Showing posts with label tugas. Show all posts
Showing posts with label tugas. Show all posts

Wednesday, November 02, 2011

Antara Ngayogyakarta-Surakarta

“Kalau saya, terserah masyarakat Jogja. Tanya mereka, maunya seperti apa.” Begitu jawaban Gubernur Daerah Istimewa Jogjakarta (DIJ) Sri Sultan Hamengku Buwono X setiap kali ditanya tentang polemik RUU Keistimewaan Jogjakarta yang belakangan kembali menghangat dan menjadi isu nasional.

Bukan tanpa alasan bila sultan selalu menjawab demikian setiap kali ditanya soal perkembangan RUU yang menjadi bola liar setelah Presiden SBY menyinggung sistem monarki itu. Raja Kesultanan Ngayogyakarta Hadiningrat itu ingin meletakkan persoalan ke proporsi bahwa rakyat Jogja-lah yang akhirnya punya hak untuk memilih gubernur dan wakil gubernur DIJ melalui penetapan (otomatis sultan dan paku alam) atau pemilihan kepala daerah (pilkada) langsung.

Kenapa? Sebab, berbicara tentang Jogjakarta tentu berbicara tentang budaya. Termasuk, budaya yang melingkupi sistem pemerintahan di kesultanan tersebut. Termasuk pula, budaya yang melatarbelakangi ijab kabul (pernyataan serah terima) bergabungnya Kesultananan Ngayogyakarta Hadiningrat ke pangkuan NKRI pada pemerintahan Soekarno (1945)-yang berkonsekuensi penentuan pengisi jabatan gubernur dan wakil gubernur DIJ lewat penetapan, bukan pemilihan.

Masyarakatlah pemilik absolut sebuah budaya. Kalau memang rakyat Jogja ingin mempertahankan budaya, termasuk sultan dan paku alam otomatis menjadi gubernur dan wakil gubernur DIJ, berarti itulah yang dikehendaki rakyat Jogja. Begitu pula bila rakyat Jogja ingin gubernur dan wakil gubernur dipilih melalui pilkada.

Penetapan Masih Ideal?

Apa keistimewaan Provinsi DIJ? Salah satu yang paling menonjol dan tidak ada di daerah lain memang terkait dengan posisi gubernur dan wakil gubernur yang dijabat Sri Sultan HB X sebagai raja kesultanan dan Paku Alam IX sebagai raja Pakualaman. Karena gubernur dan wakil gubernur sekaligus raja dan patih di Provinsi DIJ itu, dalam momen-momen tertentu dua pemimpin daerah tersebut kerap berkomunikasi dengan masyarakat lewat tradisi turun-temurun ala keraton.

Pun, itu terbukti efektif. Meskipun, saat berkomunikasi tersebut posisi raja dan gubernur kadang sulit dipisah karena melekat pada satu figur. Cara berkomunikasi itu juga tidak menghalangi maupun menjadi hambatan atau kendala berjalannya roda pemerintahan di Provinsi DIJ meskipun gubernurnya seorang raja. Deretan prestasi Provinsi DIJ juga tidak kalah jika dibandingkan dengan provinsi lain.

Belum lagi bicara tentang anggaran bila gubernur dan wakil gubernur DIJ ditentukan melalui pemilihan. Hampir pasti dana APBD Jogja tersedot ratusan miliar rupiah hanya untuk memilih gubernur dan wakil gubernur. Pun, sudah cukup banyak bukti mahalnya hajatan politik seperti pilkada yang pada akhirnya hanya memunculkan gubernur, bupati, dan walikota korup.
Pilkada langsung di Jogjakarta hanya akan membuat kekhawatiran soal tidak kondusifnya Jogjakarta, seperti halnya ketika Belanda mengacak-acak keraton dengan politik devide et impera yang membuat wilayah Ngayogyakarta Hadiningrat terbelah menjadi kesultanan dengan Sri Sultan sebagai raja dan Kadipaten Pakualaman dengan paku alam selaku raja.

Kekhawatiran pemerintah pusat, bila gubernur dan wakil gubernur DIJ ditentukan melalui penetapan, bisa muncul gubernur yang terlalu sepuh alias tua dan yang masih muda karena sosok raja kesultanan dan Pakualaman. Sebenarnya, kemungkinan itu bisa diantisipasi lewat RUU DIJ tersebut. Kompromikan atau cari jalan tengah saja aturan pada salah satu klausul RUU DIJ itu: Sultan ditetapkan sebagai gubernur bila usianya sudah mencapai sekian atau otomatis tidak menjadi gubernur jika usianya sudah sekian maupun sakit permanen sehingga perlu pelaksana tugas (Plt) atau opsi lain.

Benteng Terakhir


Berbicara tentang Jogjakarta tentu tidak lepas dari Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat, yang tidak lain trah dinasti Kerajaan Mataram. Bisa dikatakan, itulah provinsi yang juga simbol dari kerajaan yang masih eksis setelah Mataram terbelah menjadi dua karena perjanjian Giyanti pada 1755. Yakni, Kasunanan Surakarta (Keraton Solo) di bawah pimpinan Paku Buwono dan Kesultanan Ngayogyakarta (Keraton Jogja) di bawah mangkubumi yang bergelar Hamengku Buwono.

Memang banyak faktor yang melatarbelakangi nasib dua keraton tersebut. Tentu tidak semata-mata karena penetapan raja Ngayogyakarta otomatis menjadi gubernur DIJ dan raja Kasunanan Surakarta Hadiningrat tidak otomatis menjadi wakil kota Surakarta atau Solo. Tentu bukan faktor itu pula yang membuat Keraton Jogja masih eksis dan moncer jika dibandingkan dengan nasib Keraton Surakarta yang didera konflik berkepanjangan sehingga memunculkan dua raja (Hangabehi dan Tedjowulan)-yang mengakibatkan aura keraton tersebut kian redup.

Juga bukan faktor penetapan raja menjadi kepala daerah yang mengakibatkan nama Surakarta kalah populer oleh Solo. Padahal, Solo itu ya Surakarta. Surakarta itu ya Solo. Nama Surakarta yang sebenarnya merupakan cikal bakal nama trah dinasti Mataram tersebut kini hanya semakin bermakna administratif-formal. Sementara itu, nama Solo lebih bermakna kultural sehingga lebih populer. Kini eksistensi Kasunanan Surakarta Hadiningrat kian terancam dan hanya benar-benar menjadi tetenger budaya.

Artinya, kalau kita memang bangsa yang menghargai sejarah dan berusaha melestarikan budaya adiluhung itu, jangan hanya karena alasan demokrasi, lantas mengingkari sejarah dan mengacak-acak panatakrama yang sudah tertata apik dan istimewa tersebut. Kecuali, memang pelan-pelan kita rela bahwa tidak ada keistimewaan yang menonjol pada provinsi yang baru saja dihajar wedhus gembel Merapi itu. (*)

Monday, August 15, 2011

Sombong Itu Akan Rugi

Narator : Di siang hari yang sejuk. Para buah yang bersahabat sedang bercakap-cakap di halaman kebun. Mereka pada menyombongkan diri sendiri dan mereka pun tidak ingin mengalah. Akhirnya mereka jadi bertengkar terus.


Pisang : Hei, apel! Apakah kamu sadar bahwa rasamu itu kurang enak?

Apel : Jangan salah, pisang! Rasaku itu enak sekali. Sampai-sampai ada yang mengimpor aku. Selain itu, aku juga bervitamin dan bergizi. Aku pun juga memiliki jenis bermacam-macam seperti : apel merah dan hijau.

Pisang : Aku pun tak kalah denganmu. Coba kamu bayangkan, banyak orang yang suka pisang goreng, bukan? Pisang goreng itu berasal dari aku.

Nanas : Apakah ada pisang dengan rasa manis?

Pisang : Tentu saja ada. Namanya pisang raja.

Nanas : Wah, kalian payah! Coba seperti aku ini. Aku itu asalnya dari Brazil, di Amerika Selatan. Aku pun sering dijadikan bahan minuman yang segar. Aku pun juga bermacam-macam jenisnya, ada nanas Serawak, Moris, Masmerah dan Gandul.

Apel : Apakah tidak ada negara yang mengimpor nanas?

Nanas : Pasti ada. Contohnya seperti Singapura, Brunei, Jepang, Hongkong, Taiwan dan Amerika Serikat.

Jeruk : Asal kalian tahu, bahwa aku ini sangat penting untuk kesehatan tubuh. Karena aku ini mengandung vitamin C. Tanpa aku, pasti semua orang akan terkena penyakit panas dalam.

Anggur : Jika kalian ketahui, aku itu sangat bernilai harganya. Karena aku ini jika diolah dapat menjadi minuman alkohol. Kalian tahu bukan, bahwa hanya orang tertentu yang dapat minum alkohol.

Narator : Mereka pun akhirnya bertengkar terus-menerus. Mereka pada sombong semua. Apakah mereka akan sadar atas kesalahan mereka? Pasti mereka akan sadar.

Apel : Wah, pasti diantara kita semua akulah yang paling hebat.

Anggur : Mana mungkin kamu paling hebat. Jika kamu sudah dipotong dan dibiarkan terbuka, pasti akan cepat busuk.

Nanas : Aku jadi sadar, bahwa kita ini semua juga memiliki kekurangan.

Pisang : Benar juga katamu, nanas.

Jeruk : Jika dipikir-pikir, aku memiliki kekurangan yang juga banyak. Contohnya seperti buahku juga mudah busuk. Jika makan buahku harus diambil bijinya dahulu dan kadang ada buah jeruk yang rasanya kecut.

Apel : Berarti kita semua telah sadar apa yang kita perbuat.

Anggur : Memang kesombongan itu merupakan perbuatan tidak terpuji.

Jeruk : Sombong itu hanya akan membuat persahabatan kita menjadi retak.

Narator : Setelah mereka sadar, mereka saling bermaafan atas kesalahan yang telah diperbuat.

Apel : Maafkan aku, ya! Aku menyesal telah berbuat yang tidak terpuji kepada kalian.

Jeruk : Aku juga minta maaf, ya!

Anggur : Aku juga minta maaf.

Nanas : Aku juga minta maaf atas perbuatanku!

Pisang : Aku juga minta maaf, ya.

Jeruk : Jadi kita sekarang sudah saling berminta maaf dan kita harus saling memaafinya. Dan kita kembali bersahabat.

Narator : Akhirnya para buah kembali bersahabat dengan damai dan tentram.

Tuesday, June 05, 2007

ANALISIS TOKOH DAN NILAI BUDAYA NOVEL AZALEA JINGGA

Latar Belakang Masalah

Keberadaan karya sastra merupakan sesuatu yang tidak asing lagi bagi manusia. Sastra tumbuh dan berkembang eksistensi manusia. Sastra dapat mempengaruhi hasil pikiran, perasaan dan tingkah laku individu karena sastra merupakan bagian dari sejarah kehidupan. Sastra adalah ekspresi pikiran dalam bahasa atau inspirasi oleh Jakob Sumardjo (1986 : 3) bahwa karya sastra adalah ungkapan pribadi manusia yang berupa pengalaman, pemikiran, perasaan, ide, semangat keyakinan dalam suatu bentuk gambaran kongkret yang membangkitkan pesona dan bahasa sebagai alat dan bahasa tersebut merupakan sarana untuk menyampaikan ide-ide atau perasaan pengarang kepada pembaca.

Karya sastra diciptakan oleh pengarang bukan semata-mata untuk memperoleh kepuasan pribadi saja, tetapi harus dapat dinikmati, dipahami dan berguna bagi pembaca. Membaca karya sastra maka akan mampu memberikan efek kepuasan batin, kenikmatan dan kesegaran pikiran serta pemahaman mendalam tentang manusia dan kehidupan. Ide penciptaan karya sastra diilhami dari pengalaman hidup pengarang sebagai anggota masyarakat, ia merekam berbagai peristiwa-peristiwa, tata nilai dan pandangan hidup dalam masyarakat. Melalui karyanya ia bermaksud menyampaikan suatu pesan kepada orang lain tentang permasalahan hidup.

Karya sastra lain dari masyarakat, untuk masyarakat dan milik masyarakat. Karya sastra tersebut harus dipahami dan dinikmati berdasarkan konvensi sastra dan bukan dengan konvensi ilmu pengetahuan, sebab karya sastra merupakan dunia rekaan yang tercipta melalui proses pemahaman, penafsiran dan penelitian. Dengan demikian, dua rekaan karya sastra tentang kehidupan, baik yang dialami oleh dirinya sendiri maupun orang lain.

Mursal Esten (1987 : 8) berpendapat bahwa sebuah karya sastra mengungkapkan masalah-masalah manusia dan kemanusiaan, hidup dan kehidupan. Suatu karya sastra diciptakan dengan tujuan untuk menghibur, selain itu dapat diharapkan untuk memberikan pengalaman jiwa bagi pembaca. Pengalaman jiwa tersebut dapat menambah kekayaan batin pembaca, sehingga pembaca akan lebih peka dalam menghadapi persoalan hidup yang dialaminya. Karya sastra sebagai suatu karya seni merupakan suatu hal yang senantiasa menarik untuk dikaji dan diteliti. Meneliti suatu karya sastra harus benar-benar obyektif berdasarkan kenyataan serta didasarkan pada teori-teori yang ada.

Mursal Esten (1990 : 8) mengatakan bahwa sebuah cipta sastra mengungkapkan tentang masalah-masalah manusia dan kehidupan, tentang makna hidup dan kehidupan, ia melukiskan penderitaan-penderitaan manusia, perjuangannya kasih sayang dan kebenaran, nafsu dan segala yang dialami manusia. Melalui cipta sastra pengarang mau menampilkan nilai-nilai yang lebih tinggi dan lebih agung, akan menafsirkan tentang makna hidup dan kehidupan.

Membaca karya sastra besar akan dapat menolong pembacanya menjadi manusia yang berbudaya. Manusia berbudaya adalah manusia yang responsif terhadap apa-apa yang luhur dalam hidup ini. Manusia itu selalu mencari-cari nilai kebenaran, keindahan, kebaikan. Salah satu cara memperoleh nilai-nilai itu adalah lewat pergaulan dengan karya-karya seni termasuk karya-karya besar (Sumardjo dan Saini K.M., 1986 : 9).
Kualitas sebuah karya sastra dikatakan baik tidak hanya dapat dilihat dari keindahan pengarang dalam merangkai kata-kata. Zainudin Fararre (2001 : 73) menegaskan bahwa karya sastra yang hanya bagus dalam salah satu aspeknya belum dapat dikatakan sebagai karya sastra yang berkualitas atau sastra yang baik. Begitu pula karya sastra yang tidak mudah dipahami oleh setiap orang tidak bisa langsung disebut sebagai sastra yang kurang berkualitas. Karya sastra diciptakan oleh pengarang untuk dinikmati, dipahami dan dimanfaatkan oleh masyarakat (Darmono, 1979 : 1). Sastra menampilkan gambaran pola pikir, perubahan tingkah laku budaya dan lain sebagainya. Dengan kata lain, karya sastra merupakan potret segala aspek kehidupan sosial dengan segala permasalahan yang terjadi di masyarakat.

Manusia berbudaya adalah harus yang responsif terhadap sesuatu yang luhur dalam kehidupan, selalu mencari nilai kebenaran, keindahan dan kebaikan. Kebiasaan membaca karya sastra akan membentuk manusia menjadi yang berguna, berperasaan luhur dan mulia (Sumardjo dan Sains, 1997 : 9). Novel merupakan karya sastra yang terpopuler, merupakan karya sastra berbentuk prosa fiksi yang bersifat imajinatif. Karena sifatnya itu, novel mampu memberi citra atau bayangan-bayangan tertentu di dalam benak penikmatnya. Semua akibat yang ditimbulkan ini tercipta karena pengaruh teknik bercerita yang disajikan oleh pengarang. Pengarang akan selalu berusaha mempengaruhi pembaca melalui pilihan bunyi-bunyi bahasa, pilihan kata, susunan kalimat, penampilan tokoh maupun teknik penciptaan suspennya.

Novel Azalea Jingga adalah salah satu bentuk karya sastra dimana di dalamnya menceritakan tentang manusia sebagai anggota masyarakat yang memiliki ataupun diatur oleh nilai budaya., hal ini tidak asing bagi penulis dan begitupun juga para penikmat sastra. Penulis merasa tertarik untuk menjadikan novel Azalea Jingga sebagai obyek penelitian ini karena dalam novel ini banyak mengisahkan ataupun menceritakan problematika kehidupan orang Barat yang telah menikah dengan seroang patriot Indonesia yang kemudian dia tengah tinggal di tanah air dan mampu menyesuaikan dengan budaya tanah air. Dalam novel ini tokoh-tokoh yang ada di dalamnya banyak mengalami suatu permasalahan hidup, sebagai makhluk yang sempurna dan kuat serta tegar dalam menjalani kehidupan. Alur yang terdapat dalam novel ini adalah alur sedih serta didominasi oleh alur tragis dimana sang tokoh ataupun pelaku selalu mengalami kemalangan tetapi dia mencoba tegar dan novel ini berakhir dengan kesedihan secara tragis.

Novel Azalea Jingga membicarakan masalah percintaan, seks ataupun kebiasaan-kebiasaan orang Barat. Novel ini merupakan pentas romantika sejarah yang memanggungkan api percintaan seorang pejuang kemerdekaan dengan seorang perempuan berdarah Yahudi. Novel Azalea Jingga ini sangat berani dan garang dalam membicarakan pengkhianatan, percintaan yang bercampur dengan perselingkuhan, berakhir dengan kematian. Naning Pranoto memaparkan masalah-masalah ketabahan hati seorang perempuan yang dikhianati tetapi dia tetap bertahan hidup demi anaknya. Novel Azalea Jingga banyak menyinggung tentang nilai budaya yang berlaku pada diri tokoh ataupun pelaku serta masyarakat yang terlibat di dalamnya, maka dari itu penulis ingin mencari tahu bagaimana peranan nilai budaya dan fungsi nilai budaya dalam mengatur tingkah laku atau kepribadian tokoh yang terdapat dalam novel Azalea Jingga.

Identifikasi Masalah

Dalam upaya menemukan permasalahan yang muncul perlu adanya suatu langkah awal, yaitu dengan mengidentifikasi masalah. Adapun identifikasi masalah nilai budaya dalam novel Azalea Jingga adalah sebagai berikut :
  1. Nilai budaya yang terkandung dalam novel Azalea Jingga.
  2. Perwujudan nilai-nilai budaya yang terdapat dalam novel Azalea Jingga.
  3. Pemilihan nilai-nilai budaya oleh pengarang untuk menuntut tokoh-tokoh dalam menghadapi permasalahan hidup yang terdapat dalam novel Azalea Jingga.

Pembatasan Masalah

Mengingat sekian banyak masalah yang muncul sebagaimana dalam identifikasi masalah, maka perlu kiranya dibatasi masalah yang akan dibahas, diantaranya adalah sebagai berikut :
  1. Nilai budaya yang terkandung dalam novel Azalea Jingga
  2. Perwujudan nilai budaya yang terdapat dalam novel Azalea Jingga.
  3. Pemilihan nilai-nilai budaya oleh pengarang untuk menuntut tokoh-tokoh dalam menghadapi permasalahan hidup yang terdapat dalam novel Azalea Jingga.

Perumusan Masalah

Berdasarkan perumusan masalah di atas, maka penulis dapat merumuskan masalah sebagai berikut :
  1. Bagaimana nilai budaya yang terkandung dalam novel Azalea Jingga?
  2. Bagaimana perwujudan nilai budaya yang terdapat dalam novel Azalea Jingga?
  3. Bagaimana pemilihan nilai budaya oleh pengarang untuk menuntut tokoh-tokoh dalam menghadapi permasalahan hidup yang terdapat dalam novel Azalea Jingga?

Tujuan Penelitian

Sesuai dengan perumusan masalah, tujuan yang ingin dicapai melalui penelitian ini adalah :
  1. Mendeskripsikan nilai budaya yang terdapat dalam novel Azalea Jingga.
  2. Mendeskripsikan perwujudan nilai-nilai budaya yang terdapat dalam novel Azalea Jingga.
  3. Mendeskripsikan pemilihan nilai budaya oleh pengarang menuntut tokoh-tokohnya dalam menghadapi permasalahan hidup dalam novel Azalea Jingga.

Manfaat Penelitian

Manfaat Teoritis

Hasil penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat bagi pembaca dalam dunia sastra berkaitan dengan model pemahaman terhadap novel Indonesia, yaitu Azalea Jingga terutama dari segi sosiologi sastra.

Manfaat Praktis

Hasil penelitian ini dapat digunakan pembaca untuk memperoleh informasi yang jelas mengenai nilai budaya. Selain itu, hasil penelitian ini diharapkan akan menjelaskan dengan segala kehidupan dan berbagai masalah dalam nilai budaya.

Rancangan Penelitian

Penelitian ini akan dipresentasikan dalam lima bab, yaitu :

Bab I :
Pendahuluan terdiri dari latar belakang masalah, identifikasi masalah, pembatasan masalah, tujuan penelitian dan manfaat penelitian.

Bab II :
Kajian Pustaka, terdiri dari pengertian nilai budaya, tokoh dan penokohan, pendekatan sosiologi sastra, frekuensi nilai budaya.

Bab III :
Metode Penelitian

Bab IV :
Analisis dan Pembahasan

Bab V :
Kesimpulan dan Saran

KAJIAN PUSTAKA


Hakikat Novel Sebagai Bentuk Karya Sastra

Novel adalah salah satu jenis karya sastra yang menampilkan rangkaian cerita kehidupan seseorang dengan orang-orang di sekelilingnya. Novel juga dapat menonjolkan watak dan sifat tokoh-tokoh cerita dengan permasalahan kehidupan selain dapat dinikmati sebagai media hiburan juga di dalamnya terdapat nilai-nilai yang bermanfaat bagi pembaca dalam kehidupan sehari-hari. Novel merupakan pengungkapan dari fragmen kehidupan manusia dalam jangka yang lebih panjang dimana terjadi konflik-konflik yang akhirnya menyebabkan terjadinya perubahan jalan hidup antara pelakunya. (Suhardjo, 1989 : 35)

Novel pada dasarnya merupakan bentuk penceritaan tentang kehidupan manusia yang bersifat fragmentaris. Teknik pengungkapannya bersifat padat dan antar unsurnya merupakan struktur yang terpadu. Novel menceritakan suatu kejadian yang luar biasa dari kehidupan para tokohnya. Dari kejadian itu terlukis suatu konflik, pertikaian yang menentukan nasib para tokohnya. (Nurgiyantoro, 1995 : 30).

Fungsi karya sastra (novel) adalah selain menghibur juga memberikan sesuatu yang dibutuhkan manusia pada umumnya, berupa nilai-nilai agung yang sering lepas dari pengamat dan pengalaman hidup sehari-hari. Menurut Suhariyanto (1982), fungsi karya sastra bukan semata-mata untuk memberikan hiburan kepada peminatnya melainkan juga memberikan suatu yang dibutuhkan manusia pada umumnya, yaitu nilai-nilai yang anggun dan agung yang sering terlepas dari pengamat dan pengalaman sehari-hari.

Sementara Sumardjo (1988 : 78) juga berpendapat bahwa novel menceritakan sesuatu kejadian yang luar biasa karena dari kejadian itu terlahir konflik, suatu tikaian yang mengalihkan jurusan nasib mereka. Pendapat yang sama juga dikemukakan oleh Esten (1989 : 12) yang mengemukakan bahwa novel merupakan pengungkapan fragmen kehidupan manusia dimana terjadi konflik-konflik yang akhirnya menyebabkan terjadinya perubahan jalan hidup antara pelakunya. Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa novel adalah pengungkapan tentang fragmen kehidupan manusia, dimana dalam fragmen kehidupan itu terjadi konflik-konflik atau pertikaian yang akhirnya menyebabkan terjadinya perubahan nasib para tokoh dalam cerita itu.

Novel sebagaimana bentuk karya sastra lainnya terdiri dari unsur-unsur pembentuk yaitu unsur intrinsik dan unsur ekstrinsik. Unsur intrinsik adalah unsur struktural formal yang membangun karya sastra dari dalam. Unsur-unsur tersebut antara lain tema, penokohan, alur, latar, judul, sudut pandang, gaya dan suasana. Unsur ekstrinsik adalah unsur-unsur dari dunia luar karya sastra yang berpengaruh. Unsur-unsur itu antara lain ekonomi, politik, sejarah, filsafat, pendidikan dan psikologi (Esten, 1984 : 20-22). Nurgiyantoro (1995 : 4) berpendapat bahwa novel sebagai karya fiksi menawarkan sebuah dunia, dunia yang berisi model kehidupan yang diidealkan, dunia imajiner yang dibangun melalui berbagai unsur intrinsiknya seperti peristiwa, plot, tokoh dan penokohan sudut pandang dan lain-lain yang kesemuanya tentu saja bersifat imajiner.

Pengertian Nilai Budaya

Nilai budaya adalah hasil budaya yang berupa konsep abstrak mengenai masalah dasar yang sangat penting dan bernilai dalam kehidupan manusia. Menurut Koentjoroningrat (1984 : 25), nilai budaya adalah tingkat pertama kebudayaan lokal dan adat. Nilai budaya adalah lapisan paling abstrak dan luas ruang lingkupnya. Tingkat ini adalah ide-ide yang mengkonsepsi hal-hal yang paling bernilai dalam kehidupan masyarakat. Selain itu, sistem nilai budaya terdiri atas konsepsi yang hidup dalam alam pikiran sebagian besar warga masyarakat mengenai hal-hal yang harus mereka anggap bernilai dalam kehidupan. Oleh karena itu, suatu sistem nilai budaya biasanya berfungsi sebagai pedoman tertinggi bagi kelakuan manusia sebagai pendorong pembangunan, khususnya watak.

Karya sastra merupakan budaya dan ekspresi kehidupan bangsa sebagai wujud pelestarian nilai-nilai budaya. Menurut Soetjipto (1992 : 108), nilai budaya merupakan akar dari segala nilai dan norma yang dianut oleh masyarakat. Nilai dan norma ini mempengaruhi alam pikiran, cita-cita dan perbuatan (cipta, rasa dan karsa) masyarakat dalam kehidupan. Alam pikiran, cita-cita dan perbuatan inilah yang pada gilirannya melahirkan persepsi, sikap dan perbuatan manusia dan masyarakat terhadap alam sekitar, terhadap sesama dan terhadap pengelolaan sumber-sumber daya yang digunakan untuk menjamin kelangsungan hidupnya.

Setelah mengamati latar belakang permasalahan yang akan diteliti novel Azalea Jingga karya Naning Pranoto karena belum ada yang menganalisis nilai budayanya. Oleh karena itu, penulis tertarik untuk meneliti novel tersebut terutama tentang nilai budaya.

Tokoh

Tokoh merupakan individu rekaan yang mengalami kejadian dalam berbagai peristiwa dalam sebuah cerita rekaan (Sudjiman, 1991 : 17). Wellek dan Waren mengatakan bahwa tokoh merupakan jalan memahami keadaan jasmani dan rohani tersebut yang sederhana untuk menggambarkan watak adalah dengan memberik makna (Wellek dan Waren, 1989 : 287). Tokoh dapat disimpulkan bahwa tokoh adalah rekaan pengarang yang mengalami peristiwa secara langsung dalam cerita. Nurgiyantoro (1995 : 176) membagi tokoh cerita ke dalam tokoh utama dan tokoh tambahan.

Tokoh utama adalah tokoh yang memegang peranan penting ditampilkan dari awal sampai akhir cerita (bersifat terus-menerus). Ia merupakan tokoh yang paling banyak diceritakan, baik sebagai pelaku kejadian maupun yang dikenai kejahatan. Tokoh utama paling banyak diceritakan dan berhubungan dengan tokoh-tokoh lain sehingga menentukan perkembangan alur secara keseluruhan.

Tokoh tambahan, adalah tokoh yang kehadirannya untuk melengkapi tokoh utama, ditampilkan untuk memecahkan suatu permasalahan yang dihadapi oleh tokoh utama.
Tokoh utama dibagi tokoh protagonis dan tokoh antagonis (Sudjiman, 1991 : 18-19). Tokoh protagonis adalah tokoh yang ditampilkan selalu relevan dengan kejadian. Karya sastra harus memiliki konflik sehingga konflik itu akan menentukan adanya suspense yang sering dialami oleh tokoh protagonis.
Tokoh antagonis, adalah tokoh yang hadir hanya menunjang kehadiran tokoh protagonis. Tokoh yang menyebabkan adanya konflik disebut tokoh antagonis.

Thursday, January 06, 2005

Usaha Kios Biru

BAB I
PEMBAHASAN

Gambaran Umum Kios Biru Kios
Biru didirikan oleh Bapak Achmad Kemuning sekitar dua tahun yang lalu. Kios ini berukuran 200 x 100 cm dan terletak di Jalan Bantul No. 52 Yogyakarta. Tempatnya cukup strategis karena terletak di dekat kampus dan perumahan masyarakat yang padat penduduknya.
Adapun pertimbangan Bapak Achmad Kemuning mendirikan Kios Biru adalah karena sekitar daerah tokonya ini tidak banyak orang yang berjualan. Radius toko yang berjualan di sekitar daerah itu adalah 100 meter. Maka dari itu dia melihat bahwa saingannya hanya sedikit dan pasar yang cukup baik.
Setelah beberapa tahun toko ini berdiri, Pak Achmad mencari teman yang dapat diajak bekerjasama untuk menjaga tokonya. Dan akhirnya dia mendapatkan 4 orang temannya yang bersedia bekerjasama, mereka adalah : Bapak Iskandar Bapak Morpil Bapak Bram Bapak Nunung

Sebagai owner atau pemilik Pak Achmad yang mengatur jadwal kerja para karyawannya. Selain itu Pak Achmad juga mempunyai tugas mencari barang dagangan yang hampir habis dan dia pula yang membagi hasil keuntungan. Kios Biru ini buka 24 jam jadi setiap karyawan mendapat jatah menjaga toko ini selama 6 jam dan mereka bertanggungjawab penuh atas kios tersebut. Manajemen penjualan di kios ini adalah barang yang dibeli oleh pembeli harus dicatat nama barang, harga dan banyak barangnya di dalam buku yang telah disediakan.

Macam Produk Yang Dijual
Barang-barang yang ada di Kios Biru ini tergolong lengkap untuk ukuran pedagang kecil. Produk yang dijual antara lain : obat, makanan ringan, mie instan, soft drink, sabun, shampoo, deterjen, telur, permen, majalah, koran, gula, teh, peralatan tulis menulis dll. Mereka mendapatkan suplai barang-barang mereka dari grosir yang cukup besar. Barang-barang yang sudah hampir habis dicatat, didaftar kemudian dipesan ke grosir dan grosir akan mengantarnya ke Kios Biru. Untuk majalah dan koran mereka mendapatkannya langsung dari agen.

Keunggulan Kios Biru
Salah satu keunggulan Kios Biru bila dibandingkan dengan toko-toko yang lain yang ada di sepanjang Jalan Bantul adalah kios ini BUKA 24 JAM. Jadi apabila ada seseorang yang mendadak memerlukan obat pada tengah malam, maka Kios Biru akan siap melayani. Selain itu, barang-barang yang dijual termasuk lengkap dan murah. Dan mungkin karena Pak Achmad dikenal sebagai orang yang baik hati dan supel oleh masyarakat sekitarnya, maka merekapun lebih senang membeli barang di Kios Biru.

Kelemahan Kios Biru
Satu-satunya kelemahan Kios Biru yang cukup dirasakan dari Kios Biru adalah luasnya yang hanya 200 x 100 cm saja, sehingga bagi orang-orang yang baru melihat pertama kali atau belum mengenal Kios Biru dengan baik pasti akan beranggapan kios ini tidak memiliki barang yang lengkap.

BAB II
PENUTUP
Kesimpulan
Kios Biru termasuk kedalam kelompok bisnis usaha kecil. Walaupun tempatnya hanya berukuran 200 x 100 cm, namun dengan kelebihannya yaitu buka 24 jam, Kios Biru mampu bersaing dengan toko-toko yang ada di Jalan Bantul pada khususnya. Keberhasilan suatu usaha kecil seperti Kios Biru milik Pak Achmad ini dicapai dengan kerja keras dan kepintaran memanfaatkan peluang bisnis yang ada, walaupun pada awalnya modal yang dipunyai tidak besar.
Saran
Saran yang penulis ingin sampaikan adalah agar Kios Biru memperluas tempat usahanya tersebut agar bagi calon konsumen yang baru pertama kali melihat tidak salah anggapan bahwa kios ini hanya menjual barang yang jumlahnya sedikit dan tidak lengkap.