Friday, May 27, 2011

Kota Kediri Diserbu Mall

Pemilik Toko Terancam Gulung Tikar
Menjamurnya pengusaha mal yang memperluas usahanya di Kota Kediri menjadi ancaman serius bagi para pengusaha lokal. Bisa jadi, pengusaha lokal yang membuka usaha di pertokoan dan rumah toko (ruko) terancam gulung tikar.

Saat ini, di Kota Kediri sudah berdiri dua mal besar, Golden Swalayan (buka tahun 1994) serta Kediri Mall (dahulu bernama Sri Ratu, buka tahun 2001) di Jalan Hayam Wuruk. Dua mal besar lainnya kini tengah dibangun, yakni Ramayana Mall di Jalan Panglima Sudirman dan Matahari Mall yang berlokasi di Jalan Hasanudin.

Berdasarkan survei yang dilakukan Aliansi Mahasiswa Peduli Pembangunan Kota Kediri (AMPPK2) dampak dari berdirinya Kediri Mall dalam tiga tahun terakhir, telah mengakibatkan tutupnya puluhan pengusaha pertokoan. Sebagian besar pemilik usaha toko yang tutup itu merupakan warga ber-KTP Kota Kediri.

“Dari hitungan kami, setiap tahun sekitar 30 persen pemilik toko dan ruko yang tutup karena usahanya sepi. Mereka kalah bersaing dengan mal dan pasar swalayan,” ungkap Aris Cahyo Widigdo, Koordinator AMPPK2.

Dampak dari keberadaan satu mal saja sudah membuat usaha pertokoan banyak yang gulung tikar. Diprediksi jika ada dua atau tiga mal besar yang mulai beroperasi, bisa dipastikan semakin banyak lagi pengusaha toko yang terancam bangkrut.
Dijelaskan Aris, berdasarkan hasil penelitiannya keberadaan Kediri Mall telah membuat pengusaha toko menjadi kalah bersaing dalam pelayanan. “Mayoritas pengunjung sekarang lebih suka belanja di mal yang lebih luas dan nyaman,” tambahnya.

Ancaman Serius
Aris juga memprediksi pembangunan Ramayana Mall di Jalan Panglima Sudirman diprediksi mematikan ratusan usaha pertokoan dan ruko yang ada di daerah sekitarnya. Termasuk pertokoan yangada di Jalan Dhoho yang selama ini menjadi ikon pusat bisnis di Kota Kediri.

Usaha pertokoan di Kota Kediri diprediksi banyak yang gulung tikar karena pengunjung tersedot belanja di mal yang lebih besar. “Sebagian pengusaha toko yang kami temui juga mengaku khawatir usahanya terancam karena dipastikan mereka akan kalah bersaing,” ungkapnya.

Aris juga mempertanyakan izin analisa mengenai dampak lingkungan (Amdal) pembangunan Ramayana Mall karena sampai sekarang warga yang ada di sekitarnya belum pernah dimintai persetujuan. Pembangunan Ramayana Mall kini terus dikebut pagi hingga malam karena ditargetkan sebelum bulan puasa mendatang sudah harus tuntas. Warga sekitar juga mengeluhkan suara bising mesin proyek yang tetap menderu di malam hari.

Menyusul kekhawatiran warga tersebut, AMPPK2 telah mengirimkan surat petisi ke DPRD Kota Kediri. Para mahasiswa meminta anggota dewan untuk lebih pro aktif memberikan perlindungan kepada para pengusaha lokal yang terancam serbuan pengusaha mall.
“Kami minta anggota dewan lebih pro aktif memberikan proteksi pengusaha lokal. Paling tidak pendirian toko modern harus sesuai dengan tata ruang yang ada di Kota Kediri,” tambahnya.

Dikonfirmasi terpisah, Kabag Humas Pemkot Kota Kediri, Tri Krisminarno menjelaskan izin Amdal pembangunan Ramayana Mall tidak ditangani pemkot, tapi langsung ditangani Kantor Lingkungan Hidup Pemprov Jatim. “Setahu kami sudah proses sidang penetapan. Tapi apakah izin Amdal-nya sudah turun atau belum yang mengetahui permohonannya,” jelasnya.

Dari Segi Modal, Kami Kalah Telak
Salah satu pengusaha toko di Kota Kediri saat dikonfirmasi mengaku kini mulai resah dan gelisah menyusul semakin banyaknya pengusaha mal yang berinvestasi di kotanya. Masalahnya, serbuan mal tersebut bakal mematikan pengusaha lokal.

“Dari segi permodalan jelas kami akan kalah telak. Mereka mengambil barang langsung dari pabrikan, sedangkan kami harus lewat agen sehingga selisih harganya sudah besar,” ungkap pengusaha yang minta namanya tidak dikorankan.

Diakuinya, dengan adanya tambahan dua mal besar di Kota Kediri pada tahun ini dipastikan usahanya kalah bersaing. Apalagi lokasi kedua mal itu menjepit kawasan pertokoan di Jalan Dhoho karena Ramayana berlokasi di sisi selatan dan Matahari di utara.

“Dua mal itu dikenal pakaian dan alat kebutuhan sehari-hari lebih unggul. Padahal mayoritas pemilik toko di Jalan Dhoho penjual baju dan kebutuhan sehari-hari, sehingga usaha kami juga terancam,” papar pengusaha yang membuka usaha di Jalan Dhoho. Diungkapkan, kalangan pengusaha juga menyesalkan tidak adanya perlindungan bagi pengusaha lokal dari aparat pemerintah. Sehingga dua mal besar itu lolos mendapatkan perizinan membuka usaha di Kota Kediri.

“Prospek usaha di Kota Kediri memang sangat bagus, tapi kalau yang berebut semakin banyak, kami yang bermodal kecil bakal tersisih. Ke depan, pengusaha lokal hanya jadi penonton saja,” tuturnya.

Lebih Selektif Terbitkan Izin
Anggota DPRD Kota Kediri, H. Sunarko mengakui keberadaan mal akan membawa dampak negatif dan positif. Dampak negatifnya, pengusaha kecil pertokoan bakal terancam, namun positifnya mampu menyerap banyak tenaga kerja.

Untuk mengantisipasi dampak negatifnya, pemkot harus lebih selektif mengeluarkan izin Amdal. Selain itu, tambahan mal harus dikaji lebih mendalam sehingga tidak merugikan. “Menjamurnya Alfamart dan Indomaret saja memberi dampak bagi usaha toko kecil, apalagi ada mal,” tambahnya.

Produk Lokal Harus Diberi Tempat
Wakil Wali Kota Kediri Abdullah Abubakar mengakui serbuan pengusaha mal bakal mengancam eksistensi para pengusaha lokal. Selain itu, semakin menjamurnya mal juga mengakibatkan tingkat konsumsi menjadi tinggi sehingga berpengaruh pada tingkat inflasi.

Dijelaskan Abdullah, tambahan dua mal besar berdampak semakin terjepitnya pengusaha toko yang umumnya dimiliki pengusaha lokal. “Kami sendiri juga kaget, ternyata ada dua mal besar yang akan beroperasi mulai tahun ini,” ujarnya.

Untuk mengantisipasi dampak negatifnya, pihak pemkot akan membuat agreement dengan para pengusaha mal untuk memberikan peluang masuknya produk-produk lokal.
“Produk lokal Kota Kediri harus diberi tempat yang layak dipasarkan di mal, termasuk tenaga kerja yang bakal diserap nanti 90 persen harus memprioritaskan masyarakat kota,” tandasnya.

Thursday, May 26, 2011

Mesin Penyedot Pul$a Bernama RBT

“Terima kasih untuk tetap berlangganan RBT Dirimu Satu”. Kalimat tersebut tiba-tiba masuk ke HP saya. Satu hal yang sangat aneh, karena saya tidak pernah mendaftarkan diri ke 1212 ataupun tertarik dengan RBT. Bagi saya RBT tak lebih dari mesin penyedot pulsa konsumen. Di beberapa situs forum seperti kaskus ternyata kasus seperti yang saya alami banyak pula dialami pengguna telepon dengan semua provider.

Hingga kini saya lihat Badan Regulasi dan Telekomunikasi Indonesia (BRTI) belum bisa membenahi karut-marut masalah ini. Yang paling mengenaskan lagi, di situs 3 (Tri), tidak dijelaskan secara gamblang bagaimana menghentikan RBT. Untuk sekedar menghentikan RBT ini saja, saya harus menelusuri internet dan membuka situs-situs diskusi atau blog uneg-uneg konsumen. Satu hal yang pasti untuk unreg saja kita harus membuang-buang pulsa, lebih dari sepuluh ribu rupiah pulsa kita tersedot untuk hal remeh seperti ini.

Setelah saya cek ternyata modusnya pertama konsumen diberi layanan RBT gratis, yang ternyata menjadikan dalih bagi provider untuk mengesahkan bahwa pengguna tertarik dengan RBT. Lepas dari setuju atau tidak, pulsa pelanggan akan terpotong secara otomatis. Sampai kapan hal ini akan berakhir? Berapa pengguna seluler lagi yang akan diakali? Sampai kapan pula kita terganggu dengan iklan-iklan dari provider yang sering menjebak kita.

Sunday, May 22, 2011

Bendera Pusaka dan Paskibraka

Sejarah Bendera Pusaka
Proklamasi Kemerdekaan RI dikumandangkan pada hari Jum’at, 17 Agustus 1945, pukul 10 pagi di Jalan Pegangsaan Timur 56 Jakarta. Setelah pernyataan kemerdekaan Indonesia, untuk kali pertama secara resmi bendera kebangsaan Merah Putih dikibarkan oleh dua orang muda-mudi dan dipimpin Latief Hendraningrat. Bendera ini dijahit tangan oleh Ibu Fatmawati Soekarno (ukuran 185x275cm) dan bendera ini pula yang kemudian disebut “Bendera Pusaka”.Bendera pusaka berkibar siang dan malam di tengah hujan tembakan sampai Ibukota Republik Indonesia dipindahkan ke Yogyakarta pada tahun 1946. Bendera Pusaka dibawa ke Yogyakarta dan dimasukkan dalam kopor pribadi Presiden Soekarno. Selanjutnya Ibukota Republik Indonesia dipindahkan ke Yogyakarta.

Tanggal 19 Desember 1948, Belanda melancarkan agresi militer yang kedua. Pada saat Istana Presiden Gedung Agung Yogyakarta dikepung oleh Belanda,Presiden memanggil Hussein Mutahar dan menugaskannya untuk menyelamatkan Bendera Pusaka.

Untuk menyelamatkan Bendera Pusaka itu, Hussein Mutahar harus memisahkan antara bagian merah dan putihnya. Dengan dibantu Ibu Perna Dinata, benang jahitan diantara bendera pusaka tersebut berhasil dipisahkan. Selanjutnya, bendera pusaka tersebut dimasukkan pada dasar dua tas milik Hussein Mutahar untuk menghindari penyitaan yang dilakukan tentara Belanda.

Setelah sekian lama dan merasa aman, Hussein Mutahar menjahit kembali bendera pusaka yang terpisah dua itu dengan meminjam mesin jahit milik seorang istri dokter. Akan tetapi, dua centimeter dari ujung bendera pusaka terdapat sedikit kesalahan jahitan. Kemudian hari, dengan dibungkus kertas koran, bendera pusaka tersebut diserahkan kembali kepada Presiden RI Soekarno di Bangka (tempat pengasingan) melalui Bapak Soejono (Delegasi RI).

Sebagai penghargaan atas jasa menyelamatkan Bendera Pusaka yang dilakukan oleh Hussein Mutahar, Pemerintah RI telah menganugerahkan Bintang Mahaputra pada tahun 1961 yang disematkan sendiri oleh Presiden Soekarno.

Pengibaran Bendera Merah Putih di Gedung Agung Yogyakarta
Menjelang peringatan Hari Ulang Tahun Ke-2 Kemerdekaan Republik Indonesia, Presiden Soekarno memanggil salah seorang ajudan beliau, Mayor (L) Hussein Mutahar. Selanjutnya Hussein Mutahar diberikan tugas mempersiapkan dan memimpin upacara peringatan Proklamasi Kemerdekaan RI tanggal 17 Agustus 1946 di halaman Istana Presiden Gedung Agung Yogyakarta.

Hussein Mutahar mempunyai pemikiran bahwa untuk menumbuhkan rasa persatuan bangsa, maka pengibaran Bendera Pusaka sebaiknya dilakukan oleh pemuda se-Indonesia. Kemudian beliau menunjuk 5 (lima) orang pemuda yang terdiri atas 3 (tiga) putri dan 2 (dua) putra perwakilan daerah yang berada di Yogyakarta. Penunjukan atas 5 (lima) orang tersebut sebagai simbol dari Pancasila.

Pengibaran Bendera Pusaka ini berlanjut tahun berikutnya sampai tahun 1949 di Yogyakarta. Setelah empat tahun ditinggalkan, Jakarta kembali menjadi Ibukota RI. Pada hari itu, Bendera Pusaka Sang Merah Putih juga dibawah ke Jakarta.

Untuk kali pertama peringatan HUT Proklamasi Kemerdekaan RI tanggal 17 Agustus 1950 diselenggarakan di Istana Merdeka Jakarta. Regu-regu pengibar dari tahun 1950-1966 dibentuk dan diatur oleh Rumah Tangga Kepresidenan.

Pembentukan Pasukan Pengerek Bendera Pusaka Tahun 1967-1968
Tahun 1967, Hussein Mutahar dipanggil oleh Presiden Soeharto ke Istana Negara Jakarta untuk menangani lagi masalah Pengibaran Bendera Pusaka. Dengan ide dasar dari pelaksanaan upacara tahun 1946 di Yogyakarta, beliau kemudian mengembangkan lagi formasi pengibaran menjadi 3 (tiga) kelompok, yaitu:
  1. Kelompok 17/Pengiring(PEMANDU)
  2. Kelompok 8/Pembawa (INTI)
  3. Kelompok 45/Pengawal
Ini merupakan simbol dari tanggal Proklamasi Kemerdekaan RI, 17 Agustus 1945 (17-8-45). Pada waktu itu, dengan situasi kondisi yang ada, beliau melibatkan putra daerah yang ada di Jakarta dan menjadi anggota Pandu/Pramuka untuk melaksanakan tugas Pengibaran Bendera Pusaka.

Semula rencana beliau untuk kelompok 45 (pengawal) akan terdiri atas para Mahasiswa AKABRI (Generasi Muda ABRI). Akan tetapi ketika ada usulan lain menggunakan anggota Pasukan Khusus ABRI (seperti RPKAD, PGT, Marinir dan Brimob) juga tidak mudah, akhirnya kelompok 45 (pengawal) diambil dari Pasukan Pengawal Presiden (PASWALPRES) yang mudah dihubungi dan sekaligus mereka bertugas di Istana Negara.

Pada 17 Agustus 1968, petugas pengibar Bendera Pusaka adalah para pemuda utusan propinsi. Tetapi propinsi-propinsi belum seluruhnya mengirimkan utusan sehingga masih harus ditambah oleh eks anggota pasukan pengibar tahun 1967.

Tanggal 5 Agustus 1969, di Istana Negara berlangsung upacara penyerahan duplikat Bendera Pusaka Merah Putih dan reproduksi Naskah Proklamasi oleh Presiden Soeharto kepada Gubernur/Kepala Daerah Tingkat I seluruh Indonesia.

Bendera duplikat pusaka mulai dikibarkan menggantikan Bendera Pusaka pada peringatan Hari Ulang Tahun Proklamasi Kemerdekaan RI tanggal 17 Agustus 1969 di Istana Merdeka Jakarta, sedangkan Bendera Pusaka hanya bertugas mengantar dan menjemput bendera duplikat yang dikibar/turunkan. Dengan demikian Bendera Pusaka terakhir kali dikibarkan pada 17 Agustus 1968.

Pada tahun 1969, secara resmi anggota PASKIBRAKA adalah para remaja siswa SMTA se-tanah air Indonesia yang merupakan utusan dari 26 propinsi di Indonesia, dan tiap propinsi diwakili oleh sepasang remaja (putra dan putri). Dari tahun 1967 sampai tahun 1972, anggota yang terlibat sebagai pasukan pengibar masih dinamakan sebagai anggota “Pasukan Pengerek Bendera Pusaka” atau PASERAKA.

Patut dicatat disini, pada tanggal 17 Agustus 1969, bendera pusaka sudah tidak lagi dikibarkan di Istana Negara karena dianggap sudah terlalu tua, sehingga dibuatlah duplikatnyadari bahan bendera (wool). Bendera duplikat pusaka terbuat dari katun Inggris tanpa jahitan dengan ukuran 200x300cm dan dibuat oleh Balai Penelitian Tekstil Bandung dibantuk oleh PT. Ratna di Ciawi, Bogor.

Pada tahun 1973, salah seorang Pembina yang berama Idik Sulaeman melontarkan suatu nama untuk Pasukan Pengibar Bendera Pusaka dengan sebutan PASKIBRAKA. PAS berasal dari PASukan, KIB berasal dari KIBar mengandung pengertian pengibar, RA berarti bendeRA dan KA berarti pusaKA. Mulai saat itu singkatan anggota Pasukan Pengibar Bendera Pusaka adalah PASKIBRAKA.

Keterangan:
PASWALPRES sekarang disebut Pasukan Pengamanan Presiden (PASPAMPRES)

Friday, October 22, 2010

Cinta di Ambang Batas Kehidupan

Rani Indriani itu-lah nama gadis jelita yang usianya sekitar 18 tahun, tamatan dari bangku SMK jurusan busana. Baru dua bulan lulus dia sudah mendapat pekerjaan di sebuah modiste terkenal di Yogyakarta. Hal ini membuat dia senang, karena apa yang dia harapkan selama ini akhirnya terwujud juga. Dia bisa bekerja lebih cepat, tidak seperti teman-teman dia yang lain yang harus menunggu lama untuk bekerja. Rani sangat bersyukur ketika dia langsung diminta untuk bekerja.

Kecantikan, kelembutan dan keramahan dalam bertutur kata membuat siapapun yang bertemu dengannya merasa senang. Sejak di bangku sekolah, Rani terkenal sebagai siswa yang disiplin, rajin, pintar dan mudah bergaul, hingga tak dapat dipungkiri bila kini dia telah mendapat pekerjaan lebih cepat dibanding dengan teman yang lain.

Siang itu, Rani tampak sibuk memilih ukuran sepatu yang cocok di kakinya. Wajahnya yang cantik dan berwarna kuning langsat itu tetap memancarkan keindahan, apalagi Rani memiliki lesung pipi yang indah sehingga akan menambah kecantikannya. Ia mengenakan celana jeans berwarna biru tua, kaos putih dan mengenakan jaket. Ia tampak asyik memilih-milih dengan sesekali minta pendapat penjaga stand disana.

Sepertinya, kesibukan Rani dan raut wajah Rani yang cantik telah mengambil perhatian seorang lelaki di stand lain. Sudah sejak tadi sosok lelaki itu mengamatinya dari kejauhan. Hingga tak sadar sebuah senyuman mengembang di sudut bibirnya. Lelaki itu bernama Ferdy Hernawan.
Tap! Tap! Tap! Terdengar suara langkah kaki mendekati Rani. Rani menoleh, ternyata yang mendatangi dia adalah sesosok lelaki tampan, berjaket coklat dan menggendong tas di punggungnya. Darah Rani seakan berdesir cepat ketika lelaki itu memberikan senyuman indah. Seakan-akan hatinya luluh ketika melihat pemandangan indah di depannya.

Lama Rani tersadar dari lamunannya ketika ada suara menyapanya. Suara itu tak lain adalah suara Ferdy yang memanggilnya.
“Hai… boleh kenalan? Aku Ferdy. Kelihatannya kamu sibuk memilih-milih sepatu, ya?” tegur lelaki itu seraya mengulurkan tangannya.
“Hai, aku Rani. Ah, tidak!” sambil Rani sambil mengulurkan tangan.
Rani mencoba menyembunyikan rasa malu dan degup jantungnya semakin lama semakin keras. Rani kemudian melangkah pergi dari tempat itu. Namun, tiba-tiba Ferdy memegang tangannya. Rani tersentak kaget, lalu menoleh.
“Ada apa?” tanya Rani.
“Bolehkah aku tahu dimana kamu tinggal?” tanya Ferdy.
“Jalan Dahlia No. 47,” jawab Rani singkat.
“Setelah ini kamu hendak kemana?” tanya Ferdy lagi.
“Mau pulang,” tegas Rani.
“Bolehkah aku mengantarmu?” pinta Ferdy.
Rani menggeleng. Ia menarik nafas panjang. Langkahnya tetap. Tak berubah sedikitpun. Ia merasakan hatinya mulai bergetar hebat. Sementara lelaki tampan yang penuh perhatian kepadanya itu, terus mensejajari langkahnya.
“Kenapa saya tidak boleh mengantarmu?”
“Pokoknya tak boleh. Kita kan baru saja kenal,” jawab Rani sedikit kesal karena ulah lelaki itu.
Kelihatannya Ferdy tidak menyerah begitu saja. Dia terus membuntuti langkah Rani. Rani merasa risih karena selalu diikuti kemanapun ia melangkah. Hingga akhirnya, ketika Rani berada di halte bus dan sedang menunggun bus menuju rumahnya, Ferdy masih tetap berada di sampingnya. Ferdy tersenyum lembut. Tatapannya luruh, menatap gadis muda itu. Ia mengeluh dalam hati. Ia tak mampu menentang tatapan bola mata yang tajam tetapi menyimpan sejuta kelembutan itu.
Sepertinya Ferdy telah jatuh hati kepada Rani. Hingga dia bertekad untuk tidak akan melepasnya. Dalam hatinya berkata mungkin inilah dambaan hati yang selama ini dia cari.

Sebuah bus kota lewat dan berhenti di depan mereka. Ferdy tersadar dari lamunannya. Ketika Rani hendak melangkah masuk ke dalam bus kota, Ferdy mencegahnya dan sekali lagi dia meminta untuk bertemu lagi lain waktu. Rani sangat kesal dengan sikap Ferdy yang memaksa itu. Tapi, tak dapat dipungkiri dalam hati Rani sebenarnya juga dia masih ingin bertemu dengan Ferdy lagi. Ferdy meminta agar lusa dia dan Rani dapat bertemu di Taman Kota. Rani menggeleng tak bisa menemuinya lusa, karena dia harus menemui sahabat lamanya di luar kota.

Ferdy memutuskan untuk menemani Rani pergi lusa. Ferdy sangat berterima kasih karena Rani mau dia temani. Gadis itu tersenyum. Ferdy terperangah. Sebab senyum itu adalah senyuman paling sempurna yang diberikan Rani untuk Ferdy. Ia hampir saja menarik lengan Rani dan memeluknya kalau ia tak ingat bahwa dia berada di pinggir jalan. Ferdy menarik nafas panjang.

Rani melangkah masuk dalam bus kota meninggalkan Ferdy sendiri terpaku. Ferdy melambaikan tangan dan mengembangkan senyuman untuk Rani. Samar terlihat balasan senyuman dari Rani. Senyum yang menyimpan keindahan teramat sangat, senyum yang sudah membuat Ferdy jatuh hati kepadanya.
Perlahan-lahan Ferdy melangkah pergi dari tempat itu dan memutuskan untuk pulang. Tak sabar rasanya dia untuk segera sore berganti esok.

* * *

Taman Kota tampaknya dipadati oleh pengunjung malam ini. Riuh rendah suara orang-orang dan kendaraan yang berlalu lalang disana. Tampak Rani sedang berjalan seorang diri sambil menenteng sebuah bungkusan. Udara pada malam itu sangat sejuk. Angin bertiup lirih. Menyentuh anak rambut Rani yang tergerai. Rani duduk di pinggir jalan. Matanya menerawang jauh membawa angan-angan Rani terbang tinggi. Teringat kembali peristiwa yang dia alami hari ini.
Kiranya pertemuan mereka telah menorehkan sepercik harapan kasih dalam hatinya. Ferdy telah membuka hati Rani yang selama ini ditutup oleh lelaki manapun. Bagi Rani, ia justru semakin penasaran dengan sikap Ferdy yang perhatian kepadanya. Ia semakin ingin mengenal lelaki itu.

Malam telah larut dan sepertinya Rani telah puas jalan-jalan dengan membelikan oleh-oleh untuk sahabatnya esok pagi. Perlahan langkahnya menyusuri jalan-jalan, gorong-gorong. Udara malam semakin menusuk tulang, Rani merapatkan mantel jaketnya.

Rumah di seberang jalan telah terlihat, Rani bergegas masuk ke dalam. Segala persiapan untuk pergi ke rumah sahabatnya di Semarang dia siapkan. Setelah dia pikir cukup, dia beranjak tidur. Bayangan Ferdy seakan terus menggantung di pelupuk mata. Terus menggoda dan membuatnya makin merasa resah. Rindukah ia?
Sulit baginya untuk menghapus bayangan Ferdy dari pikirannya. Hal ini juga terjadi pada diri Ferdy. Lama dia mencoba menutup mata, tapi sepertinya rasa gundah dan gelisah menghantuinya. Ferdy beringsut dari tidurnya dan menuju ke jendela. Ditatapnya langit malam ini, sungguh indah malam ini bila dia berada di samping Rani. Angannya mengembara jauh dan mengharapkan malam yang panjang ini segera usai.

* * *

Udara cerah dan angin berhembus semilir. Mentari telah menampakkan sinarnya yang lembut. Sisa tetesan air hujan berkilauan terkena sinar matahari. Burung-burung ikut gembira menyapa pagi yang cerah ini.

Di tengah suasana seperti itu terdengar suara ribut-ribut dari dalam rumah Rani. Ternyata Ibu Rani yang tengah sibuk membantu persiapan Rani.
“Sudah kau masukkan semuanya, Rani?” tanya Ibunya dengan logat Bataknya yang masih melekat. Walaupun sudah lama tinggal di Jogja Ibu Rani belum bisa beradaptasi.
“Sudah, Ibu,” sahut Rani seraya menghampiri Ibunya.
“Jangan sampai kau lupa masukkan makanan kesukaan Ida. Nanti dia bisa kecewa,” ucap Ibunya.
“Iya, Bu…” ucap Rani menenangkan hati Ibunya.
Memang dulu waktu SMP Ida sudah dianggap seperti saudara Rani sendiri. Maklum dulu Ida di Jogja anak baru, jadi dia sering main ke rumah Rani dan tak jarang membantu Ibunya Rani bila hari libur.

Jarum jam sudah menunjukkan pukul setengah delapan. Tampak Rani masih berdiri di depan cermin rias kamarnya. Kebiasaan ini berawal dari semenjka bertemu dengan Ferdy silam. Setelah puas berdandan dia mengemasi barang-barangnya, lalu keluar dari kamarnya.

Mentari sudah meninggi dan panasnya sudah terasa. Rani melangkah keluar rumah diiringi kedua orangtuanya. Rani memberi salam kepada kedua orangtuanya lalu beranjak pergi. Rani melambaikan tangan disertai sebuah senyum tipis. Perlahan-lahan bayangan Rani hilang di tikungan jalan.

* * *

Sudah lama Rani sampai di terminal, kira-kira sudah setengah jam yang lalu. Tersirat kegelisahan terpancar dari wajah Rani. Dia telah menunggu Ferdy cukup lama.
Di tangannya dia memegang sebuah buku novel kesukaannya. Untung dia membawa buku itu, sehingga kejenuhan itu bisa hilang. Satu menit. Dua menit. Menit demi menit sudah berlalu tapi Ferdy tak jua kunjung datang.

Setelah sekian lama menunggu. Akhirnya, Ferdy datang dengan nafas terengah-engah. Dia datang dengan memberikan sebuah senyuman tak berdosa. Rani hanya membalas senyumnya itu dengan senyum simpul. Masih ada rasa jengkel di hatinya. Dia beranjak pergi menuju bus yang akan ditumpanginya. Ia tak menghiraukan ucapan dan permohonan maaf Ferdy.

“Rani…,” panggil Ferdy.
Tapi tak ada sahutan yang keluar dari mulut Rani. Ia memang sengaja mengacuhkan Ferdy. Dia masih jengkel.
“Rani… maafin aku. Maaf aku telah terlambat datang, aku tak bermaksud untuk membuatmu menungguku lama,” ucap Ferdy seraya menggenggam tangan Rani. Wajah Rani tetap berpaling dan seakan-akan tak mendengar ucapan Ferdy. Ferdy tahu bagaimana perasaan Rani saat ini. Oleh karena itu, Ferdy terus mencoba untuk meminta maaf pada Rani.

Entah karena rayuan Ferdy atau karena keramahan Rani. Akhirnya Rani memaafkan Ferdy. Rani tak tahan bila ia menatap sepasang bola mata indah itu. Seakan-akan dia terhanyut oleh pancaran mata itu. Tak sadar kedua pipi Rani merah merona karena malu. Dia menyembunyikan wajahnya agar tak terlihat oleh Ferdy. Namun bagaimana juga Ferdy tetap tahu.

Siang di musim kemarau itu terasa terik. Seakan-akan mentari ingin memanggang bumi dan segala isinya. Bus melaju dengan cepat. Suara-suara nyanyian dari pengamen mengalun indah, seolah-olah ingin membuat suasana siang itu menjadi sejuk.

Rani sepertinya sudah terhanyut dalam lantunan lagu-lagu. Hingga tanpa disadarinya dia telah tertidur di bahu Ferdy. Ferdy membiarkan bahunya untuk menjadi sandaran. Dia memandangi wajah Rani. Sempurna! Itulah kata yang terucap dalam hatinya. Dengan hati-hati dia merapatkan badan Rani ke badannya. Hingga letak tidur Rani dapat nyaman. Ferdy lalu dengan lembut membelai rambutnya. Ferdy tak menyangka akan bisa sedekat ini dengan Rani. Gadis yang senantiasa mampu membuat hatinya berdebar bila bertemu.

* * *

Sepanjang perjalanan Rani tertidur pulas. Tak jarang bus yang mereka tumpangi oleng. Beberapa tikungan tajam yang dilalui membuat tubuh Rani oleng ke kanan dan ke kiri. Apalagi jalan yang mereka lalui amat terjal dan tak jarang kiri-kanannya hanya terdapat tebing dan jurang.
Setelah beberapa jam lamanya akhirnya mereka sampai tujuannya. Ferdy membangunkan Rani dengan sangat hati-hati.

“Rani… ayo bangun. Kita sudah sampai Semarang,” ucap Ferdy ketika membangunkan Rani. Rani sedikit menggeliat ketika dibangunkan oleh Ferdy. Rani membenahi letak pakaiannya. Setelah dirasa rapi, mereka turun dari bus.

Banyak penjual makanan menawarkan dagangannya. Namun sepertinya mereka tak tertarik. Mereka langsung menuju angkuta pedesaan yang akan membawa mereka menuju ke desa tempat tinggalnya Ida. Jalan menikung, jembatan-jembatan, sungai-sungai kecil mereka lalui. Udara di sekitar yang sejuk telah membuat hati mereka terbuai oleh suasana.

Jarak dua puluh lima kilometer sudah mereka tempuh untuk menuju ke tempat Ida. Hanya tinggal beberapa jam lagi mereka akan sampai di desa tempat tinggal Ida. Setelah kondektur bus meneriakkan nama desa tempat tinggal Ida, mereka turun. Untuk menuju ke rumah Ida, mereka harus menempuh jarak seratus meter. Selain itu jarak itu harus ditempuh menggunakan sampan agar mereka dapat menyeberangi sungai yang menghubungkan desa tempat tinggal Ida.
Akhirnya, mereka berdua tiba juga di seberang. Mereka menyusuri jalan menuju rumah Ida. Namun, Rani terlihat lelah dan memutuskan untuk istirahat sejenak.

“Ferdy, kita istirahat dulu ya… Aku capek, perutku juga lapar,” pinta Rani pada Ferdy.
“Baiklah, kalau begitu kita cari warung buat makan dulu, yuk…” ajak Ferdy pada Rani.
Sengaja Rani memilih warung makan di pinggir jalan dekat sampan-sampan itu berlabuh. Di warung itu dulu Rani dan Ida sering mengisi perutnya ketika mereka selesai bepergian. Di warung itu pula, Rani dulu jatuh hati pada lelaki tampan yang ada di desa itu. Namun semua kenangan indah hanyalah tinggal kenangan belaka. Lelaki tampan itu sudah membuat hati Rani hancur. Karena kejadian itulah, Rani memutuskan untuk menutup hatinya bagi lelaki manapun. Hingga akhirnya dia bertemu dengan Ferdy. Ferdy telah berhasil membuat pintu hati Rani terbuka untuk lelaki. Namun apakah Rani menyadari akan hal itu? Ia sendiri bingung akan perasaannya pada Ferdy. Cintakah ia? Ataukah hanya rasa kagum belaka? Hanya Ranilah yang dapat merasakannya.

Warung makan yang terbuat dari anyaman bambu berupa bilik yang terpelitur licin itu sudah ada di depan mata. Hanya tinggal menyeberang jalan raya maka mereka sampai di warung makan itu. Rani sengaja memilih tempat duduk dekat jendela. Dengan begitu dia akan leluasa melihat lalu lalang sampan yang sibuk menaik-turunkan penumpang yang akan menyeberang.

Rani benar-benar capek, lelah dengan perjalanan ini. Tapi, sepertinya rasa lelah dan letih itu tak begitu ia rasakan. Suasana di desa itu telah membuat hati dan pikirannya sejuk. Apalagi ditemani oleh lelaki tampan seperti Ferdy. Selama perjalanan Ferdy-lah yang selalu menghibur Rani. Ferdy merasa sudah sangat dekat dengan Rani. Berbagai cerita lucu dia lontarkan dari mulutnya. Dia berusaha agar Rani tak merasa jenuh selama perjalanan.

Seperti sekarang ini, Rani tak menyadari kalau dia bisa tertawa lepas. Cukup lama Rani tak bersenda gurau dengan disertai dengan gelak tawa seperti apa yang terjadi saat ini. Entah kenapa Rani merasa aman dan tenang bila di dekat Ferdy.

Sesaat Rani melamun. Matanya menerawang jauh ke depan. Teringat masa lalu yang teramat pedih di hati. Sampai-sampai lelucon Ferdy tak ia hiraukan.
“Kamu melamun, Ran. Kamu capek ya?” tanya Ferdy.
Rani hanya menggeleng dan tersenyum simpul.
“Kamu ada masalah? Ayolah cerita saja sama aku. Aku kan temanmu. Jadi kalau ada masalah bagi saja denganku,” pinta Ferdy dengan sangat perhatian.
“Aku hanya teringat peristiwa masa lalu di tempat ini,” jawab Rani dengan raut wajahnya yang berubah mendung. Rani menundukkan kepalanya. Ia berusaha menyembunyikan kesedihan yang tergambar di wajahnya dari Ferdy.

Sepertinya Ferdy mengetahui kesedihan yang teramat dalam di hati Rani. Tiba-tiba saja tangan Ferdy sudah meraih tangan Rani. Dibawanya ke dada. Ferdy mencoba menabahkan hati Rani. Kepala Rani ia sandarkan di bahunya. Ferdy yang dengan lembut membelai rambutnya mencoba memberikan ketenangan.
Rani berusaha menceritakan peristiwa yang membuat luka teramat dalam di hati Rani. Panjang lebar dia menceritakan. Sesekali tersirat mendung di wajahnya. Namun, setelah dia puas mencurahkan isi hatinya pada Ferdy dia merasa lega.

Setelah mereka rasa cukup. Mereka melanjutkan perjalanan. Hanya tinggal beberapa langkah lagi mereka akan sampai tujuan. Rumah kecil berwarna coklat, berhalaman luas bersih dan terawat, sudah terlihat. Mereka bergegas memasuki halaman rumah.
Terdengar gelak tawa riuh-rendah dari dalam rumah. Hal itu menandakan ada orang di dalam.

Tok! Tok! Tok! Suara ketawa yang riuh-rendah itu terhenti hampir serta-merta ketika mendengar suara ketukan pintu. Ida beranjak dari tempat duduknya dan bergegas membukakan pintu.

Alangkah terkejutnya dia setelah tahu siapa yang berada di balik pintu. Sahabat kecilnya yang sudah bertahun-tahun tak berjumpa kini berada di hadapannya. Sesaat kedua sahabat itu berpelukan lama. Melepas kerinduan yang teramat dalam. Tak lupa Ida memberi salam pada Ferdy.

“Hai, bagaimana kabarmu sahabat kecilku,” sapa Ida seraya menepuk pundak Rani dan mengulurkan tangannya.
Bertemu dengan teman lama merupakan pelipur dahaga kerinduan di dada. Ida merupakan teman akrab Rani semasa sekolah dulu. Namun, Ida harus ikut orangtuanya pindah ke Semarang. Jadi mereka jarang ketemu.
“Baik kok. Bagaimana dengan dirimu? Sepertinya kamu tambah gemuk, ya…” goda Rani sambil mencubit pinggang Ida.
“Aww.. kamu tuh! Masih saja seperti dulu,” ucap Ida sambil memegang pinggang yang terkena cubitan.
“Lama sekali kita tak berjumpa,” kata Rani sambil melangkah masuk, seraya menepuk punggung Ida.
“Kalau tak salah terakhir berjumpa ketika perpisahan sekolah dulu,” tutur Ida seraya mempersilahkan mereka duduk.
“Iya, kamu benar. O, ya…kenalkan ini Ferdy teman aku di Jogja,” ucap Rani seraya menunjuk ke arah Ferdy.
Ferdy hanya mengembangkan senyuman yang menawan.
“Alah,.. teman apa teman ni…,” goda Ida.
Rani hanya tersipu malu. Dia menjadi salah tingkah ketika Ferdy menatap pada dirinya.
“Ah, apa-apaan sih kamu…” sangkal Rani.

Perbincangan antara mereka bertiga semakin asyik. Hingga mentari sudah tergelincir ke ufuk barat. Rani dan Ferdy dipersilahkan untuk istirahta dulu dan membersihkan diri. Mereka bertiga mempunyai rencana untuk jalan-jalan keluar.

* * *

Angin malam yang berhembus tanpa suasana melengkapkan suasana sepi di sekitar. Hanya hawa dingin yang menusuk tulang menandakan ada udara yang bergerak.
Rani merapatkan kancing jaketnya. Ia mencoba mengusir dingin yang menembus pori-pori sampai ke tulang sumsum. Malam itu mereka hanya berdua. Ferdy dan Rani akhirnya memutuskan untuk berjalan-jalan berdua. Ida tak bisa menyertai mereka karena ada pertemuan remaja desa.

Seperti angin, mereka pun asyik dalam lamunan, kebisuan. Hanya dengan nafas yang sesekali terhempas dari mulut masing-masing. Itu pertanda kedua makhluk yang duduk bersebelahan di atas pasir pantai itu bukan patung. Dalam keheningan itu, suara Ferdy membuyarkan lamunan Rani.

“Rani…,” panggil Ferdy pelan tapi bermakna.
Rani hanya menoleh tak bergeming sedikit pun. Sebenarnya Ferdy ingin mengungkapkan perasaan yang ada. Perasaan yang selalu mengganggu tidur tiap malam.
“Rani, aku ingin bicara sesuatu padamu,” ucap Ferdy.

Kini badannya berhadapan dengan Rani. Ferdy memegang tangan Rani. Ferdy menatap tajam bola mata Rani, Rani membalas menatapnya. Dalam hatinya, jantungnya berdebar kencang.

“Rani, sejak bertemu denganmu. Aku sudah suka sama kamu. Tapi, sepertinya kamu tak menyadarinya kalau aku suka sama kamu. Apalagi setelah kamu menceritakan kisah cintamu masa lalumu, aku pun semakin ingin mengenalmu lebih dekat. Aku ingin bersamamu dalam mengarungi hidup ini. Kamu mau kan, Rani…,” ucap Ferdy bersungguh-sungguh.

Rani hanya terdiam. Berdiri terpaku. Dia tak menyangka Ferdy akan mengucapkan kata-kata itu padanya. Dia bingung. Dalam hatinya banyak pertanyaan. Apakah Ferdy benar-benar cinta padanya? Apakah dia juga cinta padanya? Semua pertanyaan berkecamuk di dadanya. Dia takut peristiwa silam akan terulang.
Rani tak memberikan jawaban malam itu juga. Dia masih ingin memastikan apakah Ferdy benar-benar mencintainya. Sebenarnya dia juga mencintai Ferdy dan tak ingin kehilangan Ferdy. Tapi apakah Ferdy akan tetap mencintai dia bila suatu saat Ferdy tau kalau dia mengidap penyakit mematikan yang sudah stadium akhir. Rani tak ingin mengecewakan lelaki yang dicintainya pula.

Sepanjang perjalanan Rani lebih banyak terdiam. Dia sudah tak merasakan dinginnya malam yang semakin larut. Suara dedaunan yang gemerisik tak bisa menghilangkan kegalauan di hatinya.
Sebelum beranjak tidur, Rani menulis semua isi hatinya pada buku diary. Itu adalah kebiasaan dia. Dia selalu menuliskan apapun yang dia alami dalam buku diary.

Kicauan burung yang senang menyambut pagi itu telah membangunkan Rani dari tidurnya. Rani beranjak dari tidurnya dan membereskan tempat tidur. Dia membersihkan diri dan pergi ke ruang makan.

Tampak disana semua sudah berkumpul. Ayah dan Ibu Ida, Ida dan juga Ferdy. Mereka sudah siap untuk sarapan. Rani memberi seulas senyum pada semua orang yang ada disana. Tatapannya terhenti pada Ferdy, segera dipalingkannya wajahnya. Setelah semua selesai, mereka melanjutkan aktivitasnya masing-masing.
Di tengah kesibukan masing-masing. Di kebun terlihat Ferdy dan Ida tengah bersenda-gurau sambil membersihkan kebun. Di sisi lain secara tak sengaja Rani melihat keasyikan mereka berdua dari kaca jendela. Terbersit rasa tak suka dengan pemandangan indah di depan matanya. Hatinya terasa sakit melihat kedekatan mereka berdua. Apakah ini cinta? Itulah pertanyaan yang muncul dari hatinya.

Tiga hari sudah Ferdy dan Rani berada di rumah Ida. Tapi, Rani belum memberi kepastian pada Ferdy. Hari ini mereka akan pulang.
“Rani…,” panggil Ida.
Sosok manis yang sedang membenahi pakaian dan memasukkan dalam tas itu, serentak menghentikan kegiatannya begitu mendengar suara dari sahabatnya. Dengan tenang ia membalikkan badan, senyuman tipus tersungging di bibir indahnya. Lalu ada tunduk sesaat. Sepertinya, ia tengah menyusun kalimat yang tepat. Wajah itu kemudian tengadah, ronanya memancarkan keceriaan dengan senyum tipis yang khas itu. Langkahnya pasti ke arah Ida yang masih terpaku di dekat pintu.
“Kamu benar, Da. Tak seharusnya aku lari dari kenyataan. Serumit dan sesulit apapun akibatnya yang akan aku hadapi, aku harus menerimanya,” Rani menghela nafas sesaat.
“Semalam aku berpikir, Da. Aku harus menjatuhkan pilihan. Aku tidak sanggup untuk menghindar dari cinta Ferdy. Aku akan memberi kepastian setiba di Jogja nanti,” lanjut Rani.
“Kamu harus bisa membuang rasa takutmu. Aku tahu Ferdy akan membuatmu bahagia. Dia tulus mencintaimu,” papar Ida yang sudah mengetahui konflik yang terjadi pada Rani.
Mereka berdua keluar dari kamar. Di teras rumah terlihat Ferdy yang telah siap untuk pulang. Ferdy dan Rani berpamitan dengan keluarga Ida.
Perjalanan pulang kali ini mereka sama-sama berdiam diri. Hanya deru mesin yang terdengar. Jalan menikung tak lagi dirasakan indah. Mereka terbawa lamunan masing-masing. Tak lama kemudian mereka tiba juga di Jogja. Mereka berpisah di persimpangan jalan. Ferdy mengucapkan salam dan melabuhkan sebuah kecupan di kening Rani. Rani melepas kepergian dengan senyuman indah yang membuat hati Ferdy bergetar.

* * *

Seminggu sudah waktu berlalu. Namun, Rani belum memberi kepastian pada Ferdy. Hampir tiap malam Ferdy datang ke rumah Rani. Walaupun hanya sekedar main, bercanda dengan keluarga Rani. Itu adalah hal yang membuat Rani merasa senang. Dia melihat kesungguhan dari wajah Ferdy, kelakuan Ferdy pada keluarganya.
Lama sudah Ferdy tak berkunjung ke rumah Rani. Dia sibuk kuliah. Dia tak mengetahui kalau Rani masuk rumah sakit. Setelah ia mengetahui kalau Rani di rumah sakit dia langsung beranjak pergi menengok Rani.

Namun, di sisi lain. Di rumah sakit, keadaan Rani semakin parah. Dokter sepertinya sudah angkat tangan untuk mengobati Rani. Hanya keajaiban Tuhan-lah yang akan menyembuhkannya.

Di dalam kamar dirawatnya Rani terdengar suara isak tangis Ibu Rani yang tak tega melihat penderitaan anaknya.
“Ibu…,” seru Rani lemah.
Ibu yang sedang terisak lalu menoleh seraya menghapus air matanya. Dia tak ingin memperlihatkan kesedihan itu pada anaknya.
“Ibu disini, Rani,” kata Ibu sambil memegang tangan anaknya yang tidak bermaya.
Rani membuka matanya pelan.
“Rani tahu, hidup Rani tak bisa lama lagi. Rani minta maaf sama Ibu dan keluarga kalau Rani sering ngerepotin keluarga…,” ucap Rani tersendat.
“Ibu, kalau nanti Rani tak ada, Rani minta tolong sama Ibu, tolong berikan buku diary Rani kepada Ferdy,” sambung Rani terputus-putus.
“Sabarlah, Nak. Jangan bilang begitu,” kata Ibu dengan dada berdebar, cemas dan menahan tangis.
“Ibu, jaga adik-adikku baik-baik. Mereka harus rajin belajar. Jaga diri Ayah dan Ibu. Sampaikan salam sayangku pada semuanya…”
Dan habislah nafasnya.

Seketika itu pecahlah tangis Ibu. Tepat pada saat itu Ferdy tiba di kamar rawat Rani. Ferdy langsung memburu dan memeluk tubuh Rani yang terbujur kaku. Dia tak sanggup menerima kenyataan yang dihadapinya.

* * *

Seminggu sudah berlalu. Pemakaman Rani pun sudah berlalu. Namun, kesedihan Ferdy tak kunjung sirna.
Hari itu Ferdy bertandang ke rumah Rani. Ketika dia ingin pulang, Ibu Rani menghentikan langkah Ferdy. Dia meminta Ferdy menunggu sejenak. Ibu Rani berlalu, dan kembali dengan sebuah buku di tangannya.

“Nak Ferdy, Ibu dititipi ini sebelum Rani menghembuskan nafas terakhirnya,” ucap Ibu seraya memberikan buku itu pada Ferdy.
“Apa ini, Bu?” tanya Ferdy heran.
“Ibu juga tak tahu, Nak Ferdy. Tapi setahu Ibu, Rani sering mencurahkan isi hatinya dalam buku ini,” jawab Ibu.
“Oh, baiklah kalau begitu. Saya pulang dulu, Bu,” ucap Ferdy.
Ferdy beranjak keluar dari rumah Rani. Ia melajukan sepeda motornya dengan kencang. Ibu tertegun di depan pintu. Ibu teringat ketika Rani masih hidup. Semuanya terasa indah.

Sesampai di rumah, dibacalah buku diary Rani dengan seksama. Kini ia tahu kalau sebenarnya Rani menyimpan rasa padanya. Namun, karena penyakitnya itulah Rani takut untuk mengungkapkan rasa sebenarnya pada Ferdy. Di dalam buku itu terdapat sepucuk surat yang ditujukan pada Ferdy.
Tak terasa ada cairan bening, bergulir di pipi Ferdy. Ferdy tak tahan menahan rasa kesedihan mendalam. Dia tak menyangka kalau selama ini Rani menanggung penderitaan yang amat berat.

Di dalam hati Ferdy, walaupun gadis yang selama ini dicintainya telah tiada, dia akan tetap menjaga kesucian cintanya pada Rani sampai kapanpun.

Bunga akan tampak indah
Ketika musim bunga bermula
Mencium pucuk-pucuk kecilnya
Namun kasih akan senantiasa
Tampak indah dari bunga
Karna ia terus tumbuh tanpa bantuan musim

Kahlil Gibran Puisi-Puisi Cinta

Itulah untaian puisi yang dituliskan Rani dalam suratnya untuk Ferdy. Mata Ferdy menerawang jauh menatap langit. Seakan-akan mencari sosok kekasihnya di atas sana. Betapa singkatnya pertemuan mereka, hingga berakhir seperti ini. Namun, Ferdy tetap bangga telah menemukan sosok wanita yang tegar dalam mengarungi hidup walaupun dia mengidap penyakit mematikan.

Saturday, January 23, 2010

Buah Beringin dan Buah Semangka

Konon di tahun 1970, Denok masih duduk di bangku kelas 5 SD. Sekolah dimana Denok menuntut ilmu termasuk sekolah yang megah pada era itu. Di Pura Pakualaman halamannya luas dan banyak ruangan-rungan yang pada waktu itu dipergunakan untuk ruang kelas dari Kelas 1 sampai dengan Kelas 6 di sebelah Timur, sedangkan di sebelah Barat untuk ruang kantoran.
Setiap hari, Denok selalu bermain dengan senang hati. Halamannya luas, pohon sawo keciknya banyak sehingga sejuk untuk bermain sondamanda, gobag sodor, ombak banyu, bintik, dan lain-lain. Untuk di emper sekolahan, sudah berlantai bersih untuk bermain lompatan, sumbar suru, bas-basan, dan lain-lain. Adanya hanya senang dan bangga hati bisa sekolah di dalam Kraton Pakualaman.

Teman-teman Denok juga beraneka ragam. Ada yang dari Kraton cucu-cucu PA, ada yang Belanda namanya Rino Erike, ada yang anaknya sol sepatu, jualan sayuran, punya toko, jualan jambu ginggang, dll. Kebetulan pada saat itu juga Denok punya teman namanya Tole. Dia anak penjual rombengan, yaitu baju-baju bekas. Jualannya di luar Kraton yaitu Alun-alun Sewandanan namanya. Disitu banyak pohon-pohon beringin yang besar-besar. Alangkah gagahnya pohon beringin itu. Pernah saya hitung jumlahnya ada 6 (enam) pohon samping halaman kiri 3 pohon, dan samping halaman kanan ada 3 pohon. Di tengah-tengah jalan kanan kiri banyak pohon bunga tanjung yang harum, pohon kecik yang enak dimakan juga banyak di sekitar situ.

Siang itu yang sangat ramai sekali pada berteduh di Sewandanan yang rindang dan sejuk banyak jajanan seperti sate laler, gulali mayang (tulang sapi muda yang digoreng), grabyar, es lilin, es dawet, es campur, dll.

Aduh,.. kaya pasar. Disitu si Tole pulang dari sekolah kurang lebih pukul sepuluh siang, terus membantu ibunya berjualan rombengan disitu campur-campur orang-orang di halaman Sewandanan itu.

Setelah kecapaian kurang lebih pukul dua siang, Tole tertidur pulas. Disitu ia bermimpi menjadi seorang raja yang gagah, kaya raya, dikelilingi putri-putri cantik. Tole bercerita dalam mimpinya.

Alangkah bahagianya menjadi Raja Pakualaman keluar masuk istana dengan mobil mewah, bisa naik kereta kencana pada waktu hari Maulid Nabi, makan-makan, pesta-pesta, hidangan-hidangan yang mewah yang tidak pernah ditemui setiap harinya.

Baru asyik-asyiknya bermimpi, tiba-tiba buah beringin yang kecil itu jatuh tepat di hidung Tole, dan Tole pun terbangun dengan sangat kagetnya. Ibunya yang baru jualan tadi mengajak Tole untuk makan siang dengan sebungkus nasi yang dibungkus dengan daun pisang. Si Tole masih terdiam mengingat-ingat mimpinya tadi. Wow…ternyata hanya mimpi, Tole marah…, gara-gara kejatuhan buah beringin, mimpinya jadi bubar.

Ibunya berkata pada Tole, “Ayo, sayang. Makan dulu. Kenapa kamu musti marah dengan buah beringin yang kecil itu?” Tole masih letih dan kelihatan masih marah, sedih jadi satu. Ibunya berkata lagi, “Anakku, kita semua umat manusia harus bersyukur kepada Allah. Kenapa? Pohon beringin yang besar-besar dan gagah ini bisa untuk menyejukkan di siang hari yang sangat panas itu, dan Allah Maha Adil, Maha Besar, maha segala-galanya, kenapa? Pohon yang besar ini diberi buah yang kecil agar tidak membahayakan makhluk di bawahnya. Coba Tole tadi kejatuhan buah beringin yang kecil saja sudah kaget dan sakit. Tapi seandainya Allah menggantinya dengan buah semangka, apa jadinya hidungmu Tole sayang? Nah, disamping lebih sakit bukan cuma hidung yang kena, tapi kepalanya juga bisa sakit kejatuhan buah semangka yang besar itu. Makanya kita semua umat manusia bersyukurlah. Bersyukurlah, Allah berjuta-juta bahkan tidak bisa dihitung dengan apapun kenikmatan yang diberikan Allah kepada umat-Nya. Maha segala-galanya Allah SWT,” selesai ibunya bicara.

Baru Tole cepat-cepat cuci tangan dengan senang hati mengambil nasi bungkusnya dan Denok juga diajak makan bersama-sama karena Denok tadi membantu ibunya melipat dan merapikan baju rombengan yang dijualnya. Capai juga sambil makan nasi bungkus dan secangkir teh tawar aku masih mengingat-ingat kata-kata ibunya Tole tentang keagungan Allah yang digambarkan lewat pohon beringin dan pohon semangka. Iya ya, Denok baru sadar ternyata Allah maha segala-galanya.

Demikian ceritaku yang nyata di kala Denok masih duduk di bangku Sekolah Dasar yang penuh kesederhanaan, tapi hidupku sudah merasakan bermain dengan anak orang kaya, orang miskin, nyata yang kaya juga belum tentu bahagia, yang miskin kalau nerimo ya enak hidupnya.

Thursday, November 20, 2008

Manusia Ular

Dahulu kala ada seorang bernama Sangi. Dia adalah seorang pemburu yang tangguh. Sangi pandai menyumpit buruan. Sumpitnya selalu mengenai sasaran. Setiap kali berburu ia selalu berhasil membawa pulang daging babi hutan dan daging rusa.

Sangi bertempat tinggal di daerah aliran Sungai Mahoroi, anak Sungai Kahayan. Pada suatu hari Sangi berburu. Dari pagi hingga petang ia tidak berhasil menemukan seekor binatang buruan pun. Keadaan ini membuatnya amat kesal. Karena hari telah mulai sore, ia pun pulanglah dengan tangan kosong.
Di dalam perjalanan pulang ia melihat bahwa air tepi sungai sangat keruh. Ini pertanda bahwa seekor babi hutan baru saja minum air disana. Dugaannya itu diperkuat lagi dengan adanya bekas jejak kaki babi hutan.

Dengan penuh harapan Sangi terus mengikuti jejak binatang itu. Benar saja… tidak berapa jauh dari sana, ia menemukan babi hutan yang dicarinya itu, tetapi dalam keadaan yang amat mengerikan. Sebagian dari tubuh babi hutan itu telah berada di dalam mulut seekor ular raksasa. Kelihatannya tidak mungkin ia akan hidup kembali. Pemandangan mengerikan ini sangat menakutkan Sangi. Ia tidak dapat lari sehingga tidak ada cara lain kecuali bersembunyi di dalam semak-semak.

Beberapa waktu telah berlalu. Ular raksasa itu tidak dapat juga menelan mangsanya. Dicoba dan dicobanya berkali-kali, namun selalu gagal. Akhirnya sang ular menghentikan usahanya. Dengan murkanya dipalingkanlah kepalanya ke arah tempat Sangi bersembunyi. Secara gaib… ia berganti rupa menjadi seorang pemuda yang tampan wajahnya. Ia menghampiri Sangi dan memegang lengannya.

Pemuda itu menggertak dan memerintahkan kepada Sangi, “Telan babi hutan itu bulat-bulat karena engkau telah mengintip sang ular raksasa yang sedang menelan babi hutan.”
“Saya… tapi saya… tidak bisa.”
“Ayo cepat lakukan…”

Dengan penuh rasa ketakutan Sangi melaksanakan perintah itu. Ajaib sekali, ternyata Sangi mampu melaksanakan perintah pemuda itu dengan mudah sekali, seolah-olah ia sendiri benar-benar seekor ular.
Pemuda asal ular itu berkata bahwa karena Sangi telah berani mengintainya, sejak saat itu pula Sangi berubah menjadi seekor ular jadi-jadian.

“Untuk sementara engkau tidak usah risau,” kata pemuda asal ular itu kepada Sangi. “Selama engkau dapat merahasiakan kejadian ini, engkau akan tetap dapat mempertahankan bentuk manusiamu.”

Pemuda asal ular itu lalu menghibur Sangi dengan mengatakan bahwa nasib yang menimpa Sangi sebenarnya tidaklah terlalu jelek. Sebab, sejak kejadian itu ia bukan lagi merupakan makhluk yang dapat mati sehingga ia dapat mempertahankan kemudaannya untuk selama-lamanya.

Demikianlah, Sangi terus berusaha agar rahasianya ini tidak diketahuij orang, termasuk anggota kerabatnya sendiri dan anak cucunya. Dengan cara ini ia berhasil mencapai umur 150 tahun. Akan tetapi, keadaan yang luar biasa ini menimbulkan rasa aneh pada keturunannya. Mereka ingin mengetahui rahasia kakeknya yang dapat berusia panjang dan tetap dapat mempertahankan kemudaannya.

Oleh karena itu sejak itu mereka pun mulai menghujani kakek mereka dengan berbagai pertanyaan. Akhirnya karena terus-menerus didesak, Sangi pun terpaksa membuka rahasianya, melanggar larangan berat itu. Sebagai akibatnya, sedikit demi sedikit tubuhnya berganti rupa menjadi seekor ular raksasa. Pergantian ini dimulai dari kakinya. Sadar akan keadaan ini, Sangi menyalahkan keturunannya sebagai penyebab nasib buruk yang sedang menimpanya.

Dalam keadaan geram ia pun mengutuki keturunannya, yang dalam waktu singkat akan mati seluruhnya dalam suatu pertikaian di antara sesamanya.

Sebelum Sangi menceburkan dirinya ke dalam Sungai Kahayan bagian hulu untuk menjadi penjaganya, ia masih sempat mengambil harta pusakanya yang disimpan di dalam satu guci Cina besar. Harta pusaka yang berupa kepingan-kepingan emas itu lalu disebarkannya ke dalam air sungai. Sambil melakukan ini ia pun mengucapkan kutukan yang berbunyi:
“Siapa saja yang berani mendulang emas di daerah aliran sungai ini, akan mati tak lama setelah itu, sehingga hasil emas dulangannya akan dipergunakan untuk mengupacarakan kematiannya.”

Penduduk setempat percaya kisah ini pernah terjadi. Kepercayaan mereka itu diperkuat karena di daerah mereka ada anak Sungai Kahayan yang bernama Sungai Sangi. Menurut beberapa orang yang sering berlayar dengan biduk atau perahu bermotor, mereka pernah melihat seekor ular raksasa. Kepalanya saja berukuran sebesar drum minyak tanah. Ular raksasa itu mereka lihat berangin-angin di atas bungkah-bungkah batu sungai pada bulan purnama di musim kering.
Selain itu sampai kini orang-orang disana tidak berani mendulang emas yang katanya sebesar biji labu kuning dan banyak terdapat disana.

Kita jangan terlalu ingin mengetahui rahasia orang, apalagi sampai mendesak agar ia membukanya. Hal tersebut dapat merugikan orang itu dan mungkin juga akan merugikan kita sendiri.

Monday, November 10, 2008

Nyi Ageng Serang - Api di Tengah Peperangan

Pada awal abad 18 terdapat pejuang wanita yang patut dibanggakan yaitu Nyi Ageng Serang. Beliau disebut juga Pahlawan Nasional. Nyi Ageng Serang mempunyai silsilah dari Sunan Kalijaga:
  1. Sunan Kalijaga menikah dengan putri Sunan Gunung Jati, berputra Sunan Hadikusuma.
  2. Sunan Hadikusuma berputra Panembahan Semarang.
  3. Panembahan Semarang berputra Panembahan Pinatih.
  4. Panembahan Pinatih berputra Panembahan Keniten.
  5. Panembahan Keniten berputra Panembahan Rangga.
  6. Panembahan Rangga berputra Panembahan Rangga Notoprojo, dan seterusnya sampai keturunannya ke-14 yaitu Raden Mas Suwardi Suryaningrat.
Kemudian Raden Mas Suwardi Suryaningrat berganti nama Ki Hajar Dewantara.
Sebagai seorang pangeran merdeka yang membawahi beberapa wilayah kabupaten yang dikepalai oleh bupati, sebenarnya Panembahan Notoprojo berhak memakai gelar raja sebagai Gusti Pangeran Adipati tetapi ia tidak suka menggunakan gelar tersebut. Ia adalah seorang yang berjiwa ulama dan kerakyatan. Dari perkawinan dengan putri bangsawan Mataram, Panembahan Notoprojo dikaruniai 2 (dua) anak laki-laki dan perempuan, yaitu Nyi Ageng Serang yang masa kecilnya bernama Raden Ajeng Kustiah dan kakaknya Pangeran Notoprojo Muda. Bagaimana juga, ia adalah seorang muslimat yang terdidik dalam soal-soal falsafah agama dan ilmu kerohanian. Inti ajarannya yang berdasarkan falsafah agama Islam, ialah Cinta-Kasih.

Sesudah kerajaan Majapahit runtuh, kerajaan Mataram timbul menjadi kerajaan Islam sejati. Di bawah pemerintahan Sultan Agung Hanyakra Kusumo yang bertakhta dari tahun 1613 hingga 1645. Berbeda dengan ayahnya, sikan Sunan Amangkurat I terhadap kompeni Belanda sangat lunak. Sebagai imbalannya, Sunan memberikan hadiah yang sangat berharga kepada kompeni Belanda. Seluruh bumi Kerawang, bagian barat bumi Priangan dan kota Bandar Semarang, diserahkan olehnya. Pada tahun 1741, berkobar lagi peperangan dahsyat yang disebut “Geger Pacina” atau “Geger Cina”.
Pemberontakan yang dipimpin oleh Raden Mas Garendi, cucu Sunan Amangkurat III, mendapat dukungan dan bantuan dari orang-orang Cina disebut “Geger Cina”. Sesuai dengan bunyi fatsal-fatsal yang tercantum dalam “Perjanjian Ponorogo”, Sunan Paku Buwono menghadiahkan seluruh wilayah pantai utara Pulau Jawa kepada Belanda. Ini berarti bahwa Mataram telah kehilangan pintu-pintu perdagangan dengan luar negeri. Kejadian itu mengecewakan adik Sunan Paku Buwono sendiri yang bernama Pangeran Mangkubumi.

Pangeran Mangkubumi dengan diiringi keluarga dan pengikut-pengikutnya meninggalkan Surakarta, menuju ke desa Sokawati. Dari silsilah Pangeran Mangkubumi mulai mengadakan pemberontakan. Pangeran Mangkubumi bertujuan mulia. Ia bercita-cita menghalau penjajah Belanda dari bumi Mataram, dan membebaskan Sri Sunan dari cengkeraman penjajah. Pemberontakan Pangeran Mangkubumi yang dibantu oleh Panembahan Notoprojo dapat bertahan lama dan menyebar ke seluruh wilayah Mataram. Panembahan Notoprojo sangat kecewa karena di saat itu pasukannya telah berhasil membinasakan beratus-ratus pasukan Belanda di Srondol dan Meranggen. Kerajaan Mataram dipecah menjadi dua kerajaan. Sebahagian dinamakan Surakarta dan sebahagian lagi dinamakan Yogyakarta. Kerajaan Surakarta diperintahkan oleh Sunan Paku Buwono, sedangkan kerajaan Yogyakarta diperintahkan oleh Pangeran Mangkubumi yang kemudian bergelar Sultan Hamangku Buwono I.

Selama Raden Ajeng berada di keraton Sultan di Yogyakarta, pada waktu itu para sarjana sejarah keraton sedang sibuk menyusun buku sejarah “ Babad Giyanti” yang mengisahkan perjuangan Pangeran Mangkubumi ketika mendirikan Kasultanan Yogyakarta. Di antara sekian banyak buku yang terdapat di dalam perpustakaan itu ada beberapa buah buku yang sangat digemari Raden Ajeng Kustiah, antara lain buku “Sastra Gending” dan “Surya Alam” karangan Sultan Agung Hanyakra Kusumo, dan “Kitab Topah”, terjemahan dari bahasa Arab.

Dijelaskan bahwa buku “Sastra Gending” itu berisi ajaran falsafah dan pandangan hidup Sultan Hanyakra Kusumo tentang seni, sastra, pendidikan dan kebudayaan sesuai dengan ajaran-ajaran Al-Qur’an. Sedang buku “Surya Alam” adalah kitab undang-undang hukum pidana yang disusun oleh Sultan Agung pula berdasarkan ajaran-ajaran Islam. Dan “Kitab Tobah” adalah terjemahan karangan sarjana Arab yang bernama Seikh Ibn Hajr. Raden Ajeng Kustiah telah berhasil merubah wajah istana keputrian. Ia berhasil memberantas keinginan hidup bermewah-mewah, memberantas kemalasan dan kemanjaan yang menjurus kepada keborosan hidup. Penampilan Raden Ajeng Kustiah di antara para puteri keraton benar-benar mempesona hati Raden Mas Sundoro Karna. Rasa cinta yang mendalam, dan keinginan agar cinta kasihnya abadi, maka tatkala puteri Serang itu menyatakan keinginannya hendak pulang ke Serang, memenuhi panggilan orang tuanya, Raden Mas Sundoro meluluskannya, meskipun hatinya tak memperkenankannya.

Sesudah Dyah Ayu Pulangyun dan anak-anaknya melarikan diri dari Yogyakarta, terjadilah perubahan-perubahan besar di keraton Yogyakarta. Segala perubahan itu terjadi atas persetujuan dan dukungan Gubernur Jenderal Raffles.

Tindakannya untuk mengakui kedaulatan Sultan Hamengku Buwono II rupanya hanya siasat belaka guna memberikan kesan baik kepada Sri Sultan. Raffles telah memaksakan Sultan Hamengku Buwono II untuk melepaskan beberapa wilayah.

Menghadapi sikap keras Sultan, segera Raffles mengirim tentara ekspedisinya ke Yogyakarta untuk menggempur keraton. Segera sesudah berita musibah itu sampai ke Serang, Nyi Ageng Serang segera bertolak ke Yogyakarta untuk melihat keadaan puteri dan cucunya yang bernama Raden Mas Notoprojo yang sudah cukup dewasa. Oleh Nyi Ageng Serang, Gusti Mangkudiningrat dan Raden Mas Notoprojo dibawa pulang ke Serang. Sementara itu di Yogyakarta berlangsung penobatan raja baru. Pangeran Mangkubumi III untuk kedua kalinya naik takhta kerajaan, dengan gelar Sultan Hamengku Buwono III. Sultan ketiga ini adalah ayah Pangeran Diponegoro.

Judul buku : Nyi Ageng Serang Api di Tengah Peperangan
Pengarang : Bambang Sokawati Dewantara
Penerbit : Roda Pengetahuan
Tahun terbit : 1981
Jumlah halaman : -