Friday, May 27, 2016

[testimoni] Jacket Weather Army Milan

Nama PO : Jaket Weather Army Milan
Seller : Thomas Effendi
Lapak : Lapak Onlineshop Milan, Lapak Milan
SMS : 0897-4461-914
Pin BB : 7C87677E
Berikut review gambar PO:

Fyi, PO tersebut (yang saya ikuti) adalah PO yg kedua. PO yang pertama dengan produk sama persis, hanya beda logo (yg pertama, logo AC Milan di dada kiri satu warna, sementara PO yang kedua, logo AC Milan warna).

Sebelumnya saya mohon maaf kepada Mbak Putri dan Mas Adhe karena tidak memberikan testi melalui blog ini untuk produk2 mereka, mengingat karena hasilnya memang memuaskan, jadi sudah terlalu happy … lupa deh, bikinin testi. :P

Saya “memaksa” untuk menyempatkan diri membuat penilaian untuk produk ini, terlebih setelah “reaksi istimewa” dari pihak seller (aka. Thomas Effendi).

Berikut kronologisnya:
Awalnya saya tertarik dengan produk Jacket Weather Army Milan, mengingat -pertama- dari warna. Saya blom ada koleksi jaket dengan warna tersebut. Dari sini, saya ingin pembaca MEMPERHATIKAN detil dari gambar review PO, baik warna dan yang lainnya.

Dari testi para buyer di PO pertama, saya mantap untuk ikut PO yang kedua ini.

Tanggal 11 bulan Pebruari 2016, saya segera transfer sebesar Rp. 202.880,00 dengan rincian: 180rb untuk jaket, 22 ribu untuk ongkir.

Lha yang 880 rupiahnya? Katanya sih untuk KODE UNIK PESANAN. Kejutan pertama bagi  saya, mengingat jumlahnya yang lumayan karena dari total pemesan (yang saya ketahui), tidak sampe jumlahnya 800 pemesan.

Sistem seperti ini saya ketahui dari situs Tokopedia, itupun setelah proses jual beli beres, kalau Tokopedia mengembalikannya. Tidak kurang satu sen pun.

Pembaca pasti paham dengan maksud saya, kan? ;)

Oke, biarlah. Sedekah buat sellernya. ^_^

Selama ini, saya ikut PO-PO di seller lain, paling mentok 1 bulan selesai. Nah, disini kejutan kedua menghampiri saya.

Tentunya, saya selalu memantau lapak seller yang di Lapak Milan dan Lapak Onlinestore Milan.

Sampai hampir 2 bulan tak kunjung ada berita dari seller, dan TRAGIS-nya, komen-komen para buyer yang “tidak berkenan” menurut kacamata seller, pada raib.

Yang ada hanyalah komen-komen positif.

Saya yang juga “aktif” komen, pada suatu hari (lupa harinya, hari apa) mendapati bahwa komen-komen saya TIDAK ADA, dan saya tidak bisa memberikan komen lagi.

Saya mengharapkan pembaca yang paham hal ini. Bagi pembaca yang kurang jelas/paham, silakan komentar. Hehehe…

Mengapa buyer, termasuk saya, pada “rewel”?

Karena, seller menepati janjinya untuk update resi pengiriman, namun HANYA SEBAGIAN. Dan setelah itu, seller seakan menghilang. Nomor hape dihubungi, seringnya tidak direspon/tidak aktif. Pesan di BBM hanya mentok tanda “D”.

Ada salah satu buyer yang merasa ikhlas dan legowo sekiranya seller wanprestasi. Pikir saya, oke deh. Saya juga mesti ikhlas. Anggap saja resiko jual-beli online.

Semuanya sudah mulai saya lupakan, terlebih ketika menjelang UN, saya pastinya sibuk. Sampai pada hari ini (Kamis, 26 Mei 2016). Tepatnya siang hari menjelang waktu Dhuhur, keluarga di rumah menelepon kalau ada paket untuk saya.

Karena saya lupa, saya hanya bertanya-tanya, “Paket apa ya? Sudah hampir 2 bulan tidak transaksi jual beli tuh.”

Waktu melihat paket di rumah, barulah saya sadar. Jaket Weather Army Milan dari seller Thomas Effendi.

saya foto dulu sebelum dibuka :D
Trus saya buka,
Hasilnya …. *jreng jreng jreng*
tampak depan

tampak belakang

lebih dekat dari depan

lebih dekat dari belakang

Oke, dari sini pembaca bisa melihat keseluruhan hasil jadi produk dengan review PO di foto paling atas/awal artikel ini.
Secara keseluruhan, hanya ada kesamaan kelengkapan, seperti hoodie, resleting. Untuk warna, jelas kalo menurut saya, beda banget.


Lebih banyak kekurangan pada detil produk.
Apa sajakah kekurangan detil-detil tersebut? Berikut akan saya paparkan.

Pertama, WARNA.
Gambar PO jelas warna cenderung ke warna tanah. Namun hasil jadi cenderung ke warna perak/abu-abu. Kalaupun seller berdalih itu karena efek kamera, tentunya untuk contoh PO mestinya disertakan foto asli (foto langsung) dari contoh produk PO nya.

Kedua, RESLETING.
Paling jelas kalo diperhatikan. Di review PO, resleting tampak seragam semua. Namun, di hasil jadinya, pembaca bisa memperhatikan antara resleting utama, bagian depan samping, dan di lengan.






Jelas sekali perbedaannya, kan? ^_^

Ketiga, bagian BAHAN di lengan atas




Tampak tipis sekali, itupun kalo bisa ditempeli, tidak akan menempel dengan baik.

Lhoh? Ditempeli apa?

Oke, agar pembaca tahu, jaket ini model dasarnya adalah jaket tactical army.

Pembaca bisa tanya, kali aja ada sodara, kenalan, yang berprofesi di –terutama- Brimob. Mereka punya jaket model ginian, tapi dengan bahan yang lebih mantab, terutama bagian bahan di pundak ini. Itu adalah tempat tempelan patch, badge atau apalah.

Namun disini seller seakan mempertimbangkannya hanya sebagai hiasan.

Keempat, RESLETING BAGIAN BELAKANG.


Tidak perlu saya jelaskan, dari gambar pembaca pasti sudah paham.

Oke, selanjutnya (yang kelima) kita menuju ke BAGIAN DALAM JAKET.

Ternyata… dan ternyata bagian dalam jaket ini berbahan polar hanya sebatas di badan, sementara di bagian lengan (dalam), bahannya kurang lebih sama dengan bahan luar.

bagian dalam jaket
Bagi saya sendiri, alih-alih tag “WATERPROOF”, jelas jaket ini hanya ideal di cuaca dingin.

Di bagian dalam, sebelah dada kiri ada kantong. Itupun tidak seberapa dalam.


Selanjutnya adalah kantong-kantong yang ada di lengan.
Di lengan kanan atas dan lengan kiri bawah, kantong bagian dalam menggunakan bahan seperti di bagian dalam lengan. Sementara di lengan kiri, menggunakan bahan seperti kantong dalam di dada kiri.
Menurut saya, untuk kantong-kantong yang di bagian lengan, saya lebih sreg menggunakan bahan yang seperti di lengan kanan atas dan lengan kiri bawah.

Dan yang terakhir, jaket ini coba saya kenakan.
Bisa jadi karena masih baru, jaketnya masih belom match dengan bodi saya. 
Saya coba semua fungsi-fungsi bagian jaket, mulai dari hoodie, resleting.

Nah di bagian resleting inilah yang jelas sekali kekurangannya.
Saat jaket dikenakan, posisi membuka dan menutup resleting di bagian lengan tampak menyulitkan karena bahan jaket yang “relatif ringan”.

Dan saya sempat mendapati kepala resleting kecantol di lipatan pinggiran kiri-kanan resleting. Tampaknya saya harus mengolesi resleting-resleting tersebut dengan lilin terlebih dulu.

Oke, secara keseluruhan hasil PO ini KURANG MEMUASKAN.
Bisa jadi ini pertanda bagi saya untuk lebih jeli lagi dalam membeli barang sistem PO.

Kepada seller, saya harapkan untuk segera memperbaiki apa yang telah saya sampaikan disini (semoga ybs membaca, kalopun tidak, it’s okay. Namanya juga berusaha).
Sadarilah kemampuan produksi, jangan membabi buta terima order.

Saya rekomendasikan untuk belajar dari Mbak Putri dan Mas Adhe. Kita bisa belajar dari mereka.

Seperti Mbak Putri yang cenderung berprinsip “lebih baik terima order sedikit, tapi buyer puas, daripada terima order banyak namun melahirkan cacian dari para buyer yang kecewa.”

Seperti Mas Adhe yang tetap fast response, pun saat dia mendapat masalah dari vendor-nya, namun dia tetap bertanggung jawab. Kita masih mendapat kejelasan darinya. Kalau pun mau membandingkan, dengan harga total yang sama, produk Mas Adhe lebih tebal, desainnya lebih garang, pun sampe detil-detilnya.

Untuk masalah apabila terjadi kendala, setidaknya ada kejelasan dari seller. Jangan sampai menghilang. Itu resiko jadi seller. Kalo gak bisa menghadapi itu, jangan bikin PO.

Friday, September 05, 2014

[testimoni] Kemeja Army Look Tema Bola

Kali ini saya akan memberikan testimoni untuk PO Kemeja Army AC Milan dari seller VeryGaya Ol-shop. Berikut adalah preview dari PO kemeja tersebut.

Dan seperti biasa, setelah administrasi beres, buyer musti menunggu sekitar 1 bulanan. Namun dari seller VeryGaya ini saya menunggu lebih dari satu bulan karena saat itu menjelang Lebaran. Bisa jadi seller dan vendor juga banyak order (baca: kuwalahan :D )
Dua minggu yg lalu paket orderan saya terima. Dan hasilnya, cukup mengejutkan saya. Pembaca bisa lihat foto di bawah ini yg saya ambil langsung setelah mengetahui ada ketidakberesan dari hasil jadi kemeja tersebut.

Jelas saya langsung komplain, dan bermaksud mengirim balik. Mengingat hasilnya yg bisa dikatakan kemeja tersebut tidak layak dikenakan.
Dari seller, saya mendapat respon baik. Bahwa seller bersedia memperbaiki ketidaksesuaian dari kemeja pesanan saya.
Setelah 2 minggu menunggu, akhirnya kemeja tersebut saya terima per 4 September 2014, sekitar pukul 10.00
Dan ini hasil jadinya:

Langsung saya kenakan

Secara keseluruhan, untuk Kemeja Army Look Tema Bola dari seller VeryGaya Ol-shop menurut saya TIDAK MEMUASKAN. Dari segi model dan bahan yg ternyata beda banget (lihat gambar), lalu kejadian yg membuat saya mengirim balik kemeja tersebut, ternyata tidak mendapat ganti dari seller. 
Saya pernah mengalami kejadian serupa, namun dari seller waktu itu (Milano Kun) berinisiatif bersedia mengganti biaya kirim yang saya keluarkan untuk mengirim balik.

Berikut foto dari dekat dimana bahan kemeja sangat berbeda baik dari warna maupun kain (tidak sesuai seperti yang dicontohkan pada gambar PO)




terakhir, perhatikan perbedaan yang BENAR-BENAR MENCOLOK dari detil saku depan, juga jarak antara bordir logo AC Milan dengan bahu. (dikasih tanda)


Friday, June 06, 2014

Cara Melipat Setangan Leher Pramuka

Setangan leher atau ada yang menyebut "hasduk" Pramuka, sekarang ini ternyata baik putra maupun putri mengenakan model yang sama, yaitu setangan leher yang sebelumnya untuk putra.
Pembaca dapat melihat cara melipat setangan leher di SINI.

Sekedar informasi, untuk ukuran setangan leher tersebut saya menggunakan ukuran sebagai berikut:


Jika pembaca tidak dapat menemukan/menjumpai setangan leher dengan ukuran seperti itu, dapat dimaklumi karena saya memodifikasi dari setangan leher dengan ukuran untuk siswa SMP, saya perkecil dengan ukuran seperti gambar di atas.

Mengapa saya memperkecil ukurannya? Karena ukuran setangan leher yang ada kurang begitu memuaskan saya, ketika dikenakan untuk siswa SD kelas 1-3.
Ukuran yang ada untuk siswa kelas tersebut kurang begitu memuaskan bagi saya, sementara untuk ukuran di atasnya masih terlalu besar.

Tambahan, saya menyarankan untuk memilih bahan kain yang lemas, jangan yang terlihat seperti plastik.
Sekian sedikit sharing dari saya, apabila ada yang masih kurang jelas, bisa ditanyakan via comment.

Tuesday, June 03, 2014

[testimoni] Jersey Curva Sud - RB46

well, bisa dibilang sangat terlambat untuk testimoni -mmm- review sih menurut saya.
tapi lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali.
dan bisa dibilang (lagi) ini adalah kali pertama saya membuat testimoni/review via blog saya (biarin kalo mo dibilang buat pamer blog) :D

Berikut adalah penampakan jersey yang saya beli sistem pre-order dari mBak Putri (FB: Putri Milano).
Seperti biasa, ciri khas dari item buatan dari seller mBak Putri adalah jahitan yang rapi dan bentuk yang sesuai. maksudnya, ketika dikenakan terasa pas di tubuh. ^_^


hal ini bisa saya rasakan terutama di bagian leher/krah, dimana biasanya seller lain kurang memperhatikan hal ini. (seringnya krah, ujung lengan, tudung kepala pada jaket, yang terasa kurang nyaman)

kedua, jenis kain (saya lupa namanya) yang menurut saya cucok banget karena tidak sumuk/panas, selain itu ternyata tidak perlu diseterika, hehe.... :D. Njemurnya ajah gak pake lama, alias bahan kain cepet kering.

untuk item RB46 ini sebenarnya satu stel (baju + celana pendek), untuk celananya ternyata bagi saya masih kurang panjang dikit. (lupa mem'foto)

terakhir, untuk ada saran yaitu logo klub bola (ACMilan), akan lebih baik lagi bila pake logo yang baru, dimana strip hitam tebal semua.


selanjutnya, di bagian punggung, tulisan ULTRAS 1899 masih terlalu mepet, maksudnya antara ULTRAS dan 1899 seharusnya agak dicetak jauhan dikit. ^_^


secara keseluruhan, item RB46 = SANGAT MEMUASKAN ^_^

Thursday, March 07, 2013

Nasgor/Mi Khas Kediri

Menyusuri Kampung Nasgor di Ngaglik, Dandangan

Sejak Kanak-Kanak Sudah Tertular Ilmu Kuliner Khasnya

Anda doyan menyantap nasi goreng (nasgor) atau mi goreng khas Kediri? Tahukah Anda dari mana ratusan pedagang nasgor yang memenuhi Jalan Dhoho dan jalan-jalan lain di sepanjang Kota Kediri itu kala malam hari? Cobalah tanya mereka, nanti akan bertemu satu kata kunci: Ngaglik.

Pukul 15.00. Matahari semakin condong ke arah barat. Ansori (38), Suratman (40) dan Fatkur (44) mulai sibuk menyiapkan dagangan. Daging ayam yang sudah direbus sejak pagi ditata rapi di gerobak dorong masing-masing. Ada kepala, sayap, paha dan dada. Juga sayuran berupa sawi hijau, kubis dan tomat. Tak lupa puluhan butir telur ayam. Barang-barang itu di-display di dalam rak kaca, di atas gerobak. Di bawahnya, ada ruang kecil untuk menyimpan nasi dan mi. Ada yang menempatkannya dalam bakul plastik besar, ada pula yang masih menggunakan bakul dari anyaman bambu.

BERANGKAT: Suratman alias Pak Ndut mendorong gerobak nasgornya keluar dari 'gang limas' di Ngaglik, Dandangan kemarin sore

Di bagian depan gerobak, mereka menata aneka bumbu. Ada minyak goreng yang sudah dicampur bawang tumbuk sebagai bumbu khas, garam, merica, penyedap, sambal dari cabai yang digiling atau ditumbuk, hingga kecap manis dan kecap asin.

Sementara, di sebelahnya, ada lubang untuk memasukkan dandang besar yang berisi kaldu dari rebusan daging ayam.

Bahan-bahan untuk memasak siap. Mereka lalu menata piring, sendok dan garpu di dalam laci di bagian bawah gerobak. Juga meja dan kursi untuk pembeli yang digantungkan bodi gerobak dan sebagian dinaikkan ke atap. Setelah mandi, sekitar pukul 16.30, satu per satu mulai keluar dari mulut gang kecil di dekat kompleks pabrik PT Gudang Garam (GG) tersebut.

Gang itu tanpa nama, tapi beberapa orang ada yang menyebutnya gang limas. Di sepanjang gang dengan rumah berimpitan itu, ada sekitar 30 pedagang nasgor dengan gerobak-gerobak dorong khasnya. Dan, gang tersebut bukan satu-satunya. Di banyak gang lain, bahkan pinggir jalan, banyak ditemukan gerobak-gerobak dorong serupa khas pedagang nasgor. Jumlahnya bisa mencapai ratusan.

“Ya kalau boleh dibilang, semua pedagang nasi goreng di Kota Kediri itu asalnya dari sini,” kata Fatkur yang mengaku sudah ikut berjualan nasgor sejak zaman pikulan pada 1977 saat ditemui wartawan koran ini, Sabtu (11/5).

Fatkur dan Suratman merupakan kakak-beradik. Keduanya adalah penerus ayah mereka, almarhum Abdul Manab alias Mbah Gerot. Di antara lima anak lelaki Mbah Gerot yang melanjutkan usahanya, tinggal mereka berdua yang masih bertahan hingga kini. “Dulu saya ikut kakak waktu masih zaman jualan keliling pakai pikulan,” kisah Fatkur.

Fatkur dan Suratman yang memiliki gerobak sendiri-sendiri memilih berjualan di sekitar Jl. S. Parman, Burengan. Ansori di Jl. Mayor Bismo, Semampir. Adapun teman-temannya di gang tersebut ada yang di Jl. Hayam Wuruk, Jl, Brawijaya, Jl. Dhoho, serta jalan-jalan lain di sekitarnya. “Semua menyebar,” imbuh Ansori yang sejak SD sudah sering ikut berjualan di Jl. Dhoho bersama tetangganya itu.

Khusus yang di Jl. Dhoho, para pedagang nasgor itu baru masuk di atas pukul 21.00 setelah toko-toko di sana tutup. Mereka itulah yang berdampingan dengan para pedagang lesehan nasi pecel dan tumpang. Sebelumnya, mereka berjualan menyebar di jalan-jalan kecil di sekitarnya.

Di gang limas yang tembus hingga Jl. Teuku Umar dan gang-gang lainnya, aktifitas pedagang nasgor sudah dimulai sejak pukul 06.00, bahkan lebih pagi. Padahal, mereka biasanya baru pulang berjualan di atas pukul 01.00 dini hari. Ini berarti, mereka hanya punya waktu beristirahat kurang dari lima jam sebelum beraktifitas lagi.

Para enterpreneur kaki lima itu memulainya dengan belanja kebutuhan dagangan di pasar. Terutama ayam dan sayuran berupa sawi hijau dan kubis. Untuk ayam, mereka biasanya membeli di Pasar Banjaran. “Harus ayam kampung,” kata Ansori.

Ayam itu kemudian dibawa pulang untuk disembelih dan dibersihkan bulunya. Karena banyak pedagang nasgor, ada salah seorang yang bekerja sebagai “tukang bubut” di gang tersebut. Dialah yang menerima order membersihkan ayam-ayam yang dibeli para penjual nasgor itu.

Bagi Ansori dkk, keberadaan tukang bubut itu cukup membantu. Memang, ada ongkos yang dibayar untuk setiap ekor. Tapi, itu sepadan dengan penghematan waktu yang bisa mereka dapat. Sebab, saat ayam dibersihkan, mereka bisa mengerjakan yang lain seperti membuat bumbu, membersihkan dan memotong sayuran, atau yang lain. “Kami terima sudah dalam bentuk daging,” terangnya.

Daging ayam itulah yang kemudian direbus. Biasanya dengan daun bawang agar aromanya lebih harum. Air rebusannya lantas menjadi kaldu yang digunakan untuk memasak mi atau sup. Adapun dagingnya yang telah matang ditiriskan, digunakan untuk campuran menu mereka, diiris tipis-tipis.

Ansori memperkirakan, ada sekitar 150 pedagang nasgor yang berasal dari Ngaglik. Sebagian di antaranya lantas pindah tempat tinggal. Terkadang karena menikah, terkadang karena tuntutan untuk mendekati lokasi jualannya. “Tapi, mereka tetap punya keterikatan dengan Ngaglik,” terangnya.

Keterampilan mereka memasak nasgor dan mi khas Kediri itu diperoleh secara otodidak. Ada yang dari orang tua, saudara, maupun tetangga-tetangganya. Seperti Fatkur yang merupakan keturunan Mbah Gerot. Dia justru tidak memperoleh pengetahuan mengolah nasi goreng dan mi goreng itu dari ayahnya langsung, melainkan dari kakaknya. Yaitu, dengan menjadi asistennya terlebih dulu saat masih berjualan keliling dengan pikulan. Setelah kakaknya tidak berjualan, dia yang melanjutkan.

Demikian pula Ansori, sebelum berjualan sendiri tujuh tahun terakhir, dia sempat menjadi asisten Edi Pramono, teman sekaligus tetangganya yang lebih dulu berkiprah sebagai PKL nasgor. Apalagi, sejak SD dia sudah sering ikut-ikutan membantu tetangganya berjualan hingga ke Jl. Dhoho. Sehingga, tanpa disadari, ilmu kuliner khas Kediri itu sudah meresap di buluh nadinya sejak masih kecil.

Padahal, sebelum itu, Ansori sempat bekerja di beberapa tempat. Mulai distributor makanan anak-anak hingga menjalankan armada angkutan milik keluarganya sendiri. Itu juga terjadi pada Suratman alias Pak Ndut yang sebelumnya sempat berjualan sandal.

Namun, Ngaglik sebagai kampung kuliner nasgor khas Kediri tampaknya memanggil alam bawah sadar mereka. Darah enterpreneur tangguh PKL nasgor mengalir deras di tubuhnya. Merekalah yang diakui atau tidak, ikut menggerakkan perekonomian riil Kota Kediri. Bahkan ikut membuat kota ini terkenal hingga ke luar karena kuliner nasgor dan mi goreng khasnya.

Resep Asli Kediri Berusia Seabad Lebih

Sejak kapan sebenarnya kuliner nasi goreng (nasgor) dan mi goreng khas Kediri itu muncul? Tak ada yang mengetahui pasti. Namun, sejumlah sumber di Ngaglik memperkirakan sudah ada sejak zaman penjajahan.

Sardjan (75), salah satu pedagang nasgor paling senior di Ngaglik yang masih aktif hingga kini, mengaku sudah berjualan sejak 1963. Tepatnya setelah menikah dengan Rusmi (65).

Dia mengawalinya dengan menjadi asisten orang lain, yaitu almarhum Mbah Mayar. “Yang membantu Pak Mayar banyak, salah satunya saya,” kisahnya saat ditemui Radar Kediri di rumahnya, Sabtu (11/5) lalu.
Mbah Mayar adalah salah satu tokoh pedagang nasgor khas Kediri. Yang seangkatan dengannya dan namanya masih menjadi trade mark hingga kini adalah Mbah Riman alias Mbah Man.

Sardjan ikut membantu dengan membawa pikulannya keliling Kota Kediri. Dulu, dia bisa berjualan di kawasan pecinan, sekitar Jl. Pattimura dan Jl. Yos Sudarso (Kelenteng Tjoe Hwie Kiong). “Yang membantu Pak Mayar banyak, salah satunya saya,” lanjut dia.

Berbeda dengan sekarang yang menggunakan gerobak dorong, dulu para pedagang nasgor harus mengangkut dagangannya dengan pikulan. Pikulan sebelah kanan berisi blek atau kaleng bekas berisi kuah dan angklo atau tungku tanah. Sedangkan, pikulan sebelah kiri berisi daging ayam, sayuran, bumbu-bumbu, nasi, serta mi siap masak. “Dulu kuah masih disimpan di blek bekas wadah minyak goreng, bukan dandang seperti sekarang,” ungkap Sardjan.

Berat seluruh barang yang harus dipikul keliling itu sekitar 60 kilogram. Meski sudah terbiasa, diakuinya, terkadang terasa berat juga. Pada 1969, setelah memiliki anak, Sardjan mulai berjualan sendiri. Tapi, tetap dengan pikulan.

Baru sekitar 1975 dia bisa berjualan dengan gerobak dorong. Itu pun gerobak bekas jualan bubur kacang hijau dari mertuanya. “Tahun-tahun itu, rombong (gerobak dorong, Red) masih sangat jarang. Wong tahun itu untuk mencari baut kayunya saja di Kediri tidak ada,” tuturnya yang kini berjualan dengan gerobak dorongnya di depan Rumah Sakit (RS) Bhayangkara.

Baru pada 1980-an gerobak dorong bermunculan. Pikulan pun ditinggalkan karena berat. “Pakai rombong lebih praktis. Tinggal mendorong,” sambungnya. Ada tukang khusus yang bisa membuatnya.

Akan tetapi, bentuk pikulan itu masih ada yang mempertahankannya. Hanya, tidak lagi dibawa keliling. 
Melainkan sekedar sebagai ‘aksesoris’ di warungnya yang telah menetap. Hal itu antara lain bisa dilihat di warung Pak Temon di kawasan ‘cemoro’ dekat kompleks pabrik PT Gudang Garam (GG) atau di warung milik Sriatun (64), di Dandangan.

Sriatun adalah keponakan Mbah Riman yang menjadi salah satu penerusnya. “Mbah Riman sendiri tidak punya anak,” ungkapnya. Dulu, Mbah Riman alias Mbah Man berjualan di Jl. Stasiun. Setelah Mbah Riman meninggal pada 1980-an, usahanya diteruskan sang istri. Tapi, sang istri memilih buka warung sendiri di rumahnya, Dandangan. Adapun yang di Jl. Stasiun diteruskan oleh orang-orang yang dulu membantunya. “Setelah Mbah Riman putri meninggal, ganti saya sekarang yang melanjutkan,” lanjutnya.

TRADISIONAL: Sriatun, penerus Mbah Riman, yang mempertahankan pikulan di warung nasi/mi gorengnya di Dandangan.
 Mbah Riman atau Mbah Mawar sudah berjualan nasi goreng sejak 1950-an. Namun, keduanya bukanlah tokoh yang ‘babat’ usaha kuliner nasi dan mi goreng khas Kediri. Mereka juga belajar dari orang lain. “Pak Riman pendatang yang belajar ke mbah saya, Mbah Kusnadi. Mbah saya dulu punya banyak pikulan yang dijalankan orang lain, salah satunya Pak Riman,” tutur Sriatun.

Ini dibenarkan oleh Edi Pramono, anak Mbah Mayar, yang kini juga berjualan nasgor di belakang Hotel Penataran. Menurut dia, ayahnya bukanlah generasi awal kuliner nasi goreng khas Kediri. “Dulu, bapak belajar dari mbah saya, Mbah Urip dan Mbah Singokarso. Bersama pakde saya, Pak Moyong,” jelas warga Ngaglik ini.

Padahal, lanjut Edi, ayahnya sendiri konon kelahiran 1912. “Nah, dari mana mbah saya itu belajar, saya sudah tidak tahu. Tapi, yang jelas, sejak zaman penjajahan Belanda maupun Jepang, ayah dan mbah saya sudah jualan nasi goreng,” lanjut dia.

Panijan (75), warga Ngaglik lainnya, membenarkan hal itu. sebab, dia pernah ikut jualan bersama Mbah Moyong pada 1940-an. Tepatnya saat agresi militer Belanda ke Indonesia. “Saya ditembaki Belanda itu ya waktu ikut jualan di Pasar Pagu bersama Pak Moyong,” kisahnya.

Sepanjang waktu tersebut, setahu Panijan, resep khas nasi dan mi goreng itu ya berasal dari orang-orang Kediri sendiri seperti Mbah Mayar atau Mbah Moyong dan generasi sebelumnya. Bukan dari resep Tiongkok, misalnya, yang juga terkenal dengan aneka olahan mi-nya. “Seumur hidup saya, yang namanya nasi goreng dan mi goreng Kediri itu bumbunya ya begini ini,” tandasnya saat ditemui di tempat jualan Edi. Ya, resep yang boleh jadi sudah berusia lebih dari seabad hingga sekarang. Resep asli Kediri!

Dulu kalau Mau Tambah Telur Harus ‘Nggegem’ Sendiri

Bagi orang luar, sangat jelas perbedaan nasi/mi goreng Kediri dengan menu serupa dari daerah lain. Coba saja lihat dari tungkunya. Hingga kini, para penjualnya tetap mempertahankan tungku dari tanah liat dengan bahan bakar arang. Bukan kompor minyak atau kompor gas.

Arang di atas tungku itulah yang dikipasi dengan kipas tradisional dari anyaman bambu. Meskipun, sejak beberapa tahun lalu, banyak yang beralih ke kipas elektrik hasil modifikasi sendiri. Memasaknya juga satu-satu, tidak massal. “Sekali masak hanya untuk satu porsi,” jelas Ansori (38), pedagang nasgor asal ‘gang limas’ Ngaglik.

Makanya, jika ada pesanan delapan porsi sekaligus, berarti harus delapan kali memasak. Tapi, justru itu yang menjadi salah satu kunci kelezatan kuliner khas Kediri ini. Sebab, dengan sekali masak untuk satu porsi, menu yang disajikan selalu fresh. Takaran bumbunya pun selalu pas. Bahan bakar arang juga membuat aromanya khas.

Cara pembuatan bumbunya pun berbeda. Mungkin, dengan menu daerah lain, sama-sama menggunakan bawangnya. Akan tetapi, untuk nasi/mi goreng Kediri, bawangnya tidak digeprek langsung. Melainkan, ditumbuk lalu dicampurkan ke dalam minyak goreng. Minyak yang mengeluarkan bau harum itulah yang kemudian digunakan memasak. “Bawangnya jangan diblender atau digiling. Baunya akan hilang,” beber Fatkur (44).

Dan, ini yang membuat tampilan nasi goreng Kediri berbeda dengan yang lain. Yakni, tidak menggunakan saus tomat, melainkan kecap manis. Itu pun hanya sedikit -meski belakangan ada pula yang menggunakan takaran lebih banyak sesuai selera. Makanya, warnanya tidak merah, melainkan kecokelatan.

Sementara, mi-nya merupakan mi gepeng berukuran besar-besar. Bukan mi keriting. Mi itu diproduksi oleh pabrik di Kota Kediri sendiri. “Kalau saya ke Kediri, yang paling saya rindukan ya nasi goreng dan mi-nya,” aku Abdul Aziz (40), pengusaha asal Blitar, yang ditemui wartawan koran ini dini hari, pekan lalu. Bersama teman-temanya dari berbagai kota, jika sedang ke Kediri, dia sering mampir Jl. Dhoho untuk menikmati kuliner tersebut. Tak jarang dia memesan dua porsi sekaligus seperti dini hari itu.

TUNGKU ARANG: Ansori memasak nasgor pesanan
 Sardjan (75), menuturkan, tak banyak perubahan dari nasi dan mi goreng Kediri sejak pertama kali dia berjualan pada 1960-an. Bumbu utamanya tetap sama. Yang berubah hanya modifikasinya. Salah satunya soal telur. “Sampai 1980-an, jarang yang menggunakan telur,” tuturnya.

Maklum, hingga dekade itu, telur masih menjadi  barang mewah bagi orang kebanyakan. Hanya orang mampu yang bisa mengonsumsinya. “Dulu, kalau mau tambah telur ya bawa sendiri. Biasanya ya orang-orang China itu. Telurnya digegem (digenggam, Red), terus diserahkan ke saya untuk ikut dimasak,” kisah Sardjan.

Lalu, apa gantinya telur untuk pesanan yang  ‘standar’? Ayah tujuh anak dan kakek sembilan cucu ini menyebut perkedel. Tapi, bukan perkedel kentang, melainkan perkedel ketela. Bukan untuk lauk, melainkan untuk diiris-iris, lalu dicampurkan ke dalam mi atau sup sebagai campuran bumbu. “Gurihnya dari perkedel itu,” bebernya.

Tak Lekang dengan Regenerasi Alamiah

Sebagai kuliner khas yang sudah tahan uji, usia bisnis nasi/mi goreng Kediri yang termasuk kelompok usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM) ini masih sangat panjang. Apalagi melihat gairah generasi muda di Lingkungan Ngaglik, Dandangan yang tak pernah sepi dari bisnis ini.

Tokoh-tokoh seniornya pun sudah mendidik keturunannya hingga usaha itu terus berkembang dan berkelanjutan. Bahkan, banyak di antara mereka yang kemudian mendirikan cabang di luar kota dan luar pulau dengan label: Nasi/Mi Goreng Khas Kediri.

SENIOR: Sardjan dengan gerobak dorongnya
Seperti Sardjan (75), dari keenam anaknya yang masih hidup (seorang meninggal, Red), ada tiga yang membuka usaha serupa. “Satu di Katang (Kediri, Red), satu di Surabaya, satu lagi di Sumatra,” ungkapnya. Ketiga anaknya itu menggunakan resep serupa dari Sardjan. Seorang lagi memilih berjualan mi pangsit, berbeda dengan ayahnya.

Hal serupa dilakukan Sriatun (64), penerus nasgor Mbah Riman. Anak perempuannya membuka cabang di Malang. “Ramai juga di sana, bahkan lebih ramai daripada di sini,” katanya. Sebagian bumbu dan bahannya diambil langsung dari Kediri. Termasuk, mi gepeng berukuran besar yang memang diproduksi di Kediri. Mi itulah yang khas pada mi goreng Kediri. “Kalau pulang sampai harus bawa mobil boks untuk kulakan mi-nya,” ucap Sriatun bangga.

Sriatun memang pantas berbangga. Anaknya yang mantan vokalis band Kediri itu sebenarnya  juga sudah bekerja di bank. Akan tetapi, justru dari usaha kuliner warisan tersebut ekonominya berputar lebih cepat. “Katanya, dari mana bisa beli mobil kalau tidak jualan nasi goreng,” tuturnya.

Memang, dengan ratusan pedagang mi/nasi goreng di Ngaglik, Dandangan, omset yang berputar dari usaha itu bisa mencapai puluhan juta semalam. Mereka ikut menggerakkan roda perekonomian di sekitarnya. Mulai dari pedagang sayuran, pedagang telur, hingga pedagang ayam.

Beberapa pebisnis besar yang jeli, ikut menggandeng mereka. Misalnya untuk minumannya. Maklum, jika semalam satu pedagang bisa menghabiskan satu krat saja, sudah ratusan krat minuman terjual tiap malam. “Padahal, ada yang bisa habis sepuluh krat semalam,” ungkap Fatkur.

Dengan potensi yang sedemikian besar, sebenarnya Fatkur dan banyak pedagang lain berharap, pemerintah mempunyai program nyata untuk mereka. Salah satunya menyediakan tempat khusus untuk sentra kuliner nasi/mi goreng Kediri. “Seperti soto ayam buk ijo di terminal itu,” harapnya.

Monday, February 20, 2012

satu lagi dari ....

"Ga bisa, Mas. Kalau kelamaan, nanti malam-malam. Kasihan yang sekolah."
Aku cuma bisa tersenyum mendengar penjelasan dari orang yang berdiri di depanku. Tidak perlu hitungan detik untuk mengingat kembali kalimat "Tutupnya sampai habis pengunjung, Mas." saat pertama kali aku datang ke tempat itu.
Jadi, dimana letak kejanggalannya disini?
Sambil duduk, kupandangi layar. Ah, kutulis aja. Lumayan buat nambahin artikel.
...
...
...
Kaya' gini kok kota mau maju...
Tak sadar, aku teringat seseorang. Seseorang yang mengajarkan tentang apa itu konsistensi. ^_^ Mempertahankan memang lebih sulit daripada meraih. Namun, seseorang itu mampu membuat apa yang harus dipertahankan menjadi lebih mudah.
Salut deh, Mas. Disini masih belum ada yang -menurutku- menandingi durability L*c*Comp. Ibarat kaskuser, "kasih cendol" ah.... :-)

Dan laiknya apa yang seperti yang diajarkannya padaku.
Ini yang terakhir aku melihat tempat ini. Semoga.

Tuesday, November 08, 2011

Narkoba

Tanda-tanda Kemungkinan Penyalahgunaan Narkotika dan Zat Adiktif

Fisik

  • berat badan turun drastis
  • mata terlihat cekung dan merah, muka pucat, dan bibir kehitam-hitaman
  • tangan penuh dengan bintik-bintik merah, seperti bekas gigitan nyamuk dan ada tanda bekas luka sayatan. Goresan dan perubahan warna kulit di tempat bekas suntikan
  • buang air besar dan kecil kurang lancar
  • sembelit atau sakit perut tanpa alasan yang jelas

Emosi

  • sangat sensitif dan cepat bosan
  • bila ditegur atau dimarahi, dia malah menunjukkan sikap membangkang
  • emosinya naik turun dan tidak ragu untuk memukul orang atau berbicara kasar terhadap anggota keluarga atau orang di sekitarnya
  • nafsu makan tidak menentu

Perilaku

  • malas dan sering melupakan tanggung jawab dan tugas-tugas rutinnya
  • menunjukkan sikap tidak peduli dan jauh dari keluarga
  • sering bertemu dengan orang yang tidak dikenal keluarga, pergi tanpa pamit dan pulang lewat tengah malam
  • suka mencuri uang di rumah, sekolah ataupun tempat pekerjaan dan menggadaikan barang-barang berharga di rumah. Begitupun dengan barang-barang berharga miliknya banyak yang hilang
  • selalu kehabisan uang
  • waktunya di rumah kerapkali dihabiskan di kamar tidur, kloset, gudang, ruang yang gelap, kamar mandi, atau tempat-tempat sepi lainnya
  • takut akan air. Jika terkena akan terasa sakit, karena itu mereka jadi malas mandi
  • sering batuk-batuk dan pilek berkepanjangan
  • sikapnya cenderung jadi manipulatif dan tiba-tiba tampak manis bila ada maunya, seperti saat membutuhkan uang untuk beli obat
  • sering berbohong dan ingkar janji dengan berbagai macam alasan
  • mengalami jantung berdebar-debar
  • sering menguap
  • mengeluarkan air mata dan keringat berlebihan
  • sering mengalami mimpi buruk
  • mengalami nyeri kepala dan sendi-sendi

Komunikasi Orangtua – Anak Mencegah Penyalahgunaan Alkohol
dan Obat-obatan

Di bawah ini adalah beberapa tips dasar untuk meningkatkan kemapuan diskusi dengan anak-anak Anda tentang alkohol dan obat-obatan terlarang:
  • Jadilah pendengar yang baik.
  • Sediakanlah waktu untuk mendiskusikan hal-hal yang sensitif.
  • Berikanlah dorongan.
  • Sampaikan pesan dengan jelas.
  • Berilah contoh yang baik.
Tips berkomunikasi dengan anak:

Mendengarkan

  1. Berikan perhatian penuh
  2. Jangan memotong pembicaraan anak. Biarkan sang anak berbicara dan kemudian menanyakan tanggapan Anda.

Memperhatikan

  1. Perhatikan ekspresi/mimik muka dan bahasa tubuh anak.
  2. Sepanjang diskusi dengan anak Anda ini berlangsung, perhatikan apa yang dikatakannya.

Menanggapi

  1. “Saya sangat tertarik dengan ……” atau “Saya mengerti bahwa hal itu memang sangat sulit ……” adalah ungkapan yang lebih baik dibandingkan: “Seharusnya kamu ……” atau “Kalau saya seperti kamu ……” atau “Waktu saya seumur kamu, saya ……”
  2. Jika anak Anda menyampaikan hal-hal yang sesungguhnya tidak ingin Anda dengar, jangan diabaikan.
  3. Janganlah memberikan nasihat setelah setiap kalimat yang anak Anda nyatakan.
  4. Yakinkan bila Anda mengerti apa yang dimaksud oleh anak Anda. Bila perlu, tanyalah untuk konfirmasi.

Pengobatan Narkoba:
  1. Pengobatan adiksi (detoks)
  2. Pengobatan infeksi
  3. Rehabilitasi
  4. Pelatihan mandiri

Pencegahan Narkoba:
  1. Memperkuat keimanan
  2. Memilih lingkungan pergaulan yang sehat
  3. Komunikasi yang baik
  4. Hindari pintu masuk narkoba, yaitu rokok.

Pertolongan Pertama

Pertolongan pertama penderita dimandikan dengan air hangat, minum banyak, makan makanan bergizi dalam jumlah sedikit dan sering dan dialihkan perhatiannya dari narkoba. Bila tidak berhasil perlu pertolongan dokter. Pengguna harus diyakinkan bahwa gejala-gejala sakaw mencapai puncak dalam 3-5 hari dan setelah 10 hari akan hilang.

Empat Cara Alternatif Menurunkan Resiko atau “Harm Reduction”

  1. Menggunakan jarum suntik sekali pakai
  2. Mensucihamakan (sterilisasi) jarum suntik
  3. Mengganti kebiasaan menyuntik dengan menghirup atau oral dengan tablet
  4. Menghentikan sama sekali penggunaan narkoba