalah Mbah Riman alias Mbah Man.

Sardjan ikut membantu dengan membawa pikulannya keliling Kota Kediri. Dulu, dia bisa berjualan di kawasan pecinan, sekitar Jl. Pattimura dan Jl. Yos Sudarso (Kelenteng Tjoe Hwie Kiong). “Yang membantu Pak Mayar banyak, salah satunya saya,” lanjut dia.

Berbeda dengan sekarang yang menggunakan gerobak dorong, dulu para pedagang nasgor harus mengangkut dagangannya dengan pikulan. Pikulan sebelah kanan berisi blek atau kaleng bekas berisi kuah dan angklo atau tungku tanah. Sedangkan, pikulan sebelah kiri berisi daging ayam, sayuran, bumbu-bumbu, nasi, serta mi siap masak. “Dulu kuah masih disimpan di blek bekas wadah minyak goreng, bukan dandang seperti sekarang,” ungkap Sardjan.

Berat seluruh barang yang harus dipikul keliling itu sekitar 60 kilogram. Meski sudah terbiasa, diakuinya, terkadang terasa berat juga. Pada 1969, setelah memiliki anak, Sardjan mulai berjualan sendiri. Tapi, tetap dengan pikulan.

Baru sekitar 1975 dia bisa berjualan dengan gerobak dorong. Itu pun gerobak bekas jualan bubur kacang hijau dari mertuanya. “Tahun-tahun itu, rombong (gerobak dorong, Red) masih sangat jarang. Wong tahun itu untuk mencari baut kayunya saja di Kediri tidak ada,” tuturnya yang kini berjualan dengan gerobak dorongnya di depan Rumah Sakit (RS) Bhayangkara.

Baru pada 1980-an gerobak dorong bermunculan. Pikulan pun ditinggalkan karena berat. “Pakai rombong lebih praktis. Tinggal mendorong,” sambungnya. Ada tukang khusus yang bisa membuatnya.

Akan tetapi, bentuk pikulan itu masih ada yang mempertahankannya. Hanya, tidak lagi dibawa keliling. 
Melainkan sekedar sebagai ‘aksesoris’ di warungnya yang telah menetap. Hal itu antara lain bisa dilihat di warung Pak Temon di kawasan ‘cemoro’ dekat kompleks pabrik PT Gudang Garam (GG) atau di warung milik Sriatun (64), di Dandangan.

Sriatun adalah keponakan Mbah Riman yang menjadi salah satu penerusnya. “Mbah Riman sendiri tidak punya anak,” ungkapnya. Dulu, Mbah Riman alias Mbah Man berjualan di Jl. Stasiun. Setelah Mbah Riman meninggal pada 1980-an, usahanya diteruskan sang istri. Tapi, sang istri memilih buka warung sendiri di rumahnya, Dandangan. Adapun yang di Jl. Stasiun diteruskan oleh orang-orang yang dulu membantunya. “Setelah Mbah Riman putri meninggal, ganti saya sekarang yang melanjutkan,” lanjutnya.

TRADISIONAL: Sriatun, penerus Mbah Riman, yang mempertahankan pikulan di warung nasi/mi gorengnya di Dandangan.
 Mbah Riman atau Mbah Mawar sudah berjualan nasi goreng sejak 1950-an. Namun, keduanya bukanlah tokoh yang ‘babat’ usaha kuliner nasi dan mi goreng khas Kediri. Mereka juga belajar dari orang lain. “Pak Riman pendatang yang belajar ke mbah saya, Mbah Kusnadi. Mbah saya dulu punya banyak pikulan yang dijalankan orang lain, salah satunya Pak Riman,” tutur Sriatun.

Ini dibenarkan oleh Edi Pramono, anak Mbah Mayar, yang kini juga berjualan nasgor di belakang Hotel Penataran. Menurut dia, ayahnya bukanlah generasi awal kuliner nasi goreng khas Kediri. “Dulu, bapak belajar dari mbah saya, Mbah Urip dan Mbah Singokarso. Bersama pakde saya, Pak Moyong,” jelas warga Ngaglik ini.

Padahal, lanjut Edi, ayahnya sendiri konon kelahiran 1912. “Nah, dari mana mbah saya itu belajar, saya sudah tidak tahu. Tapi, yang jelas, sejak zaman penjajahan Belanda maupun Jepang, ayah dan mbah saya sudah jualan nasi goreng,” lanjut dia.

Panijan (75), warga Ngaglik lainnya, membenarkan hal itu. sebab, dia pernah ikut jualan bersama Mbah Moyong pada 1940-an. Tepatnya saat agresi militer Belanda ke Indonesia. “Saya ditembaki Belanda itu ya waktu ikut jualan di Pasar Pagu bersama Pak Moyong,” kisahnya.

Sepanjang waktu tersebut, setahu Panijan, resep khas nasi dan mi goreng itu ya berasal dari orang-orang Kediri sendiri seperti Mbah Mayar atau Mbah Moyong dan generasi sebelumnya. Bukan dari resep Tiongkok, misalnya, yang juga terkenal dengan aneka olahan mi-nya. “Seumur hidup saya, yang namanya nasi goreng dan mi goreng Kediri itu bumbunya ya begini ini,” tandasnya saat ditemui di tempat jualan Edi. Ya, resep yang boleh jadi sudah berusia lebih dari seabad hingga sekarang. Resep asli Kediri!

Dulu kalau Mau Tambah Telur Harus ‘Nggegem’ Sendiri

Bagi orang luar, sangat jelas perbedaan nasi/mi goreng Kediri dengan menu serupa dari daerah lain. Coba saja lihat dari tungkunya. Hingga kini, para penjualnya tetap mempertahankan tungku dari tanah liat dengan bahan bakar arang. Bukan kompor minyak atau kompor gas.

Arang di atas tungku itulah yang dikipasi dengan kipas tradisional dari anyaman bambu. Meskipun, sejak beberapa tahun lalu, banyak yang beralih ke kipas elektrik hasil modifikasi sendiri. Memasaknya juga satu-satu, tidak massal. “Sekali masak hanya untuk satu porsi,” jelas Ansori (38), pedagang nasgor asal ‘gang limas’ Ngaglik.

Makanya, jika ada pesanan delapan porsi sekaligus, berarti harus delapan kali memasak. Tapi, justru itu yang menjadi salah satu kunci kelezatan kuliner khas Kediri ini. Sebab, dengan sekali masak untuk satu porsi, menu yang disajikan selalu fresh. Takaran bumbunya pun selalu pas. Bahan bakar arang juga membuat aromanya khas.

Cara pembuatan bumbunya pun berbeda. Mungkin, dengan menu daerah lain, sama-sama menggunakan bawangnya. Akan tetapi, untuk nasi/mi goreng Kediri, bawangnya tidak digeprek langsung. Melainkan, ditumbuk lalu dicampurkan ke dalam minyak goreng. Minyak yang mengeluarkan bau harum itulah yang kemudian digunakan memasak. “Bawangnya jangan diblender atau digiling. Baunya akan hilang,” beber Fatkur (44).

Dan, ini yang membuat tampilan nasi goreng Kediri berbeda dengan yang lain. Yakni, tidak menggunakan saus tomat, melainkan kecap manis. Itu pun hanya sedikit -meski belakangan ada pula yang menggunakan takaran lebih banyak sesuai selera. Makanya, warnanya tidak merah, melainkan kecokelatan.

Sementara, mi-nya merupakan mi gepeng berukuran besar-besar. Bukan mi keriting. Mi itu diproduksi oleh pabrik di Kota Kediri sendiri. “Kalau saya ke Kediri, yang paling saya rindukan ya nasi goreng dan mi-nya,” aku Abdul Aziz (40), pengusaha asal Blitar, yang ditemui wartawan koran ini dini hari, pekan lalu. Bersama teman-temanya dari berbagai kota, jika sedang ke Kediri, dia sering mampir Jl. Dhoho untuk menikmati kuliner tersebut. Tak jarang dia memesan dua porsi sekaligus seperti dini hari itu.

TUNGKU ARANG: Ansori memasak nasgor pesanan
 Sardjan (75), menuturkan, tak banyak perubahan dari nasi dan mi goreng Kediri sejak pertama kali dia berjualan pada 1960-an. Bumbu utamanya tetap sama. Yang berubah hanya modifikasinya. Salah satunya soal telur. “Sampai 1980-an, jarang yang menggunakan telur,” tuturnya.

Maklum, hingga dekade itu, telur masih menjadi  barang mewah bagi orang kebanyakan. Hanya orang mampu yang bisa mengonsumsinya. “Dulu, kalau mau tambah telur ya bawa sendiri. Biasanya ya orang-orang China itu. Telurnya digegem (digenggam, Red), terus diserahkan ke saya untuk ikut dimasak,” kisah Sardjan.

Lalu, apa gantinya telur untuk pesanan yang  ‘standar’? Ayah tujuh anak dan kakek sembilan cucu ini menyebut perkedel. Tapi, bukan perkedel kentang, melainkan perkedel ketela. Bukan untuk lauk, melainkan untuk diiris-iris, lalu dicampurkan ke dalam mi atau sup sebagai campuran bumbu. “Gurihnya dari perkedel itu,” bebernya.

Tak Lekang dengan Regenerasi Alamiah

Sebagai kuliner khas yang sudah tahan uji, usia bisnis nasi/mi goreng Kediri yang termasuk kelompok usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM) ini masih sangat panjang. Apalagi melihat gairah generasi muda di Lingkungan Ngaglik, Dandangan yang tak pernah sepi dari bisnis ini.

Tokoh-tokoh seniornya pun sudah mendidik keturunannya hingga usaha itu terus berkembang dan berkelanjutan. Bahkan, banyak di antara mereka yang kemudian mendirikan cabang di luar kota dan luar pulau dengan label: Nasi/Mi Goreng Khas Kediri.

SENIOR: Sardjan dengan gerobak dorongnya
Seperti Sardjan (75), dari keenam anaknya yang masih hidup (seorang meninggal, Red), ada tiga yang membuka usaha serupa. “Satu di Katang (Kediri, Red), satu di Surabaya, satu lagi di Sumatra,” ungkapnya. Ketiga anaknya itu menggunakan resep serupa dari Sardjan. Seorang lagi memilih berjualan mi pangsit, berbeda dengan ayahnya.

Hal serupa dilakukan Sriatun (64), penerus nasgor Mbah Riman. Anak perempuannya membuka cabang di Malang. “Ramai juga di sana, bahkan lebih ramai daripada di sini,” katanya. Sebagian bumbu dan bahannya diambil langsung dari Kediri. Termasuk, mi gepeng berukuran besar yang memang diproduksi di Kediri. Mi itulah yang khas pada mi goreng Kediri. “Kalau pulang sampai harus bawa mobil boks untuk kulakan mi-nya,” ucap Sriatun bangga.

Sriatun memang pantas berbangga. Anaknya yang mantan vokalis band Kediri itu sebenarnya  juga sudah bekerja di bank. Akan tetapi, justru dari usaha kuliner warisan tersebut ekonominya berputar lebih cepat. “Katanya, dari mana bisa beli mobil kalau tidak jualan nasi goreng,” tuturnya.

Memang, dengan ratusan pedagang mi/nasi goreng di Ngaglik, Dandangan, omset yang berputar dari usaha itu bisa mencapai puluhan juta semalam. Mereka ikut menggerakkan roda perekonomian di sekitarnya. Mulai dari pedagang sayuran, pedagang telur, hingga pedagang ayam.

Beberapa pebisnis besar yang jeli, ikut menggandeng mereka. Misalnya untuk minumannya. Maklum, jika semalam satu pedagang bisa menghabiskan satu krat saja, sudah ratusan krat minuman terjual tiap malam. “Padahal, ada yang bisa habis sepuluh krat semalam,” ungkap Fatkur.

Dengan potensi yang sedemikian besar, sebenarnya Fatkur dan banyak pedagang lain berharap, pemerintah mempunyai program nyata untuk mereka. Salah satunya menyediakan tempat khusus untuk sentra kuliner nasi/mi goreng Kediri. “Seperti soto ayam buk ijo di terminal itu,” harapnya.

Monday, February 20, 2012

satu lagi dari ....

"Ga bisa, Mas. Kalau kelamaan, nanti malam-malam. Kasihan yang sekolah."
Aku cuma bisa tersenyum mendengar penjelasan dari orang yang berdiri di depanku. Tidak perlu hitungan detik untuk mengingat kembali kalimat "Tutupnya sampai habis pengunjung, Mas." saat pertama kali aku datang ke tempat itu.
Jadi, dimana letak kejanggalannya disini?
Sambil duduk, kupandangi layar. Ah, kutulis aja. Lumayan buat nambahin artikel.
...
...
...
Kaya' gini kok kota mau maju...
Tak sadar, aku teringat seseorang. Seseorang yang mengajarkan tentang apa itu konsistensi. ^_^ Mempertahankan memang lebih sulit daripada meraih. Namun, seseorang itu mampu membuat apa yang harus dipertahankan menjadi lebih mudah.
Salut deh, Mas. Disini masih belum ada yang -menurutku- menandingi durability L*c*Comp. Ibarat kaskuser, "kasih cendol" ah.... :-)

Dan laiknya apa yang seperti yang diajarkannya padaku.
Ini yang terakhir aku melihat tempat ini. Semoga.

Tuesday, November 08, 2011

Narkoba

Tanda-tanda Kemungkinan Penyalahgunaan Narkotika dan Zat Adiktif

Fisik

  • berat badan turun drastis
  • mata terlihat cekung dan merah, muka pucat, dan bibir kehitam-hitaman
  • tangan penuh dengan bintik-bintik merah, seperti bekas gigitan nyamuk dan ada tanda bekas luka sayatan. Goresan dan perubahan warna kulit di tempat bekas suntikan
  • buang air besar dan kecil kurang lancar
  • sembelit atau sakit perut tanpa alasan yang jelas

Emosi

  • sangat sensitif dan cepat bosan
  • bila ditegur atau dimarahi, dia malah menunjukkan sikap membangkang
  • emosinya naik turun dan tidak ragu untuk memukul orang atau berbicara kasar terhadap anggota keluarga atau orang di sekitarnya
  • nafsu makan tidak menentu

Perilaku

  • malas dan sering melupakan tanggung jawab dan tugas-tugas rutinnya
  • menunjukkan sikap tidak peduli dan jauh dari keluarga
  • sering bertemu dengan orang yang tidak dikenal keluarga, pergi tanpa pamit dan pulang lewat tengah malam
  • suka mencuri uang di rumah, sekolah ataupun tempat pekerjaan dan menggadaikan barang-barang berharga di rumah. Begitupun dengan barang-barang berharga miliknya banyak yang hilang
  • selalu kehabisan uang
  • waktunya di rumah kerapkali dihabiskan di kamar tidur, kloset, gudang, ruang yang gelap, kamar mandi, atau tempat-tempat sepi lainnya
  • takut akan air. Jika terkena akan terasa sakit, karena itu mereka jadi malas mandi
  • sering batuk-batuk dan pilek berkepanjangan
  • sikapnya cenderung jadi manipulatif dan tiba-tiba tampak manis bila ada maunya, seperti saat membutuhkan uang untuk beli obat
  • sering berbohong dan ingkar janji dengan berbagai macam alasan
  • mengalami jantung berdebar-debar
  • sering menguap
  • mengeluarkan air mata dan keringat berlebihan
  • sering mengalami mimpi buruk
  • mengalami nyeri kepala dan sendi-sendi

Komunikasi Orangtua – Anak Mencegah Penyalahgunaan Alkohol
dan Obat-obatan

Di bawah ini adalah beberapa tips dasar untuk meningkatkan kemapuan diskusi dengan anak-anak Anda tentang alkohol dan obat-obatan terlarang:
  • Jadilah pendengar yang baik.
  • Sediakanlah waktu untuk mendiskusikan hal-hal yang sensitif.
  • Berikanlah dorongan.
  • Sampaikan pesan dengan jelas.
  • Berilah contoh yang baik.
Tips berkomunikasi dengan anak:

Mendengarkan

  1. Berikan perhatian penuh
  2. Jangan memotong pembicaraan anak. Biarkan sang anak berbicara dan kemudian menanyakan tanggapan Anda.

Memperhatikan

  1. Perhatikan ekspresi/mimik muka dan bahasa tubuh anak.
  2. Sepanjang diskusi dengan anak Anda ini berlangsung, perhatikan apa yang dikatakannya.

Menanggapi

  1. “Saya sangat tertarik dengan ……” atau “Saya mengerti bahwa hal itu memang sangat sulit ……” adalah ungkapan yang lebih baik dibandingkan: “Seharusnya kamu ……” atau “Kalau saya seperti kamu ……” atau “Waktu saya seumur kamu, saya ……”
  2. Jika anak Anda menyampaikan hal-hal yang sesungguhnya tidak ingin Anda dengar, jangan diabaikan.
  3. Janganlah memberikan nasihat setelah setiap kalimat yang anak Anda nyatakan.
  4. Yakinkan bila Anda mengerti apa yang dimaksud oleh anak Anda. Bila perlu, tanyalah untuk konfirmasi.

Pengobatan Narkoba:
  1. Pengobatan adiksi (detoks)
  2. Pengobatan infeksi
  3. Rehabilitasi
  4. Pelatihan mandiri

Pencegahan Narkoba:
  1. Memperkuat keimanan
  2. Memilih lingkungan pergaulan yang sehat
  3. Komunikasi yang baik
  4. Hindari pintu masuk narkoba, yaitu rokok.

Pertolongan Pertama

Pertolongan pertama penderita dimandikan dengan air hangat, minum banyak, makan makanan bergizi dalam jumlah sedikit dan sering dan dialihkan perhatiannya dari narkoba. Bila tidak berhasil perlu pertolongan dokter. Pengguna harus diyakinkan bahwa gejala-gejala sakaw mencapai puncak dalam 3-5 hari dan setelah 10 hari akan hilang.

Empat Cara Alternatif Menurunkan Resiko atau “Harm Reduction”

  1. Menggunakan jarum suntik sekali pakai
  2. Mensucihamakan (sterilisasi) jarum suntik
  3. Mengganti kebiasaan menyuntik dengan menghirup atau oral dengan tablet
  4. Menghentikan sama sekali penggunaan narkoba

Wednesday, November 02, 2011

Antara Ngayogyakarta-Surakarta

“Kalau saya, terserah masyarakat Jogja. Tanya mereka, maunya seperti apa.” Begitu jawaban Gubernur Daerah Istimewa Jogjakarta (DIJ) Sri Sultan Hamengku Buwono X setiap kali ditanya tentang polemik RUU Keistimewaan Jogjakarta yang belakangan kembali menghangat dan menjadi isu nasional.

Bukan tanpa alasan bila sultan selalu menjawab demikian setiap kali ditanya soal perkembangan RUU yang menjadi bola liar setelah Presiden SBY menyinggung sistem monarki itu. Raja Kesultanan Ngayogyakarta Hadiningrat itu ingin meletakkan persoalan ke proporsi bahwa rakyat Jogja-lah yang akhirnya punya hak untuk memilih gubernur dan wakil gubernur DIJ melalui penetapan (otomatis sultan dan paku alam) atau pemilihan kepala daerah (pilkada) langsung.

Kenapa? Sebab, berbicara tentang Jogjakarta tentu berbicara tentang budaya. Termasuk, budaya yang melingkupi sistem pemerintahan di kesultanan tersebut. Termasuk pula, budaya yang melatarbelakangi ijab kabul (pernyataan serah terima) bergabungnya Kesultananan Ngayogyakarta Hadiningrat ke pangkuan NKRI pada pemerintahan Soekarno (1945)-yang berkonsekuensi penentuan pengisi jabatan gubernur dan wakil gubernur DIJ lewat penetapan, bukan pemilihan.

Masyarakatlah pemilik absolut sebuah budaya. Kalau memang rakyat Jogja ingin mempertahankan budaya, termasuk sultan dan paku alam otomatis menjadi gubernur dan wakil gubernur DIJ, berarti itulah yang dikehendaki rakyat Jogja. Begitu pula bila rakyat Jogja ingin gubernur dan wakil gubernur dipilih melalui pilkada.

Penetapan Masih Ideal?

Apa keistimewaan Provinsi DIJ? Salah satu yang paling menonjol dan tidak ada di daerah lain memang terkait dengan posisi gubernur dan wakil gubernur yang dijabat Sri Sultan HB X sebagai raja kesultanan dan Paku Alam IX sebagai raja Pakualaman. Karena gubernur dan wakil gubernur sekaligus raja dan patih di Provinsi DIJ itu, dalam momen-momen tertentu dua pemimpin daerah tersebut kerap berkomunikasi dengan masyarakat lewat tradisi turun-temurun ala keraton.

Pun, itu terbukti efektif. Meskipun, saat berkomunikasi tersebut posisi raja dan gubernur kadang sulit dipisah karena melekat pada satu figur. Cara berkomunikasi itu juga tidak menghalangi maupun menjadi hambatan atau kendala berjalannya roda pemerintahan di Provinsi DIJ meskipun gubernurnya seorang raja. Deretan prestasi Provinsi DIJ juga tidak kalah jika dibandingkan dengan provinsi lain.

Belum lagi bicara tentang anggaran bila gubernur dan wakil gubernur DIJ ditentukan melalui pemilihan. Hampir pasti dana APBD Jogja tersedot ratusan miliar rupiah hanya untuk memilih gubernur dan wakil gubernur. Pun, sudah cukup banyak bukti mahalnya hajatan politik seperti pilkada yang pada akhirnya hanya memunculkan gubernur, bupati, dan walikota korup.
Pilkada langsung di Jogjakarta hanya akan membuat kekhawatiran soal tidak kondusifnya Jogjakarta, seperti halnya ketika Belanda mengacak-acak keraton dengan politik devide et impera yang membuat wilayah Ngayogyakarta Hadiningrat terbelah menjadi kesultanan dengan Sri Sultan sebagai raja dan Kadipaten Pakualaman dengan paku alam selaku raja.

Kekhawatiran pemerintah pusat, bila gubernur dan wakil gubernur DIJ ditentukan melalui penetapan, bisa muncul gubernur yang terlalu sepuh alias tua dan yang masih muda karena sosok raja kesultanan dan Pakualaman. Sebenarnya, kemungkinan itu bisa diantisipasi lewat RUU DIJ tersebut. Kompromikan atau cari jalan tengah saja aturan pada salah satu klausul RUU DIJ itu: Sultan ditetapkan sebagai gubernur bila usianya sudah mencapai sekian atau otomatis tidak menjadi gubernur jika usianya sudah sekian maupun sakit permanen sehingga perlu pelaksana tugas (Plt) atau opsi lain.

Benteng Terakhir


Berbicara tentang Jogjakarta tentu tidak lepas dari Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat, yang tidak lain trah dinasti Kerajaan Mataram. Bisa dikatakan, itulah provinsi yang juga simbol dari kerajaan yang masih eksis setelah Mataram terbelah menjadi dua karena perjanjian Giyanti pada 1755. Yakni, Kasunanan Surakarta (Keraton Solo) di bawah pimpinan Paku Buwono dan Kesultanan Ngayogyakarta (Keraton Jogja) di bawah mangkubumi yang bergelar Hamengku Buwono.

Memang banyak faktor yang melatarbelakangi nasib dua keraton tersebut. Tentu tidak semata-mata karena penetapan raja Ngayogyakarta otomatis menjadi gubernur DIJ dan raja Kasunanan Surakarta Hadiningrat tidak otomatis menjadi wakil kota Surakarta atau Solo. Tentu bukan faktor itu pula yang membuat Keraton Jogja masih eksis dan moncer jika dibandingkan dengan nasib Keraton Surakarta yang didera konflik berkepanjangan sehingga memunculkan dua raja (Hangabehi dan Tedjowulan)-yang mengakibatkan aura keraton tersebut kian redup.

Juga bukan faktor penetapan raja menjadi kepala daerah yang mengakibatkan nama Surakarta kalah populer oleh Solo. Padahal, Solo itu ya Surakarta. Surakarta itu ya Solo. Nama Surakarta yang sebenarnya merupakan cikal bakal nama trah dinasti Mataram tersebut kini hanya semakin bermakna administratif-formal. Sementara itu, nama Solo lebih bermakna kultural sehingga lebih populer. Kini eksistensi Kasunanan Surakarta Hadiningrat kian terancam dan hanya benar-benar menjadi tetenger budaya.

Artinya, kalau kita memang bangsa yang menghargai sejarah dan berusaha melestarikan budaya adiluhung itu, jangan hanya karena alasan demokrasi, lantas mengingkari sejarah dan mengacak-acak panatakrama yang sudah tertata apik dan istimewa tersebut. Kecuali, memang pelan-pelan kita rela bahwa tidak ada keistimewaan yang menonjol pada provinsi yang baru saja dihajar wedhus gembel Merapi itu. (*)

Friday, September 16, 2011

Nyanyian Malam

Selentingan tentang Jebris kian meluas. Seperti bau terasi terbakar, selentingan itu menyusup ke setiap rumah di pojok dusun itu. Kini rasanya tak seorang pun yang tinggal di sana belum tahu bahwa Jebris sudah jadi pelacur. Maka orang berkata, Jebris seorang janda beranak satu, telah menghidupkan kembali aib lama, aib pojok dusun itu yang dikenal sebagai tempat kelahiran pelacur-pelacur.

Itu dulu. Dan sejak beberapa tahun belakangan orang sepakat mengakhiri aib seperti itu. Di pojok dusun itu kini sudah berdiri sebuah surau yang seperti demikian adanya, terletak hanya beberapa langkah dari rumah Jebris. Di sana juga sudah ada rukun tetangga dengan seksi pembinaan rohani. Para perempuan sering berhimpun dalam pertemuan atau arisan. Dalam kesempatan seperti itu, selalu ada acara ceramah pembinaan kesejahteraan keluarga atau pengajian. Tetapi siapa saja boleh bersaksi bahwa kepelacuran Jebris makin mapan saja. Tiap sore Jebris naik bus ke daerah batas kota, sekitar terminal, yang pada malam hari menjadi wilayah mesum. Menjelang matahari terbit, Jebris sudah berada di rumah karena dia selalu menumpang bus paling awal.
Orang bilang, sebenarnya Jebris sudah beberapa kali mendapat peringatan. Ia pernah didatangi seorang hansip yang memberinya nasihat banyak-banyak. Mendengar nasihat itu, demikian orang bilang, Jebris mengangguk-angguk dan dari mulutnya terdengar “ya, ya”. Jebris juga menghidangkan kopi untuk Pak Hansip. Tetapi ketika menghidangkan minuman itu, Jebris hanya bepinjung kain batik, tanpa kebaya, dan rambut tergerai. Kata orang, Pak Hansip tak bisa berkata sepatah kata pun dan langsung pergi.

Cerita lain mengatakan, ketua RT juga pernah mendatangi Jebris. Seperti Pak Hansip, ketua RT pun banyak memberi nasihat agar Jebris berhenti melacur. Ketika mendengar nasihat ketua RT, Jebris juga mengangguk-angguk. Dari mulutnya juga terdengar “ya, ya”. Tetapi sore hari Jebris kembali berangkat naik bus terakhir dan pulang menjelang pagi dengan bus pertama. Atau seperti dibisikkan oleh orang tertentu, sesungguhnya tak pernah ada hansip atau pengurus RT yang mencoba menghentikan Jebris. Mereka, para hansip dan sebagian pengurus RT, adalah sontoloyo yang sebenarnya tidak keberatan Jebris menjadi pelacur.
Di pojok dusun itu mungkin hanya Sar, istri Ratib, yang benar-benar sedih melihat Jebris. Sar dan Jebris bertetangga sejak bocah, bahkan sampai sekarang pun mereka tinggal sepekarangan, hanya terpisah oleh surau itu, surau yang dipimpin oleh Ratib, suami Sar. Selain menjadi imam surau, Ratib juga menjadi ketua seksi pembinaan rohani dalam kepengurusan RT. Maka ada orang bilang, kepelacuran Jebris mencolok mata Ratib, suami Sar.

Karena tak punya sumur sendiri, setiap hari Jebris menggunakan sumur keluarga Sar. Bahkan tidak jarang Jebris mencuri-curi membersihkan badan di kamar mandi Sar. Bila hendak pergi menjajakan diri, Jebris menunggu bus tepat di depan rumah Sar karena rumahnya tak punya gang ke jalan besar. Lalu sering terjadi Jebris berpapasan dengan anak-anak yang mau mengaji di surau menjelang magrib dan bertemu lagi dengan anak-anak itu lepas subuh.

Sampai demikian jauh, Sar masih bisa menahan kesedihannya. Sar tetap menyokong Jebris dengan beberapa rantang beras jatah setiap bulan. Sar tidak akan lupa, bagaimanapun keadaan Jebris, dia adalah teman sejak anak-anak. Banyak sekali pengalaman masa kecil bersama Jebris yang tak mudah terlupa. Memang, ulah Jebris acapkali merupakan ujian yang lumayan berat bagi kesabaran Sar. Jebris nakal. Dia suka mengambil sabun atau deterjen. Jebris malah sering juga mengambil pakaian dalam Sar yang sedang dikeringkan. Hati Sar selalu kecut bila membayangkan pakaian dalamnya dikenakan Jebris. Dan Sar merinding bila mengingat suatu ketika pakaian dalam yang melekat pada tubuh Jebris digerayangi tangan bajul buntung. Dan Sar harus menghadapi ujian terberat ketika suatu hari datang seorang lelaki asing. Lelaki itu mengajak Sar pergi berkenan, karena dia mengira Sar adalah Jebris.

Boleh jadi Sar akan tetap bertahan dalam kesabarannya apabila di pojok dusun itu tidak berkembang selentingan baru. Orang bilang, Jebris tidak hanya menjajakan diri di tempat mesum sekitar terminal. Diam-diam Jebris sudah berani menerima lelaki di rumahnya yang hanya beberapa langkah dari surau dan dekat sekali dengan rumah Sar. Kabar terbaru ini membuat Sar harus bicara, paling tidak kepada Ratib, suaminya.

“Kang Ratib, kata orang, keberkahan tidak akan datang pada empat puluh rumah di sekitar tempat mesum. Apa iya, Kang?”
“Ya, mungkin.”
“Kalau begitu hidup kita tidak bisa berkah, ya Kang?”
“Maksudmu selentingan terbaru tentang Jebris?”

Sar menggangguk. Ratib menarik napas panjang. Sar menunggu tanggapan suaminya, tetapi Ratib hanya menjawab dengan senyum. Sar terpaksa ikut tersenyum. Senyum keduanya kaku dan terasa buntu. Sar ingin berkata sesuatu, namun kemudian sadar bahwa di dalam kepalanya tidak ada gagasan apa pun. Yang kemudian datang malah kenangan masa anak-anak bersama Jebris. Ketika bocah, tubuh Jebris seperti Mendol; gemuk dan putih. Betisnya penuh. Karena gemas, Sar sering mencubit pantat Jebris yang berwajah agak bloon, tetapi pandai mencatut karet gelang milik Sar. Anehnya, Sar tak mau berpisah dengan Jebris karena sebagai teman bermain Jebris setia dan patuh.

Sar juga sering menemani Jebris menunggu ayahnya pulang dari hutan jati. Selain membawa sepikul kayu bakar, ayah Jebris selalu membawa seikat kacang lamtoro. Keluarga Jebris menggunakan lamtoro sebagai lauk. Jadi, Sar dulu sering bertanya kepada Jebris, “Makan nasi kok pakai lauk biji lamtoro. Apa enak?” Jawaban Jebris selalu sama, “Enak, asal jangan disertai ikan asin sebab cacing di perut bisa keluar. Saya takut cacing.”

Emak Jebris penjual gembus, kue singkong yang digoreng dan berbentuk gelang. Ada sebuah gubuk di pinggir jalan. Di situlah emak Jebris tiap malam menggoreng gembus dan langsung dijajakan. Jebris senang menemani emaknya berjualan hingga larut malam, karena selalu ada lelaki pembeli gembus yang memberinya uang receh. Bila sudah terasa ngantuk, Jebris berbaring di balai-balai kecil di belakang emaknya. Dan menit-menit sebelum terlelap adalah saat yang mengesankan bagi Jebris. Ia sering mendengar emaknya bergurau, berseloroh, bahkan cubit-cubitan dengan lelaki pelanggan. Suatu kali, ayahnya datang ketika emaknya sedang berpegangan tangan dengan seorang pembeli. Tetapi emaknya tenang saja, ayahnya hanya menundukkan kepala.

Sar dan Jebris bersama-sama masuk Sekolah Rakyat. Tetapi Jebris hanya bertahan selama dua tahun. Jebris keluar setelah emaknya meninggal. Pada usia 16 tahun, Jebris kawin dengan seorang pedagang yang membuka kios kelontong dekat terminal. Jebris diboyong dan harus menyesuaikan diri dengan gaya hidup suaminya yang nyantri. Setiap hari Jebris mengenakan kebaya panjang dan kerudung. Gelang dan kalung emasnya besar. Pada tahun kedua, Mendol lahir. Orang bilang, Jebris adalah anak yang beruntung.
Orang juga bilang bahwa Jebris adalah anak yang mujur ketika mereka melihat ibu muda itu mulai dipercaya menjaga kios suaminya yang lumayan besar. Namun, satu tahun kemudian, sudah terdengar selentingan bahwa dalam berdagang Jebris meniru emaknya. Jebris akrab dan hangat terhadap supir, kernet-kernet dan tukang-tukang ojek. Kiosnya selalu meriah oleh irama musik gendang dan tawa anak-anak muda. Lalu Jebris kedapatan menghilang bersama Gombyok, tukang ojek yang langsing dan berkulit manis. Ketika itu pun orang bilang, “Tidak heran, Jebris meniru emaknya penjual gembus itu. Apa kamu tidak tahu gembus bisa berarti macam-macam?”

Jebris kembali ke rumah ayahnya karena diceraikan oleh suaminya. Orang bilang, keberuntungannya telah berakhir. Sar yang menjadi tetangga dekat sangat merasakan kebenaran apa yang dibilang orang. Jebris kelihatan sangat berat menghidupi diri, anak serta ayahnya sudah sakit-sakitan karena dia tak punya penghasilan apa pun. Jebris pernah mengadu untung ke kota, namun segera pulang karena katanya, tak tega meninggalkan Mendol serta ayah yang sudah lebih banyak tergeletak di balai-balai. Sar yang sudah menjadi guru setiap bulan menyokong Jebris dengan beberapa rantang beras jatah. Tetapi Sar tahu apalah arti sokongan itu bagi kehidupan Jebris.

“Kang Ratib, kamu kok diam sih?” tanya Sar.

Ratib mengerutkan kening. Sambil menggendong tangan, Ratib berjalan berputar-putar. Mungkin dia akan mengucapkan sesuatu ketika dia berhenti dan menghadap Sar. Namun, pada saat yang sama terdengar suara langkah diseret-seret diiringi bunyi tongkat menginjak tanah. Ratib berpaling dan berjalan menuju pintu. Setelah pintu dibuka, Ratib berhadapan dengan seorang kakek yang sangat lusuh dan lemah. Ayah Jebris. Wajahnya sangat pasi, kedua kakinya bengkak dan bibirnya gemetar. Ratib menyilakan ayah Jebris masuk, tetapi lelaki tua itu menolak. Dia memilih berdiri di samping pintu bertelekan pada tongkatnya. Napasnya masih tersengal ketika dia mulai bicara.

“Nak Ratib, sudah dua hari Jebris tidak pulang. Pagi tadi ada orang melihat Jebris di kantor polisi. Dihukum.”
“Dihukum?”
“Ya. Kalau tidak dihukum, mengapa Jebris ada di kantor polisi? Nak Ratib, kasihan si Mendol. Dia tak mau makan dan menangis minta menyusul emaknya.”
“Jadi?”
“Nak Ratib, aku tidak tahu harus berbuat apa?”
“Ya. Kakek sudah terlalu lemah. Kakek tinggal saja di rumah. Biar aku yang menyusul Jebris dan bila mungkin membawanya pulang,” kata Ratib.

Bibir ayah Jebris tergerak-gerak. Jakunnya turun naik. Matanya berkaca-kaca. Tanpa sepatah kata pun yang bisa terucap, ayah Jebris pulang menyeret kedua kakinya yang sudah membengkak.

“Pasti Jebris kena razia lagi,” ujar Sar.
“Lagi?”

Sar mengangguk. Sar bilang, Jebris sudah dua kali kena razia. Yang ketiga Jebris berhasil lolos dari kejaran para petugas. Dia bersembunyi di balik rumpun pisang di pinggir sawah. Hampir semalaman menjadi umpan nyamuk, pagi-pagi Jebris demam. Bila tidak ada orang yang berbaik hati mengantarnya pulang, Jebris akan tetap terpuruk di bawah rumpun pisang.

“Kang Ratib, jadi kamu hendak mengambil Jebris dari kantor polisi?”
“Ya. Dan kuharap kamu tidak keberatan.”
“Lalu?”
“Juga bila kamu tidak keberatan, Jebris kita coba ajak bekerja di rumah ktia. Mungkin dia bisa masak dan cuci pakaian.”
“Andaikan dia mau, apakah kamu tidak merasa risi ada pelacur di antara kita?”
“Yah, ada risinya juga. Tetapi mungkin itu jalan yang bisa kita tempuh.”
“Bila Jebris tidak mau?”
“Kita akan terus bertetangga dengan dia. Dan kamu tak usah khawatir malaikat pembawa berkah tidak akan datang ke rumah ini bila kamu tetap punya kesabaran dan sedikit empati terhadap anak penjual gembus itu.”

Thursday, September 15, 2011

Bawang Putih and Bawang Merah

The sky was cloudy when Bawang Putih went home from her father’s funeral. Bawang Merah and her stepmother were waiting in the house.
Mother : “What took you so long?”

Bawang Putih : “I’m sorry, Mother. I was talking to father.”

Mother : “Talking? You were talking to a dead man?! What an ignorant girl! Go cook us some dinner!

Bawang Merah : “Don’t take too long, sweetie.”

Bawang Putih was a very kind girl. She would do anything to please stepmother and stepsister, even though it made her exhausted sometimes. She didn’t want to live on her house alone.

Bawang Putih : “Dinner’s ready, Mother.”

Her stepmother hurried and headed into the kitchen, followed by her stepsister. Bawang Putih did not eat right away as she thought that she must clean herself up. After the whole day helping in her father’s funeral, she felt that her body was sweating and might cause unpleasant odor.

Bawang Putih loved her stepmother. However, her stepmother didn’t seem to love her. Neither did her stepsister, Bawang Merah. Everyday, they were just sitting around, eating, and going around the city.

Mother : “You duty is stay at home. Guard the house, clean the house, take care of the house, and cook delicious meals.”

Bawang Putih : “But, Mother … “

Mother : “No ‘but’. You have to obey my rule.”

Since then, Bawang Putih never came out of the house except when she washed the clothes. There were so many work she had to do, as if it never would end.

Early in the morning, soon as she woke up, Bawang Putih filled the water tank for her stepmother and Bawang Merah to bath. Then, she swept and cleaned the floor, cooked breakfast, and then went to the river to wash the clothes.

If her stepmother found no water to bathing, no breakfast, or that the house was still messy, she would become so angry. Bawang Putih didn’t want that to happen. She wanted her stepmother to feel at home.

One day, after washing the clothes, Bawang Putih rushed back home. She was petrified.

Mother : “What happen?”

Bawang Putih : “I’m…sorry, Mother.”

Mother : “Sorry for what? What’s wrong? What have you done?”

Bawang Putih : “I’m sorry, Mother. Your golden dress drifted away when I was about to wash it.”

Mother : “What?! Go find it!! Now!!”

Bawang Putih just kept silent and obeyed her stepmother. Without saying any words, she went out to find her stepmother’s dress. In fact, she hadn’t had her breakfast yet. She was so hungry.

Bawang Putih : “Oh, God, where would I find it?”

Shepherd : “What are you looking for, young lady?”

Bawang Putih : “A dress, Sir. Did you see a golden dress drifting along the river?”

Shepherd : “Oh…yes, I saw it. Try to go that way, young lady. Maybe the dress wasn’t carried away too far from here.”

After spending a day searching, Bawang Putih finally arrived at the upper course of the river. Yet there was no sign of her stepmother’s dress. As the day was getting dark, she was looking for a shelter. She saw a small hut in the river bank.

Bawang Putih : “Hopefully, the owner would let me in.”

Grandmother : “Who is it? Come in! The door is unlocked.”

Feeling a bit scared, Bawang Putih opened the door. She saw an old lady eating alone on very simple table alone. The old lady looked spooky.

Bawang Putih : “Ohh…could it be…could it be a witch?”

Grandmother : “Who are you?”

Bawang Putih : “I’m … I’m Bawang Putih, Granny. It’s late and I need shelter.

Then, Bawang Putih told the story that led her to the old lady’s hut.
The old lady smiled. All of her teeth looked black.

Bawang Putih : “Maybe she never brushed her teeth.”

Grandmother : “What a coincidence. I found the golden dress at the river bank this afternoon.”

Hearing the explanation, Bawang Putih felt so relieved.

Grandmother : “Alright, you may stay here tonight, then. But you better have your dinner with me first.”

Bawang Putih smiled as she accepted the old lady’s offer. Being a little disgusted by the indecent meal, Bawang Putih yet ate all of the food as she was so hungry.
As a sign of gratitude, Bawang Putih cleaned all of the old lady’s dining and kitchen sets. Then, she fell asleep until the morning sun brightly shone.

Bawang Putih : “I’m sorry, Granny. I woke up late.”

Grandmother : “It’s okay. You slept so tight. I didn’t have the heart to wake you up.”

On the same day, the old lady and Bawang Putih made an agreement. The old lady would returned the dress in one condition. Bawang Putih must accompany her for a week.

Bawang Putih was truly a diligent girl. She spent her week in the old lady’s house, doing the work as she usually did. The old lady was very pleased. A week had passed very quickly.

Grandmother : “Bawang Putih, you’re a nice girl. Thank you for staying with me.”

Bawang Putih : “Thank you, it’s also very nice of you giving me shelter to stay.”

Grandmother : “As a reward, besides going back home with your stepmother;s dress, you may also choose one of these pumpkins.

Bawang Putih was startled when she was asked to choose. She felt there was nothing special of what she had done in the old lady’s house. No reward was needed. So, Bawang Putih politely declined.

Grandmother : “You have to pick one of these two pumpkins, my dear.”

After careful thought, Bawang Putih finally picked the smaller one.

Grandmother : “Why did you choose the small one?”

Bawang Putih : “Because I’m afraid I won’tbe able to carry the big one, Granny.”

Her explanation made the old lady smile. After that, Bawang Putih said goodbye.
What happen to the pumpkin when Bawang Putih arrived home? It was really surprising. The pumpkin was filled with gold and jewelleries.

Mother : “Where did you get these things?”

Bawang Putih : “From the old lady near the river bank, Mother.”

The stepmother couldn’t stop smiling and tried on all the jewelleries. And so did Bawang Merah. The shiny jewelleries made the stepmother greedy. Secretly, she made a plan for Bawang Merah.

Mother : “So, how is it, dear? Do you want to do something to get more golds and diamonds?”

Apparently, the stepmother and Bawang Merah conspired to make the same scenario as what happen to Bawang Putih. Bawang Merah pretended to wash the clothes and let a piece of cloth drift down the river.
Bawang Merah tried to search for her cloth up the upper course of the river and met the old lady just like Bawang Putih did.

Bawang Merah : “Excuse me, Granny. Do you see a red cloth drifting down the river?”

The old lady nodded. Just like Bawang Putih experienced, Bawang Merah was asked to stay with the old lady for a week.

For a week, Bawang Merah helped the old lady with grudges. Consequently, she did the work carelessly. The old lady concluded that Bawang Merah was a lazy girl. Before Bawang Merah went home, the old lady gave her a choice to pick the two pumpkins for her reward. Bawang Merah choose the big pumpkin because she thought the bigger pumpkin would be filled with more jewelries.
When she got home, she opened the pumpkin. Do you know what’s in it? It turned out that the pumpkin was filled with small poisonous creatures such as snakes, scorpions, centipedes, and so on.

Since then, the stepmother and Bawang Merah realized that what they had done to Bawang Putih was wrong. Bawang Putih was very pleased. Now, all works were done together to make everything easier.

Monday, September 05, 2011

Mencegah Nafsu Amarah

Salah satu bidikan yang semestinya dihasilkan dari puasa yang baru saja kita lewati, baik wajib maupun sunnah, adalah terkendalikannya sifat-sifat negatif manusia. Salah satu sifat negatif yang potensial pada diri manusia adalah marah.

Secara alamiah, orang yang berpuasa terlatih untuk mengendalikan sifat marahnya. Bahkan secara khusus Rasulullah mengajarkan kepada orang yang sedang berpuasa, bila ada yang mengajaknya bertengkar, maka sebaiknya ia menolak secara halus. Pertengkaran yang dimaksud ini bisa berupa adu mulut, lebih-lebih adu fisik.

Suatu hari Rasulullah kedatangan tamu orang Badui. Ia bertanya kepada Rasulullah tentang Islam. Rasulullah menjawabnya dengan sangat singkat, “Jangan marah.” Tampaknya Rasulullah tahu bahwa salah satu sifat menonjol pada orang Badui tersebut adalah gampang marah. Ia sangat mudah naik pitam. Darahnya mendidih jika menghadapi suatu persoalan.

Orang yang marah, cenderung mengabaikan sesuatu yang besar. Orang yang sedang marah merasa semua persoalan itu kecil. Bagi dirinya, apa yang menyebabkan kemarahannya itulah persoalan besar.

Itulah sebabnya, jangan heran bila mendapati orang yang marah mengambil suatu keputusan dengan sangat ringan. Suami istri yang sedang dilanda kemarahan bisa dengan mudah dan ringan saling memutuskan untuk bercerai. Padahal demi jalinan cinta kasih mereka selama ini telah mengorbankan segala-galanya. Akan tetapi kemarahan menyebabkan pengorbanan itu tidak ada artinya apa-apa lagi. Semua menjadi kecil. Yang besar adalah kemarahan itu sendiri.

Seorang ayah dengan sangat mudah membanting peralatan rumah tangga, karena jengkel terhadap ulah salah satu anggota keluarganya. Adahal untuk mengumpulkan benda-benda tadi ia butuhkan waktu yang sangat panjang sekali. Mungkin bertahun-tahun. Tapi semua itu bisa lenyap seketika hanya karena kobaran api kemarahan.

Orang yang sedang marah, sering ringan tangan dan mulutnya. Tangannya gampang sekali digerakkan untuk menyakiti orang lain. Demikian juga mulutnya. Mereka tak segan-segan mengeluarkan kata-kata kasar, yang menyinggung bahkan menyakitkan hati banyak orang. Menempeleng, memukul, menendang, bahkan sampai membunuh menjadi suatu hal yang sangat ringan pada saat kepala dikuasai nafsu amarah. Pandangan dan pertimbangan mereka menjadi sangat pendek. Yang ada di benak hanya keinginanbalas dendam. Padahal dalam keadaan biasa, bisa jadi untuk melakukan hal serupa itu dibutuhkan waktu berbulan-bulan untuk menimbang dan berpikir.

Pertengkaran, besar atau kecil biasanya didahului dengan adu mulut. Indikasi kemarahan seseorang bisa dilihat dari seberapa jauh tingkat kekasaran dan kekerasan ucapannya. Semakin marah, semakin kasar. Jika sudah tidak tertahankan, maka adu mulut itu berkembang menjadi adu fisik, perkelahian. Dari perkelahian kecil bisa berkembang menjadi pembunuhan.

Melihat bahaya yang bisa ditimbulkan oleh sifat marah ini, maka Islam memberikan arahan kepada ummatnya untuk bisa menahan diri. Caranya adalah dengan diam. Jika seorang muslim sedang marah, hendaknya ia diam. Jangan banyak bicara, sebab pembicaraan itulah yang biasanya memanaskan suasana. Demikianlah Rasulullah berpesan sebagaimana diriwayatkan oleh Ahmad.

Tutup mulut rapat-rapat sampai emosi bisa dikendalikan, suasana kembali tenang, dan situasi tidak tegang. Dalam suasana seperti ni baru boleh berbicara, baik dalam rangka memberi penjelasan ataupun melakukan pembelaan.

Yang dianjurkan untuk diam sebenarnya tidak hanya mulut, tapi juga anggota tubuh yang lain. Jika seseorang marah sedang ia dalam posisi berjalan, hendaknya ia menghentikan langkahnya. Jika ia sedang berdiri, hendaknya duduk. Jika dalam keadaan duduk masih juga memendam kemarahan yang tak bisa ditahan, maka dianjurkan untuk berbaring.

Akan lebih baik lagi jika orang yang sedang marah itu mengambil air wudhu’. Insya’ Allah dengan cara seperti ini kemarahan yang sudah memuncak itu bisa didinginkan lagi. Air, kata Rasulullah bisa mendinginkan perasaan. Untuk itu bila sedang marah, cepat-cepatlah ke kamar mandi. Ambil air wudhu’, bahkan jika mungkin mandi sekaligus.

Sepertinya solusi ini sederhana, tapi pelaksanaannya tidak semudah yang kita bayangkan. Seorang yang sedang marah cenderung mendekati musuhnya. Untuk menghentikan langkah merupakan suatu perjuangan yang tidak kecil.

Malah mereka cenderung untuk berdiri, bila sebelumnya ia duduk manis. Lihatlah di sekitar kita, termasuk di persidangan ataupun di forum-forum diskusi. Pengacara yang asalnya duduk baik-baik, jika sudah marah, tiba-tiba berdiri, menyampaikan argumentasinya dengan berapi-api. Jika hanya pengacara maupun jaksanya yang marah itu masih belum seberapa, tapi jika hakumnya juga tak mau kalah, maka sungguh sangat berbahaya sekali. Untuk itu hakim yang sedang marah tidak boleh memutuskan perkara.

Sebenarnya tidak hanya hakim saja yang tidak boleh memutuskan perkara dalam keadaan emosi, tapi semua orang dalam posisi apa pun tidak boleh mengambil keputusan pada saat seperti itu. Apakah saat itu seseorang sedang dalam posisi sebagai guru, polisi, pimpinan, atau bahkan sebagai suami, istri, maupun anak. Dalam keadaan bagaimanapun jika sedang marah, jangan mengambil keputusan. Bisa jadi keputusan itu akan sangat subyektif. Tidak banyak pertimbangan. Sangat dangkal, dan merugikan pihak-pihak lain, bahkan dirinya sendiri.

Sebagai manusia biasa, Rasulullah juga pernah marah. Tapi beliau mampu mengendalikannya. Kemarahannya tidak sampai membahayakan orang lain, baik melalui kata-kata maupun tindakannya. Tak satu pun keputusan, baik berupa tindakan maupun ucapan yang dilakukan Rasulullah pada saat seperti ini. Beliau memilih diam. Bahkan jika marah, beliau justru mengganti kemarahannya dengan amalan atau imbalan hadiah kepada orang yang menyebabkan kemarahannya.

Penyulut kemarahan malah diberi hadiah? Barangkali hal ini tidak terbayangkan oleh kita, bagaimana mungkin orang yang kita marahi, malah diberi hadiah. Tapi Rasulullah bisa melakukannya sebagai bukti kedewasaannya. Hanya orang-orang yang sudah matang yang bisa melakukannya.

Imam Tabrani meriwayatkan suatu hadits yang bersumber dari Abdullah bin Salam mengenai hal ini. Ia menceritakan bahwa suatu hari Rasulullah keluar bersama para sahabat, di antaranya Ali bin Abi Thalib. Tiba-tiba seorang Badui mengadu, “Wahai Rasul, di desa itu ada sekelompok penduduk yang sudah Islam dengan alasan akan mendapatkan kemurahan rezeki dari Allah. Kenyataannya setelah mereka Islam, musim kering dan panas serta paceklik pun datang. Mereka dilanda kelaparan. Wahai Rasul saw, saya khawatir jika mereka kembali murtad hanya karena masalah perut. Saya berharap engkau sudi mengirim bantuan untuk mereka.”

Mendengar berita itu, Rasulullah saw pun menoleh kepada Ali bin Abi Thalib, dan Ali pun mengerti seraya berucap, “Wahai Rasulullah, kita sudah tidak mempunyai persediaan makanan lagi.”

Zaid bin Sa’nah yang hadir ketika itu segera mendekat dan berkata, “Wahai Muhammad, andaikata engkau suka, saya akan belikan korma yang baik dari kebun desa ini, dan mereka berhutang kepadaku dengan persyaratan tertentu.” Rasulullah saw bersabda, “Sebaiknya korma itu jangan mereka yang berhutang, tetapi belilah dan kamilah yang meminjam korma itu dari padamu.” Usul Rasulullah itu disetujui Sa’nah dan dibuatlah perjanjian.

Untuk pembayarannya, Zaid mengeluarkan emas sebanyak 70 mitsqal, lalu menyerahkan kepada Rasulullah dengan perjanjian akan dibayar kembali dalam masa yang ditentukan. Korma itu pun dibagi-bagikan kepada penduduk desa yang tengah ditimpa kelaparan.

Zaid bin Sa’nah berkata, “Beberapa hari (2 atau 3 hari) menjelang perjanjian pelunasan hutang tersebut, Rasul keluar bersama-sama Abubakar, Umar, Utsman dan beberapa sahabat lainnya. Setelah Rasul menshalatkan jenazah seseorang, beliau duduk menyandarkan badan ke dinding, saya pun berkata kepadanya, “Hai Muhammad, bayarlah hutangmu kepadaku. Demi Allah, setahuku, keluarga Abdul Muthalib itu sejak dulu selalu mengundur-undur waktu dalam pembayaran hutangnya.”

Mendengar kata-kata kasarku itu, wajah Umar bin Kaththab memerah, kedua biji matanya bergerak-gerak bagaikan perahu oleng, seraya melemparkan pandangannya kepadaku dan berkata, “Hai musuh Allah, alangkah kasarnya ucapanmu terhadap Rasulullah. Demi jiwaku yang ada di tangan-Nya, kalau bukan karena menghormati Rasulullah yang di hadapanku, tentu akan kutebas lehermu dengan pedangku ini.”

Rasul tetap saja memandang dengan tenang, seraya bersabda, “Hai Umar, sadarilah bahwa antara aku dan dia ada soal hutang-piutang. Adapun yang aku harapkan, engkau menyuruh aku membayarkan hutang itu kepadanya.” Sementara itu Rasulullah saw mengisyaratkan kepada Umar untuk pergi ke tempat penyimpanan korma, lalu melunasi hutang itu dengan menambahkan 20 sha’ (takaran) sebagai imbalan untuk menghilangkan amarahnya.”

Selanjutnya, Zaid bin Sa’nah menceritakan, “Setelah Umar membayar hutang Rasul disertai tambahan 20 sha’, akupun bertanya, “Apa arti tambahan ini, hai Umar?”

Umar menjawab, “Rasulullah saw menyuruh sebagai imbalan kemarahanmu.”

Aku berkata kepada Umar, “Hai Umar, kenalkah engkau, siapakah aku ini?”

Umar berkata, “Tidak.”

Aku menerangkan, “Aku adalah Zaid bin Sa’nah.

Umar balik bertanya, “Engkau Zaid bin Sa’nah, pendeta Yahudi itu?”

“Ya.”, kataku.

Umar berkata, “Mengapa engkau sekasar itu berucap? Engkau terlalu menghina.”

Lalu aku berucap, “Sebenarnya lewat kitab Taurat, aku telah lama mengenal Muhammad dari berbagai ciri kenabiannya. Dia adalah Rasul Allah, budi bahasanya senantiasa mengalahkan amarahnya, bahkan Muhammad semakin sopan terhadap mereka yang kesyetanan. Aku berbuat demikian, menguji dan memastikan dialah Rasul Allah. Wahai Umar, putera Kaththab, engkau sebagai saksi. Aku ridha ber-Tuhankan Allah, ber-Agamakan Islam dan ber-Nabikan Muhammad. Umar, ketahuilah, aku adalah orang yang terkaya di kalangan keluarga Yahudi. Kini harta kekayaanku itu kuserahkan separuhnya buat ummat Muhammad saw.”

Menyambut penyerahan Zaid bin Sa’nah itu, Umar berkata, “Tentu yang engkau maksudkan ialah untuk sebagian ummat Muhammad.” Dan Zaid pun menjawab, “Ya, benar.”

Mereka pun bersama-sama menemui Nabi saw, dan Zaid bin Sa’nah pun mengucapkan dua kalimah Syahadat serta berjanji akan berjuang bersama-sama untuk kejayaan Islam. Kemudian di dalam tarikh diriwayatkan, Zaid bin Sa’nah mati syahid di tengah sebuah front pertempuran Tabuk, dekat daerah Palestina.