Tuesday, June 05, 2007

ANALISIS TOKOH DAN NILAI BUDAYA NOVEL AZALEA JINGGA

Latar Belakang Masalah

Keberadaan karya sastra merupakan sesuatu yang tidak asing lagi bagi manusia. Sastra tumbuh dan berkembang eksistensi manusia. Sastra dapat mempengaruhi hasil pikiran, perasaan dan tingkah laku individu karena sastra merupakan bagian dari sejarah kehidupan. Sastra adalah ekspresi pikiran dalam bahasa atau inspirasi oleh Jakob Sumardjo (1986 : 3) bahwa karya sastra adalah ungkapan pribadi manusia yang berupa pengalaman, pemikiran, perasaan, ide, semangat keyakinan dalam suatu bentuk gambaran kongkret yang membangkitkan pesona dan bahasa sebagai alat dan bahasa tersebut merupakan sarana untuk menyampaikan ide-ide atau perasaan pengarang kepada pembaca.

Karya sastra diciptakan oleh pengarang bukan semata-mata untuk memperoleh kepuasan pribadi saja, tetapi harus dapat dinikmati, dipahami dan berguna bagi pembaca. Membaca karya sastra maka akan mampu memberikan efek kepuasan batin, kenikmatan dan kesegaran pikiran serta pemahaman mendalam tentang manusia dan kehidupan. Ide penciptaan karya sastra diilhami dari pengalaman hidup pengarang sebagai anggota masyarakat, ia merekam berbagai peristiwa-peristiwa, tata nilai dan pandangan hidup dalam masyarakat. Melalui karyanya ia bermaksud menyampaikan suatu pesan kepada orang lain tentang permasalahan hidup.

Karya sastra lain dari masyarakat, untuk masyarakat dan milik masyarakat. Karya sastra tersebut harus dipahami dan dinikmati berdasarkan konvensi sastra dan bukan dengan konvensi ilmu pengetahuan, sebab karya sastra merupakan dunia rekaan yang tercipta melalui proses pemahaman, penafsiran dan penelitian. Dengan demikian, dua rekaan karya sastra tentang kehidupan, baik yang dialami oleh dirinya sendiri maupun orang lain.

Mursal Esten (1987 : 8) berpendapat bahwa sebuah karya sastra mengungkapkan masalah-masalah manusia dan kemanusiaan, hidup dan kehidupan. Suatu karya sastra diciptakan dengan tujuan untuk menghibur, selain itu dapat diharapkan untuk memberikan pengalaman jiwa bagi pembaca. Pengalaman jiwa tersebut dapat menambah kekayaan batin pembaca, sehingga pembaca akan lebih peka dalam menghadapi persoalan hidup yang dialaminya. Karya sastra sebagai suatu karya seni merupakan suatu hal yang senantiasa menarik untuk dikaji dan diteliti. Meneliti suatu karya sastra harus benar-benar obyektif berdasarkan kenyataan serta didasarkan pada teori-teori yang ada.

Mursal Esten (1990 : 8) mengatakan bahwa sebuah cipta sastra mengungkapkan tentang masalah-masalah manusia dan kehidupan, tentang makna hidup dan kehidupan, ia melukiskan penderitaan-penderitaan manusia, perjuangannya kasih sayang dan kebenaran, nafsu dan segala yang dialami manusia. Melalui cipta sastra pengarang mau menampilkan nilai-nilai yang lebih tinggi dan lebih agung, akan menafsirkan tentang makna hidup dan kehidupan.

Membaca karya sastra besar akan dapat menolong pembacanya menjadi manusia yang berbudaya. Manusia berbudaya adalah manusia yang responsif terhadap apa-apa yang luhur dalam hidup ini. Manusia itu selalu mencari-cari nilai kebenaran, keindahan, kebaikan. Salah satu cara memperoleh nilai-nilai itu adalah lewat pergaulan dengan karya-karya seni termasuk karya-karya besar (Sumardjo dan Saini K.M., 1986 : 9).
Kualitas sebuah karya sastra dikatakan baik tidak hanya dapat dilihat dari keindahan pengarang dalam merangkai kata-kata. Zainudin Fararre (2001 : 73) menegaskan bahwa karya sastra yang hanya bagus dalam salah satu aspeknya belum dapat dikatakan sebagai karya sastra yang berkualitas atau sastra yang baik. Begitu pula karya sastra yang tidak mudah dipahami oleh setiap orang tidak bisa langsung disebut sebagai sastra yang kurang berkualitas. Karya sastra diciptakan oleh pengarang untuk dinikmati, dipahami dan dimanfaatkan oleh masyarakat (Darmono, 1979 : 1). Sastra menampilkan gambaran pola pikir, perubahan tingkah laku budaya dan lain sebagainya. Dengan kata lain, karya sastra merupakan potret segala aspek kehidupan sosial dengan segala permasalahan yang terjadi di masyarakat.

Manusia berbudaya adalah harus yang responsif terhadap sesuatu yang luhur dalam kehidupan, selalu mencari nilai kebenaran, keindahan dan kebaikan. Kebiasaan membaca karya sastra akan membentuk manusia menjadi yang berguna, berperasaan luhur dan mulia (Sumardjo dan Sains, 1997 : 9). Novel merupakan karya sastra yang terpopuler, merupakan karya sastra berbentuk prosa fiksi yang bersifat imajinatif. Karena sifatnya itu, novel mampu memberi citra atau bayangan-bayangan tertentu di dalam benak penikmatnya. Semua akibat yang ditimbulkan ini tercipta karena pengaruh teknik bercerita yang disajikan oleh pengarang. Pengarang akan selalu berusaha mempengaruhi pembaca melalui pilihan bunyi-bunyi bahasa, pilihan kata, susunan kalimat, penampilan tokoh maupun teknik penciptaan suspennya.

Novel Azalea Jingga adalah salah satu bentuk karya sastra dimana di dalamnya menceritakan tentang manusia sebagai anggota masyarakat yang memiliki ataupun diatur oleh nilai budaya., hal ini tidak asing bagi penulis dan begitupun juga para penikmat sastra. Penulis merasa tertarik untuk menjadikan novel Azalea Jingga sebagai obyek penelitian ini karena dalam novel ini banyak mengisahkan ataupun menceritakan problematika kehidupan orang Barat yang telah menikah dengan seroang patriot Indonesia yang kemudian dia tengah tinggal di tanah air dan mampu menyesuaikan dengan budaya tanah air. Dalam novel ini tokoh-tokoh yang ada di dalamnya banyak mengalami suatu permasalahan hidup, sebagai makhluk yang sempurna dan kuat serta tegar dalam menjalani kehidupan. Alur yang terdapat dalam novel ini adalah alur sedih serta didominasi oleh alur tragis dimana sang tokoh ataupun pelaku selalu mengalami kemalangan tetapi dia mencoba tegar dan novel ini berakhir dengan kesedihan secara tragis.

Novel Azalea Jingga membicarakan masalah percintaan, seks ataupun kebiasaan-kebiasaan orang Barat. Novel ini merupakan pentas romantika sejarah yang memanggungkan api percintaan seorang pejuang kemerdekaan dengan seorang perempuan berdarah Yahudi. Novel Azalea Jingga ini sangat berani dan garang dalam membicarakan pengkhianatan, percintaan yang bercampur dengan perselingkuhan, berakhir dengan kematian. Naning Pranoto memaparkan masalah-masalah ketabahan hati seorang perempuan yang dikhianati tetapi dia tetap bertahan hidup demi anaknya. Novel Azalea Jingga banyak menyinggung tentang nilai budaya yang berlaku pada diri tokoh ataupun pelaku serta masyarakat yang terlibat di dalamnya, maka dari itu penulis ingin mencari tahu bagaimana peranan nilai budaya dan fungsi nilai budaya dalam mengatur tingkah laku atau kepribadian tokoh yang terdapat dalam novel Azalea Jingga.

Identifikasi Masalah

Dalam upaya menemukan permasalahan yang muncul perlu adanya suatu langkah awal, yaitu dengan mengidentifikasi masalah. Adapun identifikasi masalah nilai budaya dalam novel Azalea Jingga adalah sebagai berikut :
  1. Nilai budaya yang terkandung dalam novel Azalea Jingga.
  2. Perwujudan nilai-nilai budaya yang terdapat dalam novel Azalea Jingga.
  3. Pemilihan nilai-nilai budaya oleh pengarang untuk menuntut tokoh-tokoh dalam menghadapi permasalahan hidup yang terdapat dalam novel Azalea Jingga.

Pembatasan Masalah

Mengingat sekian banyak masalah yang muncul sebagaimana dalam identifikasi masalah, maka perlu kiranya dibatasi masalah yang akan dibahas, diantaranya adalah sebagai berikut :
  1. Nilai budaya yang terkandung dalam novel Azalea Jingga
  2. Perwujudan nilai budaya yang terdapat dalam novel Azalea Jingga.
  3. Pemilihan nilai-nilai budaya oleh pengarang untuk menuntut tokoh-tokoh dalam menghadapi permasalahan hidup yang terdapat dalam novel Azalea Jingga.

Perumusan Masalah

Berdasarkan perumusan masalah di atas, maka penulis dapat merumuskan masalah sebagai berikut :
  1. Bagaimana nilai budaya yang terkandung dalam novel Azalea Jingga?
  2. Bagaimana perwujudan nilai budaya yang terdapat dalam novel Azalea Jingga?
  3. Bagaimana pemilihan nilai budaya oleh pengarang untuk menuntut tokoh-tokoh dalam menghadapi permasalahan hidup yang terdapat dalam novel Azalea Jingga?

Tujuan Penelitian

Sesuai dengan perumusan masalah, tujuan yang ingin dicapai melalui penelitian ini adalah :
  1. Mendeskripsikan nilai budaya yang terdapat dalam novel Azalea Jingga.
  2. Mendeskripsikan perwujudan nilai-nilai budaya yang terdapat dalam novel Azalea Jingga.
  3. Mendeskripsikan pemilihan nilai budaya oleh pengarang menuntut tokoh-tokohnya dalam menghadapi permasalahan hidup dalam novel Azalea Jingga.

Manfaat Penelitian

Manfaat Teoritis

Hasil penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat bagi pembaca dalam dunia sastra berkaitan dengan model pemahaman terhadap novel Indonesia, yaitu Azalea Jingga terutama dari segi sosiologi sastra.

Manfaat Praktis

Hasil penelitian ini dapat digunakan pembaca untuk memperoleh informasi yang jelas mengenai nilai budaya. Selain itu, hasil penelitian ini diharapkan akan menjelaskan dengan segala kehidupan dan berbagai masalah dalam nilai budaya.

Rancangan Penelitian

Penelitian ini akan dipresentasikan dalam lima bab, yaitu :

Bab I :
Pendahuluan terdiri dari latar belakang masalah, identifikasi masalah, pembatasan masalah, tujuan penelitian dan manfaat penelitian.

Bab II :
Kajian Pustaka, terdiri dari pengertian nilai budaya, tokoh dan penokohan, pendekatan sosiologi sastra, frekuensi nilai budaya.

Bab III :
Metode Penelitian

Bab IV :
Analisis dan Pembahasan

Bab V :
Kesimpulan dan Saran

KAJIAN PUSTAKA


Hakikat Novel Sebagai Bentuk Karya Sastra

Novel adalah salah satu jenis karya sastra yang menampilkan rangkaian cerita kehidupan seseorang dengan orang-orang di sekelilingnya. Novel juga dapat menonjolkan watak dan sifat tokoh-tokoh cerita dengan permasalahan kehidupan selain dapat dinikmati sebagai media hiburan juga di dalamnya terdapat nilai-nilai yang bermanfaat bagi pembaca dalam kehidupan sehari-hari. Novel merupakan pengungkapan dari fragmen kehidupan manusia dalam jangka yang lebih panjang dimana terjadi konflik-konflik yang akhirnya menyebabkan terjadinya perubahan jalan hidup antara pelakunya. (Suhardjo, 1989 : 35)

Novel pada dasarnya merupakan bentuk penceritaan tentang kehidupan manusia yang bersifat fragmentaris. Teknik pengungkapannya bersifat padat dan antar unsurnya merupakan struktur yang terpadu. Novel menceritakan suatu kejadian yang luar biasa dari kehidupan para tokohnya. Dari kejadian itu terlukis suatu konflik, pertikaian yang menentukan nasib para tokohnya. (Nurgiyantoro, 1995 : 30).

Fungsi karya sastra (novel) adalah selain menghibur juga memberikan sesuatu yang dibutuhkan manusia pada umumnya, berupa nilai-nilai agung yang sering lepas dari pengamat dan pengalaman hidup sehari-hari. Menurut Suhariyanto (1982), fungsi karya sastra bukan semata-mata untuk memberikan hiburan kepada peminatnya melainkan juga memberikan suatu yang dibutuhkan manusia pada umumnya, yaitu nilai-nilai yang anggun dan agung yang sering terlepas dari pengamat dan pengalaman sehari-hari.

Sementara Sumardjo (1988 : 78) juga berpendapat bahwa novel menceritakan sesuatu kejadian yang luar biasa karena dari kejadian itu terlahir konflik, suatu tikaian yang mengalihkan jurusan nasib mereka. Pendapat yang sama juga dikemukakan oleh Esten (1989 : 12) yang mengemukakan bahwa novel merupakan pengungkapan fragmen kehidupan manusia dimana terjadi konflik-konflik yang akhirnya menyebabkan terjadinya perubahan jalan hidup antara pelakunya. Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa novel adalah pengungkapan tentang fragmen kehidupan manusia, dimana dalam fragmen kehidupan itu terjadi konflik-konflik atau pertikaian yang akhirnya menyebabkan terjadinya perubahan nasib para tokoh dalam cerita itu.

Novel sebagaimana bentuk karya sastra lainnya terdiri dari unsur-unsur pembentuk yaitu unsur intrinsik dan unsur ekstrinsik. Unsur intrinsik adalah unsur struktural formal yang membangun karya sastra dari dalam. Unsur-unsur tersebut antara lain tema, penokohan, alur, latar, judul, sudut pandang, gaya dan suasana. Unsur ekstrinsik adalah unsur-unsur dari dunia luar karya sastra yang berpengaruh. Unsur-unsur itu antara lain ekonomi, politik, sejarah, filsafat, pendidikan dan psikologi (Esten, 1984 : 20-22). Nurgiyantoro (1995 : 4) berpendapat bahwa novel sebagai karya fiksi menawarkan sebuah dunia, dunia yang berisi model kehidupan yang diidealkan, dunia imajiner yang dibangun melalui berbagai unsur intrinsiknya seperti peristiwa, plot, tokoh dan penokohan sudut pandang dan lain-lain yang kesemuanya tentu saja bersifat imajiner.

Pengertian Nilai Budaya

Nilai budaya adalah hasil budaya yang berupa konsep abstrak mengenai masalah dasar yang sangat penting dan bernilai dalam kehidupan manusia. Menurut Koentjoroningrat (1984 : 25), nilai budaya adalah tingkat pertama kebudayaan lokal dan adat. Nilai budaya adalah lapisan paling abstrak dan luas ruang lingkupnya. Tingkat ini adalah ide-ide yang mengkonsepsi hal-hal yang paling bernilai dalam kehidupan masyarakat. Selain itu, sistem nilai budaya terdiri atas konsepsi yang hidup dalam alam pikiran sebagian besar warga masyarakat mengenai hal-hal yang harus mereka anggap bernilai dalam kehidupan. Oleh karena itu, suatu sistem nilai budaya biasanya berfungsi sebagai pedoman tertinggi bagi kelakuan manusia sebagai pendorong pembangunan, khususnya watak.

Karya sastra merupakan budaya dan ekspresi kehidupan bangsa sebagai wujud pelestarian nilai-nilai budaya. Menurut Soetjipto (1992 : 108), nilai budaya merupakan akar dari segala nilai dan norma yang dianut oleh masyarakat. Nilai dan norma ini mempengaruhi alam pikiran, cita-cita dan perbuatan (cipta, rasa dan karsa) masyarakat dalam kehidupan. Alam pikiran, cita-cita dan perbuatan inilah yang pada gilirannya melahirkan persepsi, sikap dan perbuatan manusia dan masyarakat terhadap alam sekitar, terhadap sesama dan terhadap pengelolaan sumber-sumber daya yang digunakan untuk menjamin kelangsungan hidupnya.

Setelah mengamati latar belakang permasalahan yang akan diteliti novel Azalea Jingga karya Naning Pranoto karena belum ada yang menganalisis nilai budayanya. Oleh karena itu, penulis tertarik untuk meneliti novel tersebut terutama tentang nilai budaya.

Tokoh

Tokoh merupakan individu rekaan yang mengalami kejadian dalam berbagai peristiwa dalam sebuah cerita rekaan (Sudjiman, 1991 : 17). Wellek dan Waren mengatakan bahwa tokoh merupakan jalan memahami keadaan jasmani dan rohani tersebut yang sederhana untuk menggambarkan watak adalah dengan memberik makna (Wellek dan Waren, 1989 : 287). Tokoh dapat disimpulkan bahwa tokoh adalah rekaan pengarang yang mengalami peristiwa secara langsung dalam cerita. Nurgiyantoro (1995 : 176) membagi tokoh cerita ke dalam tokoh utama dan tokoh tambahan.

Tokoh utama adalah tokoh yang memegang peranan penting ditampilkan dari awal sampai akhir cerita (bersifat terus-menerus). Ia merupakan tokoh yang paling banyak diceritakan, baik sebagai pelaku kejadian maupun yang dikenai kejahatan. Tokoh utama paling banyak diceritakan dan berhubungan dengan tokoh-tokoh lain sehingga menentukan perkembangan alur secara keseluruhan.

Tokoh tambahan, adalah tokoh yang kehadirannya untuk melengkapi tokoh utama, ditampilkan untuk memecahkan suatu permasalahan yang dihadapi oleh tokoh utama.
Tokoh utama dibagi tokoh protagonis dan tokoh antagonis (Sudjiman, 1991 : 18-19). Tokoh protagonis adalah tokoh yang ditampilkan selalu relevan dengan kejadian. Karya sastra harus memiliki konflik sehingga konflik itu akan menentukan adanya suspense yang sering dialami oleh tokoh protagonis.
Tokoh antagonis, adalah tokoh yang hadir hanya menunjang kehadiran tokoh protagonis. Tokoh yang menyebabkan adanya konflik disebut tokoh antagonis.

Thursday, May 24, 2007

Perjuangan Bangsa Indonesia dalam Mempertahankan Kemerdekaannya

Pasca proklamasi kemerdekaan 17 Agustus 1945, perjuangan bangsa Indonesia belum selesai. Bangsa Indonesia harus mempertahankan kemerdekaan dari berbagai ancaman, hambatan dan gangguan baik dari dalam maupun luar negeri. Berikut ini adalah beberapa peristiwa yang berhubungan dengan pendaratan pasukan Sekutu di berbagai wilayah di Indonesia.

Pertempuran 10 November 1945 di Surabaya


Di Surabaya, teks proklamasi dimuat di Surat Kabar Soeara Asia pada tanggal 20 Agustus 1945. Para pemuda dan rakyat Surabaya melakukan berbagai usaha untuk menegakkan kemerdekaan di Surabaya. Usaha rakyat Surabaya ini mendapat halangan dari Jepang dan para Indo-Belanda yang ada di Surabaya.
Melihat gelagat yang kurang baik, rakyat Surabaya melakukan aksi penempelan poster dan plakat pada gedung-gedung di Surabaya. Pada tanggal 16 September 1945, para pemuda menyerbu gudang senjata milik Jepang dan merampas senjata tersebut.
Kejadian awal yang menandai pergolakan di Surabaya adalah terjadinya insiden di Hotel Yamato. Para pemuda menurunkan bendera Belanda yang berkibar di hotel tersebut. Mereka merobek warna biru pada bendera tersebut sehingga yang tertinggal hanya warna merah putih. Peristiwa di Hotel Yamato tersebut dikenal dengan Peristiwa Insiden Bendera.
Pada tanggal 25 Oktober 1945, pasukan Sekutu di bawah pimpinan Brigadir Jenderal Aulbertin Walter Sothern Mallaby mendarat di Surabaya. Tentara Sekutu mendapat tugas untuk melucuti senjata serdadu Jepang. Namun, tentara Sekutu kemudian menyerang penjara Kalisosok pada tanggal 26-27 Oktober 1945 untuk membebaskan tawanan Belanda. Mereka juga menduduki pangkalan udara Tanjung Perak, Kantor Pos Besar dan objek vital lainnya.
Tindakan tentara Sekutu tersebut menimbulkan kemarahan rakyat Surabaya. Mereka kemudian menyerang seluruh pos tentara Sekutu di Surabaya pada tanggal 28 Oktober 1945. Dalam peristiwa tersebut, Brigardir Jendral Mallaby nyaris tewas. Para pemuda mengepung gedung Bank Internatio di Jembatan Merah dan menuntut agar pasukan Mallaby yang berada di dalam gedung tersebut menyerah.
Peristiwa pengepungan gedung Bank Internatio tersebut menyebabkan tewasnya Brigjen A.W.S. Mallaby. Atas terbunuhnya Brigjen A.W.S. Mallaby, Jenderal Christison memperingatkan rakyat Surabaya untuk menyerah. Namun rakyat Surabaya tidak menghiraukan peringatan Sekutu tersebut.
Selanjutnya pada tanggal 9 November 1945, Sekutu mengeluarkan ultimatum. Isi ultimatum yaitu semua pimpinan dan orang-orang Indonesia yang bersenjata harus melapor dan meletakkan senjata di tempat-tempat yang telah ditentukan. Selanjutnya mereka harus menyerahkan diri dan mengangkat tangan di atas kepala. Batas waktu ultimatum adalah pukul 06.00 tanggal 10 November 1945.
Rakyat Surabaya tidak mengindahkan ultimatum Sekutu tersebut. Pada tanggal 10 November 1945 di bawah pimpinan Bung Tomo, Sungkono, dan Gubernur Suryo, rakyat Surabaya bertempur melawan Sekutu untuk mempertahankan kemerdekaan.


Usaha Mempertahankan Kemerdekaan di Berbagai Daerah

Bandung Lautan Api

Sekutu memberikan instruksi kepada Jepang untuk melindungi warga Belanda. Usaha Jepang untuk mempertahankan kota Bandung mendapat perlawanan dari rakyat Bandung. Pada waktu itu, pemimpin tentara Jepang di Bandung adalah Jenderal Mabuchi.
Tentara Sekutu mendarat di Bandung pada tanggal 17 Oktober 1945. Untuk memperlancar pasukan Sekutu memasuki kota Bandung, tentara Jepang melakukan pembersihan kota.
Pada tanggal 21 November 1945, Sekutu mengeluarkan ultimatum agar rakyat Bandung mengosongkan Bandung Utara, tetapi rakyat menolak sehingga terjadi pertempuran. Pada tanggal 23 Maret 1946, Sekutu mengeuarkan ultimatum kedua. Akhirnya rakyat mengosongkan kota Bandung Selatan dengan membumihanguskan kota Bandung.

Palagan Ambarawa

Pertempuran Ambarawa terjadi pada tanggal 20 November 1945. Peristiwa tersebut berawal ketika Sekutu mendarat di Semarang diboncengi oleh NICA. Mereka kemudian membebaskan tawanan Belanda yang ditawan di Magelang dan Ambarawa secara sepihak. NICA kemudian mempersenjatai para tawanan tersebut. Peristiwa tersebut terjadi pada tanggal 26 Oktober 1945. Pimpinan TKR di Ambarawa, Letkol Isdiman gugur dalam pertempuran tersebut. Kedudukannya diganti oleh Kolonel Sudirman.
Pertempuran antara Sekutu dengan TKR berhenti pada tanggal 2 November 1945 setelah Presiden Soekarno dan Jenderal Bathel mengadakan perundingan gencatan senjata. Namun ternyata setelah perundingan tersebut, Sekutu menambah kekuatan pasukan yang ada di Magelang. Pasukan Sekutu kemudian mulai menyerang perkampungan-perkampungan di Ambarawa.
Pada tanggal 11 Desember 1945, Kolonel Soedirman mempersiapkan penyerangan atas kota Ambarawa. Pertempuran di Ambarawa berakhir pada tanggal 15 Desember 1945. Peristiwa tersebut dikenal dengan nama Palagan Ambarawa.

Pertempuran Medan Area

Peristiwa Medan Area diawali dengan pendaratan tentara Sekutu di Medan di bawah pimpinan Brigjen T.E.D. Kelly pada tanggal 1945. Brigjen Kelly berusaha melemahkan gerakan rakyat Medan dengan menyampaikan ultimatum agar pemuda menyerahkan senjata pada Sekutu.
Pada tanggal 1 Desember 1945, Sekutu memperkuat kedudukannya dan memasang patok-patok di sudut kota. Pemasangan patok-patok tersebut disertai dengan pemasangan papan yang bertuliskan Fixed Boundaries Medan Area (Batas Resmi Wilayah Medan).
Para komandan satuan tempur TKR di Medan kemudian membentuk Komando Laskar Rakyat Medan Area. Puncak pertempuran Medan Area terjadi pada tanggal 10 Desember 1945.

Perundingan Linggajati

Karena perlawanan antara Indonesia-Belanda tak kunjung selesai, maka diadakan perundingan yang diprakarsai oleh Inggris. Pada tanggal 10-15 November 1946, diselenggarakan perundingan di Linggajati, dekat Cirebon yang dikenal dengan Perundingan Linggajati.
Delegasi Indonesia dipimpin oleh Perdana Menteri Sutan Syahrir, sedangkan delegasi Belanda dipimpin oleh Profesor Schermerson.
Adapun isi dari perundingan Linggajati yaitu :
  1. Belanda mengakui kekuasaan de facto RI atas Sumatra, Jawa dan Madura.
  2. RI dan Belanda bekerja sama membentuk Negara Indonesia Serikat yang terdiri dari Negara Republik Indonesia, Negara Indonesia Timur dan Negara Kalimantan.
  3. NIS dan Belanda merupakan suatu uni yang dinamakan dengan Uni Indonesia-Belanda dengan Ratu Belanda sebagai ketuanya.
Perjanjian Linggajati ditandatangani pada tanggal 25 Maret 1947 di Istana Rijswijk/Istana Merdeka.

Agresi Militer Belanda I

Pada tanggal 21 Juli 1947, Belanda melanggar isi perundingan Linggajati dengan melancarkan Agresi Militer Belanda I. Agresi tersebut mengundang kecaman dunia. India dan Australia mengajukan usul agar masalah Indonesia-Belanda dibahas dalam Dewan Keamanan PBB. Pada tanggal 1 Desember 1947, Dewan Keamanan PBB memerintahkan penghentian tembak-menembak.

Perundingan Renville

Dewan Keamanan PBB menawarkan suatu komisi yang dikenal dengan sebutan Komisi Tiga Negara (KTN) yang terdiri dari tiga negara, yaitu:
  1. Indonesia menunjuk Australia sebagai wakilnya yang kemudian menunjuk Richard Kirby.
  2. Belanda menunjuk Belgia sebagai wakilnya yang kemudian menunjuk Paul van Zeeland.
  3. Australia dan Belgia menunjuk Amerika Serikat sebagai penengah yang kemudian menunjuk Dr. Frank Graham.
KTN berhasil melaksanakan perundingan antara Belanda- Indonesia yang dilaksanakan di atas kapal induk AS, USS Renville.
Isi dari Perjanjian Renville adalah :
  1. Belanda hanya mengakui Jawa Tengah, Yogyakarta dan Sumatra sebagai bagian wilayah RI.
  2. Tentara RI ditarik mundur dari Jawa Barat dan Jawa Timur ke daerah RI di Yogyakarta.
Pada perundingan tersebut, delegasi Indonesia dipimpin oleh Mr. Amir Syarifudin, sedangkan Belanda diwakili oleh R. Abdul Kadir Widjojoatmojo.

Agresi Militer Belanda II

Pada tanggal 19 Desember 1948, Belanda kembali melancarkan Agresi Militer Belanda II dengan menyerbu lapangan terbang Maguwo Yogyakarta. Ir. Soekarno kemudian diasingkan ke Prapat dan Drs. Moh. Hatta diasingkan ke Bangka.
Menteri Kemakmuran Mr. Syafruddin Prawiranegara membentuk Pemerintahan Darurat Republik Indonesia (PDRI) yang berkedudukan di Bukittinggi, Sumatra Barat.
Dalam keadaan darurat tersebut, pimpinan TNI menginstruksikan kepada semua komandan TNI melalui Surat Perintah Siasat No.1 Bulan November 1948. Isi surat tersebut yaitu :
  • memberikan kebebasan kepada setiap komandan untuk melakukan serangan terhadap posisi militer Belanda.
  • memerintahkan kepada setiap komandan untuk membentuk kantong-kantong pertahanan (wehrkreise).
  • memerintahkan agar semua kesatuan TNI yang berasal dari daerah pendudukan untuk segera meninggalkan Yogyakarta dan kembali ke daerah masing-masing.

Serangan Umum 1 Maret 1949

Pada tanggal 1 Maret 1949, TNI melakukan serangan umum atas kota Yogyakarta. Serangan tersebut merupakan salah satu pelaksanaan Surat Perintah Siasat No.1/1948. Serangan Umum 1 Maret 1949 dipimpin oleh Letkol Soeharto.
Dalam serangan ini, Yogyakarta berhasil direbut kembali dalam waktu 6 jam. Keberhasilan serangan umum tersebut tidak lepas dari dukungan Sultan Hamengkubuwono IX dan rakyat Yogyakarta. Serangan Umum 1 Maret 1949 mempunyai arti penting bagi bangsa Indonesia, yaitu :
  1. meningkatkan rasa percaya diri dan semangat juang rakyat serta TNI yang sedang bergerilya.
  2. meningkatkan kepercayaan masyarakat Indonesia kepada TNI.
  3. mendukung perjuangan diplomasi.
  4. mematahkan moral Belanda.
  5. menunjukkan pada dunia internasional bahwa TNI masih mampu melakukan serangan.

Thursday, May 05, 2005

PENGARUH MENONTON TAYANGAN TELEVISI TERHADAP PRESTASI BELAJAR SISWA

Latar Belakang Masalah


Kemajuan teknologi dan komunikasi adalah salah satu faktor yang menunjang usaha pembaharuan pendidikan. Pemerintah dan masyarakat telah menyadari akan pentingnya pemanfaatan kemajuan teknologi komunikasi dalam rangka memperluas dan meningkatkan pelayanan pendidikan kepada masyarakat.

Televisi sebagai komponen komunikasi dalam proses pendidikan memiliki peran yang sangat efektif bagi transformasi informasi. Kehadiran televisi sebagai media elektronik yang bersifat audio visual ternyata memiliki daya tarik lebih besar dibandingkan media lainnya seperti radio dan surat kabar, yang tampaknya berimplikasi besar bagi kehidupan sosial.

Dalam kaitannya dengan siaran televisi swasta nasional Indonesia, harian Suara Merdeka menuliskan bahwa televisi merupakan media yang paling strategis untuk mempengaruhi perilaku anak, remaja dan generasi muda pada umumnya. Kultur baru yang disajikan oleh televisi akan membentuk sikap, perilaku dan kepribadian mereka. Generasi muda Indonesia saat ini adalah generasi yang mempunyai karakter atau ciri khas tersendiri. Sebagian dari mereka adalah "Generasi Televisi" generasi yang sikap, perilaku dan kepribadiannya banyak dibentuk oleh media TV. (Suara Merdeka, 20 Juni 1997).

Selain banyaknya waktu yang dihabiskan untuk menonton tayangan televisi, acara-acara atau program yang ditayangkan oleh televisi juga harus diperhatikan. Adegan-adegan dalam film-film dan program berita kriminal di televisi banyak menyajikan kekerasan, pelecehan seksual dan sebagainya. Tayangan seperti ini tidak mendidik. Tayangan kekerasan akan berdampak pada perilaku agresif dan anak akan menjadi kurang sensitive terhadap kekerasan. Anak-anak akan merasa bahwa kekerasan bukanlah sesuatu yang jelek, kekerasan hanyalah suatu bagian normal dari kehidupan. Ini memberi mereka ijin moral untuk terlibat pertengkaran dan mengalahkan orang lain. Anak-anak yang dibesarkan seperti ini dapat dipengaruhi oleh brutalitas di televisi untuk melakukan kejahatan yang kejam, termasuk pembunuhan.


Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang masalah diatas, maka perumusan bahan yang dapat dirumuskan sebagai berikut :
  1. Bagaimanakah pengaruh menonton tayangan televisi terhadap prestasi belajar siswa MAN Laboratorium Fakultas Tarbiyah UIN?
  2. Sejauh mana pengaruh menonton tayangan televisi terhadap prestasi belajar siswa MAN Laboratorium Fakultas Tarbiyah UIN ditinjau dari frekuensi menonton televisi dan program yang ditonton?
  3. Adakah perbedaan prestasi belajar siswa dilihat dari frekuensi menonton dan program yang di tonton?

Tujuan Penelitian


Adapun tujuan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut :
  1. Untuk mengetahui pengaruh menonton acara televisi terhadap prestasi belajar siswa MAN Laboratorium Fakultas Tarbiyah UIN.
  2. Untuk mengetahui sejauh mana pengaruh menonton tayangan TV terhadap prestasi belajar siswa MAN Laboratorium Fakultas Tarbiyah UIN ditinjau dari frekuensi menonton dan program yang ditonton.
  3. Untuk mengetahui perbedaan prestasi belajar siswa dilihat dari frekuensi menonton dan program yang di tonton?


Manfaat Penelitian


  1. Hasil penelitian ini diharapkan dapat sebagai bahan acuan orang tua dan guru dalam mengarahkan dan membimbing remaja untuk menggunakan waktunya dan memilih acara sebaik-baiknya.
  2. Untuk dapat melihat pentingnya pengaruh menonton tayangan TV terhadap prestasi belajar siswa sehingga dapat mengantisipasi hal-hal yang tidak diinginkan.

Telaah Pustaka


Berdasarkan penelusuran peneliti, terdapat beberapa penelitian yang bermakna sama yang dilakukan terdahulu. Diantara kajian-kajian pendahuluan, baik berupa buku, makalah maupun laporan penelitian yang berupa skripsi yang berhasil ditata oleh penulis misalnya :
  1. Pengaruh siaran televisi swasta terhadap motivasi belajar siswa sekolah dasar di Kecamatan Wirobrajan Kotamadya Yogyakarta yang ditulis oleh Nyamani, Mahasiswa Jurusan Tarbiyah Fakultas Ilmu Agama Islam UII Tahun 1996 menyatakan bahwa :
    Siaran televisi swasta mempunyai korelasi atau hubungan positif yang signifikan dengan motivasi belajar siswa sekolah dasar di Kecamatan Wirobrajan Kotamadya Yogyakarta. Dengan kata lain tinggi rendahnya motivasi belajar siswa dipengaruhi oleh siaran televisi swasta.
  2. Hubungan antara frekuensi menonton televisi dengan prestasi belajar siswa dalam bidang studi pendidikan agama Islam di SMAN Donoharjo, Ngaglik, Sleman, Yogyakarta yang ditulis oleh Tri Sunah Mahasiswa Jurusan Tarbiyah Fakultas Ilmu Agama Islam UII yang menekankan bahwa :
    antara tingkat frekuensi siswa dalam menonton acara-acara televisi menunjukkan korelasi negatif atau tidak mempunyai hubungan yang signifikan dengan prestasi belajar siswa, khususnya dalam bidang studi pendidikan agama Islam. Dengan kata lain bahwa tinggi rendahnya (tingkat frekuensi) waktu untuk menonton televisi tidak berhubungan dengan prestasi belajar siswa bidang studi pendidikan agama Islam.

Thursday, January 06, 2005

Usaha Kios Biru

BAB I
PEMBAHASAN

Gambaran Umum Kios Biru Kios
Biru didirikan oleh Bapak Achmad Kemuning sekitar dua tahun yang lalu. Kios ini berukuran 200 x 100 cm dan terletak di Jalan Bantul No. 52 Yogyakarta. Tempatnya cukup strategis karena terletak di dekat kampus dan perumahan masyarakat yang padat penduduknya.
Adapun pertimbangan Bapak Achmad Kemuning mendirikan Kios Biru adalah karena sekitar daerah tokonya ini tidak banyak orang yang berjualan. Radius toko yang berjualan di sekitar daerah itu adalah 100 meter. Maka dari itu dia melihat bahwa saingannya hanya sedikit dan pasar yang cukup baik.
Setelah beberapa tahun toko ini berdiri, Pak Achmad mencari teman yang dapat diajak bekerjasama untuk menjaga tokonya. Dan akhirnya dia mendapatkan 4 orang temannya yang bersedia bekerjasama, mereka adalah : Bapak Iskandar Bapak Morpil Bapak Bram Bapak Nunung

Sebagai owner atau pemilik Pak Achmad yang mengatur jadwal kerja para karyawannya. Selain itu Pak Achmad juga mempunyai tugas mencari barang dagangan yang hampir habis dan dia pula yang membagi hasil keuntungan. Kios Biru ini buka 24 jam jadi setiap karyawan mendapat jatah menjaga toko ini selama 6 jam dan mereka bertanggungjawab penuh atas kios tersebut. Manajemen penjualan di kios ini adalah barang yang dibeli oleh pembeli harus dicatat nama barang, harga dan banyak barangnya di dalam buku yang telah disediakan.

Macam Produk Yang Dijual
Barang-barang yang ada di Kios Biru ini tergolong lengkap untuk ukuran pedagang kecil. Produk yang dijual antara lain : obat, makanan ringan, mie instan, soft drink, sabun, shampoo, deterjen, telur, permen, majalah, koran, gula, teh, peralatan tulis menulis dll. Mereka mendapatkan suplai barang-barang mereka dari grosir yang cukup besar. Barang-barang yang sudah hampir habis dicatat, didaftar kemudian dipesan ke grosir dan grosir akan mengantarnya ke Kios Biru. Untuk majalah dan koran mereka mendapatkannya langsung dari agen.

Keunggulan Kios Biru
Salah satu keunggulan Kios Biru bila dibandingkan dengan toko-toko yang lain yang ada di sepanjang Jalan Bantul adalah kios ini BUKA 24 JAM. Jadi apabila ada seseorang yang mendadak memerlukan obat pada tengah malam, maka Kios Biru akan siap melayani. Selain itu, barang-barang yang dijual termasuk lengkap dan murah. Dan mungkin karena Pak Achmad dikenal sebagai orang yang baik hati dan supel oleh masyarakat sekitarnya, maka merekapun lebih senang membeli barang di Kios Biru.

Kelemahan Kios Biru
Satu-satunya kelemahan Kios Biru yang cukup dirasakan dari Kios Biru adalah luasnya yang hanya 200 x 100 cm saja, sehingga bagi orang-orang yang baru melihat pertama kali atau belum mengenal Kios Biru dengan baik pasti akan beranggapan kios ini tidak memiliki barang yang lengkap.

BAB II
PENUTUP
Kesimpulan
Kios Biru termasuk kedalam kelompok bisnis usaha kecil. Walaupun tempatnya hanya berukuran 200 x 100 cm, namun dengan kelebihannya yaitu buka 24 jam, Kios Biru mampu bersaing dengan toko-toko yang ada di Jalan Bantul pada khususnya. Keberhasilan suatu usaha kecil seperti Kios Biru milik Pak Achmad ini dicapai dengan kerja keras dan kepintaran memanfaatkan peluang bisnis yang ada, walaupun pada awalnya modal yang dipunyai tidak besar.
Saran
Saran yang penulis ingin sampaikan adalah agar Kios Biru memperluas tempat usahanya tersebut agar bagi calon konsumen yang baru pertama kali melihat tidak salah anggapan bahwa kios ini hanya menjual barang yang jumlahnya sedikit dan tidak lengkap.